Featured

Lukas 5:17-23

Minggu, 17 April 2016

Pdt. Michael P Kairupan

Lukas 5:17-23

(Lukas 5:17-23) Ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini, setiap kali mereka bertemu dengan Yesus, mereka sudah mempunyai kesimpulan sendiri karena mereka tidak menyukai Yesus sehingga apapun yang Yesus lakukan tetap dianggap tidak benar. Apa yang membuat seseorang menjadikan dirinya susah? Yesus berhadapan dengan ahli-ahli Taurat yang memusuhi Dia dari awal. Mereka merasa sangat terganggu, sebab kehadiran Yesus dalam pelayananNya menarik perhatian banyak orang karena Dia mengajarkan kebenaran yang disertai mujizat-mujizat. Orang-orang Farisi sangat membenci Yesus padahal Yesus sudah melakukan hal-hal yang baik dan benar untuk orang-orang Yahudi sendiri. Karena mereka tidak menghargai Yesus yang telah melakukan hal yang baik bagi masyarakat, contohnya orang lumpuh berjalan, orang buta bisa melihat, maka Yesus tidak bisa berbuat banyak.

Dalam Firman Tuhan ini, yang Yesus hadapi adalah orang-orang yang membutuhkan pertolongan misalnya orang lumpuh yang dibawa kehadapan Yesus. Agar orang sakit ini bisa ditolong dan menjadi sembuh, maka beberapa orang menurunkan orang lumpuh ini dari atap sampai ke tempat di mana Yesus ada. Keyakinan orang-orang ini begitu tinggi sampai Yesus berkata “Dosamu sudah diampuni, bangun dan berjalanlah.” Bagi orang Yahudi, wewenang untuk mengampuni dosa ada pada Tuhan sehingga ketika Yesus menempatkan diri dengan bahasa tadi, mereka menganggap bahwa Yesus sudah menghujat Tuhan. Dan ini yang dipakai untuk menyudutkan dan mempersalahkan Yesus.

Yesus melihat betapa jahatnya orang-orang ini dan kejahatan yang dinilai Yesus bukan berdasarkan pada sikap mereka melainkan pada pikiran mereka. Mereka telah menempatkan sebuah pemikiran yang salah dan akhirnya menimbulkan masalah bagi diri mereka sendiri. Sebenarnya yang harus mereka lihat adalah bagaimana Yesus sudah menolong orang. Jangan mempersoalkan sesuatu yang tidak pantas untuk dipersoalkan. Orang yang tadinya lumpuh, kini telah mengalami kesembuhan, bukankah lebih baik hal ini yang disyukuri? Tetapi karena orang-orang Farisi dan ahli Taurat sudah memilki kesimpulan sendiri dan telah menaruh benci pada Yesus maka apa saja yang Yesus lakukan, semua itu seakan-akan tidak berarti.

(1 Samuel 18:6-8) Ketika Daud pulang dari berperang, Perempuan-perempuan menyongsong raja Saul sambil menyanyi karena mereka tahu bahwa Saul adalah raja. Apa yang terjadi kemudian, menjelaskan tentang siapa Saul sebetulnya. Dalam nyanyian perempuan-perempuan ini mereka berkata “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” Perkataan ini, menyebalkan hati Saul. Mengapa? Karena Daud disanjung-sanjung oleh orang-orang ini melebihi pujian terhadap Saul.

Ditelinga Saul, pujian dari perempuan-perempuan ini seakan-akan menempatkan Saul di bawah dan Daud di atas. Saul menerima pujian ini berdasarkan perasaan bukan dengan otak. Kalau dengan otak, seharusnya Saul mengakui kemampuan Daud karena memang demikian kenyataannya. Namun karena kebencian yang begitu tinggi menyebabkan Saul tidak bisa mengakui akan hal ini. Saul tidak berpikir bahwa yang mengalahkan Goliat adalah Daud, itu sebabnya jika wanita-wanita ini memuji Daud maka ini adalah hal yang masuk akal. Ayat 8 dalam pembacaan diatas merupakan sebuah kesimpulan yang tidak beralasan. Saul takut jabatan raja akan jatuh ke tangan Daud. Saul membuat masalah bagi dirinya sendiri.

Jangan anda mempersalahkan orang-orang disekitar anda sebab terkadang sumber persoalan itu berasal dari diri anda sendiri. Ketika pikiran anda terbentuk salah maka akibatnya akan berbahaya sekali. Ayat 9, sejak hari itu Saul membenci Daud. Kalau dalam bahasa asli dikatakan, sejak saat itu Saul membenci Daud. Artinya, sejak pikiran Saul diisi oleh sebuah kesimpulan berdasarkan perasaan, maka Saul mendengki Daud. Persoalan ini bukan berasal dari Daud tapi berasal dari Saul sendiri yang tidak dapat menguasai pikirannya. Pikiran anda akan menentukan keputusan yang anda ambil dan keputusan itu akan menjadi tindakan anda.

(Lukas 5:25) Orang yang lumpuh tadi mengalami kesembuhan dan memuliakan Tuhan. Kalau seseorang tidak suka dengan apa yang Yesus lakukan, maka Dia tidak akan melakukan mujizat. Tapi dalam pembacaan ini kita bisa melihat mereka akhirnya memuliakan Allah. Mujizat bukan seperti sulap sebab mujizat dilakukan Tuhan untuk orang-orang yang Tuhan lihat akan memuliakan Dia. Ikutlah Tuhan dengan benar. Jika hari ini Tuhan belum memberkati anda, hargai apa yang ada padamu. Tuhan pasti akan menyiapkan sesuatu asalkan kita memuliakan dan meninggikan Dia selalu…Amin

Lukas 12:16-21

Minggu, 10 April 2016

Pdt. Michael P Kairupan

Lukas 12:16-21

Dalam perjalanan hidup kita, semua yang kita miliki termasuk diri kita sendiri adalah kekayaan yang luar biasa dari Tuhan. Pada saat tertentu, sebuah peristiwa yang tidak kita sangka, tidak kita duga seperti perjalanan hidup Ayub, tidak pernah dia bayangkan bahwa nanti akan ada bencana bagi dirinya. Singkat cerita Tuhan mengijinkan semua kekayaan-kekayaan Ayub yang dia rintis dari nol, dia kelolah dari awal, semua lenyap dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bahkan anak-anak yang dia cintai juga mengalami hal yang serupa. Tapi satu hal yang menarik adalah Ayub masih memiliki dirinya, hidupnya sebagai kekayaan yang penting dan merupakan sisa dari apa yang sudah lenyap. Ayub juga diserang oleh penyakit yang menimbulkan kekuatiran karena kemungkinan  penyakit ini akan menyebabkan kematian. (Ayub 1:20) Dibelakang peristiwa menyakitkan ini, Ayub menyembah Tuhan artinya Ayub menerima fakta menyakitkan didepannya sebagai konsekuensi dari ketetapan dirinya untuk percaya kepada Tuhan.

Ayub tahu bahwa apa yang dia alami adalah seijin Tuhan. Dalam pengakuannya pada pasal-pasal berikutnya, Ayub berkata bahwa kalau dia diuji maka dia akan keluar seperti emas (Ayub 23:10). Dalam (Lukas 12:13-21) dikatakan, kekayaan dari orang kaya ini tidak hilang, tapi yang hilang adalah pemilik dari kekayaan tersebut. Tidak ada salahnya kita merancang kehidupan kita kedepan, tetapi mengenyampingkan Tuhan sebagai Allah yang berdaulat atas diri kita, disinilah letak persoalannya. Orang kaya ini tidak ingat bahwa Allah yang mengatur semuanya. Dia menganggap dirinya dengan kekayaan itu, seperti dunia tersendiri dan diatas dia tidak ada lagi yang lain. itu sebabnya Tuhan menghentikan perjalanan hidup dari seseorang  yang hiburannya serta hatinya ada pada kekayaan.

                Belakangan ini kita terus melihat dan mendengar berita tentang kekayaan-kekayaan dari orang-orang tertentu disimpan disebuah negara yang menjanjikan keringanan atau rendahnya pajak untuk orang-orang yang niatnya ingin menyembunyikan seluruh kekayaan-kekayaan mereka di negara tersebut. Ada beberapa negara yang anda sendiri sudah tahu memiliki kebijakan ini. Jadi jika kita memiliki uang, kita bisa menyimpannya disana karena negara tersebut didukung dengan aturan yang mereka buat sendiri, menyebabkan uang kita akan aman. Apa yang terjadi sekarang ini menjelaskan bahwa kekayaan bagi seseorang sudah seperti Tuhan. Alkitab berkata, orang menjadi hamba uang pada akhir zaman (2 Timotius 3:1-2). Uang tidak salah, tetapi sikap atau pandangan seseorang terhadap uang akan menjadi sebab yang menentukan orang tersebut modelnya seperti apa. Apakah dia tidak berpikir tentang Tuhan sebab dia hanya melihat kekayaannya, atau ada faktor lain seperti Ayub yang menyadari bahwa hidup itu adalah Tuhan.  Kalaupun hidup adalah pilihan, maka menentukan pilihan yang tepat akan membawa dampak yang positif bagi pengambil keputusan itu sendiri.

(Lukas 6:24) Firman Tuhan berkata “Celakalah kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburan.” (Pengkhotbah 5:7-9) “Kalau engkau melihat dalam suatu daerah orang miskin ditindas dan hukum serta keadilan diperkosa, janganlah heran akan perkara itu, karena pejabat tinggi yang satu mengawasi yang lain, begitu pula pejabat-pejabat yang lebih tinggi mengawasi mereka. Suatu keuntungan bagi negara dalam keadaan demikian ialah, kalau rajanya dihormati di daerah itu.” Pertanyaannya adalah, apakah benar seseorang akan terhibur dan merasa nyaman dengan kekayaan yang dia pikir itu segalanya? Salomo berkata bahwa semua itu sia-sia. Salomo adalah orang terkaya dan pada masa pemerintahannya selama 40 tahun, dia mengumpulkan emas kurang lebih 666.000 talenta.

Dengan kekayaan yang begitu banyak, Salomo berpikir akan mudah untuk dia mendapatkan kesenangan-kesenangan yang dicari oleh banyak orang. Firman Tuhan berkata, celakalah orang yang menghibur diri dengan kekayaan (Lukas 6:24). (1 Korintus 6:9-10) Orang-orang kikir tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah karena mereka menjadi budak atas uang. Kitab pengkhotbah adalah kitab kesimpulan dari analisa perjalanan hidup. Salomo adalah anak Daud dari istrinya Batsyeba tapi dia kehilangan Tuhan dalam dirinya, setelah dia dikuasai oleh kekayaan. Orang memburu kekayaan alasannya Cuma satu yaitu supaya dia senang dan terhibur. Tapi apakah benar demikian? Salomo dengan uang yang dia punya, dia bisa membeli wanita-wanita yang merupakan simbol keindahan dan kesenangan. Namun Alkitab katakan bahwa Salomo tidak berhasil memuaskan dirinya. Keberhasilan Salomo menjadi orang terkaya waktu itu membuat bangsa-bangsa sekitarnya terkagum-kagum, tapi salomo terhadap dirinya tidak demikian. Kalau anda jujur anda akan berkata bahwa kita cuma bisa tenang dan nyaman didalam Tuhan.

Salomo berkata bahwa semua adalah sia-sia. (Pengkhotbah 5:9-10) Dengan kekayaan yang terus bertambah maka pengeluaran juga akan meningkat. Bukan soal kebutuhan melainkan keinginan. Kalau anda diberkati oleh Tuhan, anda harus bisa menikmatinya. Tuhan mau agar kita memiliki kemampuan untuk mengontrol diri kita sendiri, sebab jika tidak demikian, diujung sana nanti kita juga yang susah. (1 Timotius 6:6) Kalaupun Tuhan mengijinkan kita kembali ke titik nol, kita harus ingat bahwa dulu kita juga memulai dari nol. Artinya kita tidak perlu takut menghadapi kondisi yang ada. Tuhan akan membawa kita naik terus untuk menikmati berkat yang lebih besar ketika berkat-berkat yang ada sekarang ini kita syukuri. Alkitab berkata, waktu kita tidur Tuhan sudah siapkan berkat. Jadi Tuhan mempertimbangkan semua yang kita perlukan untuk hari esok. Bila kita tidak mensyukuri, kita mengundang kesulitan bagi diri kita sendiri.

 Anda tinggal memilih mau yang mana, dan anda tinggal menentukan sikap kedepan dimana hiburan yang anda inginkan akan anda dapatkan. Daud berkata, aku senang kalau orang berkata mari kita ke rumah Tuhan (Mazmur 122:1). Kesenangan Daud tidak terletak pada sejumlah kekayaan yang dia peroleh. Tidak salah jika Tuhan memberkati anda, akan tetapi kelolah baik-baik keuangan anda agar tidak ada istilah, lebih besar pasak daripada tiang. Kalau Tuhan sediakan hari ini rumah yang sederhana sebagai berkat, ucapakan “terima kasih Tuhan.” Berkat-berkat besar menjadi pertimbangan Tuhan untuk diberikan bilamana Dia melihat bahwa yang kecil kita syukuri. Hati-hatilah dengan semua berkat yang Tuhan beri. (1 Timotius 6:8) “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Kalau anda punya kemampuan untuk mengeluh mengapa anda tidak gunakan kemampuan itu untuk berterima kasih pada Tuhan. Berpikir terlebih dulu sebelum bertindak senantiasa lebih baik daripada sudah bertindak baru berpikir.

Artikel

Rahasia Keberhalisan

Minggu, 09 Agustus 2015 Pdt. Dance Wulur Kejadian 26: 1-33 (Kejadian 26:1-33) Alkitab adalah sebuah buku yang memberikan jawaban dalam segala pergumulan dan persoalan kita. Jika kita membaca dalam Alkitab maka ada banyak sekali contoh-contoh kehidupan orang yang bergaul dengan Allah memperoleh kemenangan di masa-masa yang  sulit. Dalam pembacaan ini menceritakan tentang seorang bernama Ishak yang diberkati Tuhan dalam situasi yang sulit bahkan ... more

Joy To The World

Ayat bacaan: Lukas 2:10-11 "Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." Bagaimana perjalanan anda di tahun 2014? Puji Tuhan jika anda mengalami tahun yang indah, tahun pemulihan atau bahkan tahun percepatan. Kalau itu bukan yang anda alami, selama anda tetap setia berjalan ... more

Loving God, Loving Each Other

1 Yohanes 4:8 "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." Hari ini kita belajar mengenai sesuatu yang ringan saja tapi tetap penting untuk kita renungkan dalam-dalam, yaitu mengenai kasih. Kasih adalah sesuatu yang mudah diucapkan tapi tidak mudah diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata. Mungkin mudah kalau kita menyatakan kasih kepada pasangan atau keluarga, tapi akan sulit saat itu berhubungan dengan orang ... more

More Posts from this Category