Menyatakan Kasih Kepada Tuhan

“Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” Mazmur 104:24

Bulan Februari adalah salah satu bulan favorit bagi kebanyakan orang. Di bulan ini kita akan merayakan hari kasih sayang, dan seperti banyak orang, kita merasakan bulan yang penuh dengan cinta. Love is in the air. Jika anda pergi ke pusat-pusat perbelanjaan atau restoran, maka anda akan menemukan berbagai hiasan yang melambangkan cinta. Serba merah, serba pink dengan logo hati yang bertebaran. Orang pun akan sibuk menyiapkan hadiah khusus buat orang-orang yang mereka cintai, mempersiapkan makan malam spesial dengan lilin yang akan terasa sangat romantis bersama pasangan masing-masing. Apakah Februari harus dijadikan satu-satunya bulan yang dijadikan bulan sepesial untuk cinta kasih? Tentu saja tidak. Alangkah baiknya jika kita bisa menjadikan setiap bulan seperti halnya bulan Februari, membuat orang-orang di sekitar kita merasakan kasih yang besar dari kita. Tetapi berbagai kesibukan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan lain seringkali menyita waktu kita dan membuat kita tidak cukup waktu untuk berbagi kasih dan kebahagiaan dengan orang-orang yang kita kasihi dan juga kepada orang lain. Setidaknya dalam setahun ada sebuah momen khusus yang bisa kita pakai untuk menyatakan kasih kepada orang-orang terdekat kita.

Ketika kita bersiap untuk memberikan sesuatu yang istimewa kepada kekasih, pasangan atau orang-orang yang kita cintai, apakah kita ingat untuk memberikan apresiasi kasih kita kepada Tuhan juga? Banyak orang yang lupa untuk itu. Padahal seandainya kita mau sedikit lebih merenungkan dan memperhatikan, kita sesungguhnya berjumpa dengan kasih Allah yang total setiap hari dalam banyak hal. Kesehatan yang masih kita rasakan, kesempatan yang masih diberikan, berbagai pertolongan dalam kesesakan, itu merupakan bentuk kasih Allah kepada kita. Udara yang bisa kita hirup dengan gratis, organ-organ tubuh yang berfungsi normal, akal budi, pikiran dan lain-lain, itupun merupakan bentuk kasihNya. Tuhan sangat mengasihi kita, begitu mengasihi hingga Dia pun rela mengorbankan AnakNya yang tunggal demi kita. (Yohanes 3:16). Bagaimana dengan pemandangan yang indah? Bunga-bunga yang berwarna warni dan harum, padang rumput yang hijau, langit biru, awan, bahkan matahari, bulan dan bintang-bintang, semua itu pun seakan menjadi surat cinta tersendiri dari Tuhan kepada manusia.

Pemazmur agaknya mengambil waktu sepanjang hari dari pagi sampai malam untuk mengagumi kasih Tuhan lewat penciptaan alam semesta beserta isinya ini seperti yang bisa kita lihat dalam Mazmur 104. Disana ia menggambarkan keindahan alam ciptaan Tuhan secara sangat puitis sebagai ungkapan kekagumannya. Bacalah Mazmur 104 secara utuh dan anda akan dibawa oleh penulisnya untuk merasakan betapa indahnya ciptaan Tuhan yang setiap saat bisa kita nikmati ini. Dan Pemazmur pun berkata, “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” (Mazmur 104:24). Karena itulah ia mengingatkan jiwanya agar senantiasa memuji Tuhan. “Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar!” (ay 1). Dan tidak lupa pula ia mengingatkan kita untuk tetap menyukakan hati Tuhan, karena apa yang telah Dia berikan kepada kita sesungguhnya sangatlah indah. “Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!” (Mazmur 104:31).

Alam semesta yang indah merupakan buah tangan Tuhan yang sungguh menunjukkan bukti ke-Ilahian Tuhan yang bisa kita nikmati secara kasat mata. Paulus pun menyinggung hal itu. “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” (Roma 1:20). Jika banyak orang yang meragukan eksistensi Tuhan, sesungguhnya lewat seisi dunia ini kita bisa menyaksikan sendiri bahwa Tuhan memang ada, dan Dia memang mengasihi kita secara begitu mendalam.

Jika demikian, apa yang bisa kita berikan kepadaNya sebagai balasan atas segala kebaikanNya? Perhatikan ayat berikut ini. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8). Atas semua keindahan luar biasa sebagai bukti ke-Ilahian Tuhan dan segala kebaikan lainnya yang Dia berikan kepada kita, apa yang diminta Tuhan sebenarnya sangatlah sederhana. Berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapanNya. Itulah yang bisa menyukakan hati Tuhan, membuatNya bersukacita atas kita. Betapa sedihnya Tuhan apabila kita menolak melakukan ini setelah Dia memberikan begitu banyak kebaikan sebagai bukti kasihNya setiap hari kepada kita. Bulan Februari adalah bulan yang spesial untuk menyatakan cinta dan kasih kita kepada orang-orang terdekat yang kita cintai. Itu sangatlah baik. Tetapi jangan lupakan pula untuk datang kepada Tuhan dan menyatakan kasih kita secara langsung. Tuhan akan sangat senang jika kita datang kepadanya tidak hanya membawa daftar permintaan atau permohonan, tetapi untuk mengucap syukur dan menyatakan bahwa kita menyadari kasihNya yang begitu besar kepada kita, dan menyampaikan kasih kita pula kepadaNya lewat keadilan, kesetiaan dan sebentuk hidup yang selalu rendah hati. Manfaatkanlah momen spesial di bulan kasih ini untuk menyatakan kasih kita bukan hanya kepada orang-orang yang dicintai, tetapi juga kepada Tuhan.

Tuhan menyatakan kasihNya setiap hari, apakah kita sudah menyatakan kasih kita kepadaNya?

Renungan Harian Online

Tuhan Kita Adalah Tuhan Yang Sangat Baik

Mazmur 16:2

Ketika Tuhan berbuat yang luar biasa, maka banyak orang yang berduyun-duyun hendak menjadikan Dia seorang yang sangat penting bagi mereka pada saat itu. Tetapi Tuhan mengundurkan diri, maka Tuhan tidak mempercayai dirinya kepada manusia. Itu sebabnya saya bisa pahami ketika raja Daud berkata dalam. Mazmur 16:2, ”Aku berkata kepada Tuhan Engkaulah Tuhanku tidak ada yang baik bagiku selain Engkau.” Saya paham sekali mengapa seorang raja dengan kekuasaanya yang luar biasa, financial yang luarbiasa berdiri dan menyatakan ini kepada bumi dan langit bahwa tidak ada yang seperti Tuhan dan tidak ada yang baik di seluruh dunia ini selain Allah.

Saudara-saudara, saya mencoba cari lebih dalam apa keistimewaan Yesus sehingga Dia disebut sebagai Mesias satu-satunya yang di pilih. Bukankah banyak Nabi yang memiliki kapasitas yang mirip seperti Yesus? Contoh, Seperti Musa, Elia, Petrus, dan lain-lain, mengapa?. Mari kita perhatikan dalam ayat ini. Lukas 2:40, ”Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-NYA.” Inilah sebab yang menjdikan Yesus bukan sekedar Nabi, bukan sekedar Raja, karena di dunia ini hanya Yesuslah yang punya kasih karunia Allah, makanya nama-NYA menjadi Juru Selamat dan orang yang punya kasih karunia inilah yang bisa memiliki predikat yang baik dalam hidup-NYA. Sebab itu saudara, pemazmur ini berkata: “Tidak ada yang baik kecuali Allah dan hanya Allah di dalam Yesus yang punya kasih karunia”. Karena Dia baik, maka Ia tidak pernah berhenti untuk menyertai kita sebagai orang yang percaya. Matius 28:20, ”dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu, dan ketahuilah Aku menyertaikamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” IMANUEL, Allah ada di dalam manusia sebab itu penyertaan-NYA sempurna

Jika saudara ada sampai di tahun 2012 ini, itu bukan rancanganmu, melainkan rancangan yang dari Tuhan yang tidak pernah berhenti menyertai kita di manapun dan bagaimanapun keadaan kita dan kita akan disertai sampai akhir kesudahan zaman. Matius 28:20, ”…Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Jika Dia Tuhan yang baik, maka Ia tidak akan berhenti menyertai kita sampai kesudahan, sebab itu saudara, Tuhan tidak percaya kita, tapi kita patut percaya kepada Tuhan.

Karena kita tidak baik, maka kita punya Tuhan yang baik yang punya kasih karunia. Sebab itu jangan pernah lupa ketika kita berada pada segala situasi di tahun 2012 ini, yang tidak pernah berhenti menyertai kita adalah Tuhan. Uang yang ada pada kita itu terbatas, keluarga yang menyertai kita itu juga terbatas, polotik yang menyertai kita itu terbatas, tetapi jika Tuhan yang menyertai kita sempurna adanya. Hidup ini singkat maka kita hanya dapat berkata terima kasih Tuhan, maka penyertaan Tuhan itu akan menjadi bagian kita dan Tuhan yang baik itu adalah Tuhan yang tidak pernah membiarkan dan meninggalkan kita. Roma 8:31,34, ”Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?, Kristus Yesus yang telah mati? bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi pembela bagi kita?” Biarlah kiranya di tahun 2012 ini kita jangan berjalan tanpa pembelaan Tuhan, boleh kita mempunyai kenalan, tetapi pembela yang mulia, pembela yang Agung dan sejati ialah Tuhan. Itulah yang menjadi dasar kehidupan kita orang yang percaya.

Matius 11:28, ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban bera, tAku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Daud berkata Allah yang baik, Tuhan kita yang baik dan yang penuh kasih karunia, Tuhan yang tidak pernah membuat kita tidak bahagia. Tuhan yang baik itu adalah Tuhan yang tidak pernah berhenti mengubah duka menjadi bahagia, merubah kesusahan menjadi kebahagiaan. Paulus berkata setelah aku bertemu dengan Yesus, maka segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini tidak berharga bagiku. Jadi saudara yang dikasihi di dalam Tuhan, karena Yesus itu baik dan penuh kasih karunia. kelegaan dan kebahagiaan berada dalam genggaman anda.

Jika anda pernah melihat batu karang dan ada orang berpegang kepadanya, lalu ada gelombang tinggi yang datang, semakin gelombang itu tinggi semakin ia mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai batu karang kehidupan itu.

Suatu kali di Perancis pernah dibuat suatu pertandingan. Di sana ditulis, coba gambarkan ketenangan sejati, ada yang menggambar bunga bagus sekali sehingga sehingga kupu-kupu datang, ada juga yang menggambar perahu dengan keteduhan yang luar biasa. Tetapi ada pula seseorang, yang menggambar seperti badai angin ribut. Di lukisan tersebut dia menggambar lubang dan ada burung kecil di dalam lubang tersebut. Kemudian lukisan badai angin ribut tersebut dinyatakan sebagai pemenang. Pelukis-pelukis yang lain protes kemudian diberi alasanya mengapa lukisan ini menang. Alasannya adalah karena kalian gambarkan ini perahu dengan keteduhan yang luar biasa, ketenangan itu terjadi karena tidak ada badai. Tetapi burung kecil yang ada di dalam lubang tetap tenang meskipun di luar ada badai, gelombang tsunami yang luar biasa. Burung ini bisa tenang di dekatnya, karena ketenangan ini adalah ketenangan di dalam badai. Itulah sebabnya Tuhan Yesus membangun di dalam hidup kita kebahagiaan yang sejati, kebahagiaan datang bukan karena semua keadaan tenang seperti pengajaran-pengajaran tertentu yang mengatakan agar supaya kita tenang kita harus jauh dari dunia. Pergi bertapa di gunung yang sepi karena disitu tidak ada sex yang menggoda dan tidak ada uang yang menggoda. Matius 10:16a berkata “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala.” Inilah ketenangan sejati. Disaat kita berada dalam keadaan yang tidak tenang, kita dapatkan ketenangan itu.

Tuhanlah yang merancang kehidupan kita dan tidak pernah berhenti memberi pertolongan dalam hidup kita. Tuhan tidak mengurus kelemahan kita, tetapi Dia mengurus kesetiaan kita. Raja Daud hamba Allah yang di urapi Tuhan dengan luar biasa dan berkenan kepada Allah. Mengapa Daud berkenan kepada Allah? Karena Tuhan memperhitungkan kesetiaanya. Kita sebagai manusia memiliki kelemahan, akan tetapi dengan kesetiaan untuk beribadah Tuhan dapat melepaskan kita dari berbagai kelemahan kita. dosa bisa ditutup oleh Tuhan, tetapi kesetiaan kita yang harus lakukan. dengan cara bertindak melakukan apa yang berkenan kepada Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang baik yang tidak pernah berhenti mengampuni, sebab itu jangan saudara terus bertahan di dalam dosa karena kita memiliki Tuhan yang penuh kasih karunia.

2 korintus 5:17. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus ia adalah ciptaan baru yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang.” Manusia badani kita boleh tua atau merosot tetapi Kita harus tetap memiliki pribadi yang penuh semangat. Biarlah kita menjadi umat Tuhan yang memiliki pribadi yang sudah diperbaharui oleh kasih karunia yang dari Allah. AMIN

86.400 Detik per-Hari

Efesus 5:16 -” Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”

Membaca kisah-kisah sukses berbagai tokoh selalu membawa kekaguman tersendiri bagi kita. Rata-rata dari mereka harus melalui masa-masa sulit penuh penderitaan sebelum akhirnya mencapai sukses. Kegagalan bukannya tidak pernah ada, tapi yang membedakan adalah keteguhan tekat dan semangat pantang menyerah untuk terus mencoba. Jika mereka bisa sukses, mengapa kita tidak? Apakah waktu yang diberikan kepada mereka jauh lebih besar dari kita? Apakah Bunda Teresa, Leonardo da Vinci hingga Bill Gates memiliki waktu yang berbeda ukuran dengan kita? Tentu saja tidak. Kita hidup di dunia yang sama, kita sama-sama manusia seperti mereka dengan ukuran dan kapasitas otak yang sama. Ada 86.400 detik yang dihadiahkan Tuhan kepada kita setiap harinya, dan itu berlaku sama bagi semua orang. Kalikan itu dengan umur kita sekarang, maka kita akan terkejut melihat angkanya. Apa yang kita pakai untuk mengisi milyaran atau trilyunan detik yang sudah kita lalui hingga saat ini? Satu pembelajaran yang selalu kita dapati dari kisah sukses para tokoh adalah komitmen mereka untuk tidak membuang-buang waktu. Mereka selalu mempergunakan segala waktu yang ada dengan sebaik-baiknya, tidak menyia-nyiakan kesempatan yang mereka peroleh. Dan seringkali membuang-buang waktu menjadi masalah utama yang membuat kita tidak kunjung berhasil.

Baik dalam Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru kita mendapati peringatan berulang-ulang lewat firman Tuhan untuk menghargai waktu dengan sebaik-baiknya. Membuang-buang waktu jelas bukan karakter yang dimiliki oleh orang percaya, tapi nyatanya masih banyak diantara kita sendiri yang terus melewatkan kesempatan dan menyia-nyiakan waktu yang seharusnya bisa kita pergunakan, baik untuk berhasil dalam hidup, untuk memberkati sesama atau bahkan untuk sekedar mengucap syukur kepada Tuhan atas segala berkat dan penyertaanNya. Sebuah bagian dari doa Musa yang dicatat dalam kitab Mazmur menggambarkan kesadarannya akan betapa pentingnya waktu yang telah disediakan bagi kita. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12). Dibandingkan kekekalan yang menanti kita, hidup di dunia ini memanglah singkat. Tetapi bukankah 86.400 detik sehari seharusnya lebih dari cukup bagi kita untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Tuhan?

Dalam panggilan untuk hidup sebagai anak-anak terang yang disampaikan Paulus dalam surat Efesus 5:1-21 kita bisa melihat dengan jelas bagaimana kita bisa mengisi dan memanfaatkan waktu kita dengan baik. Bacalah rangkaian ayat yang terdapat disana untuk mendapatkan apa saja yang harus kita lakukan untuk menggambarkan kehidupan sebagai anak terang yang berkenan di hadapan Tuhan. Hidup dalam kasih (ay 2), menjauhi rupa-rupa kecemaran (ay 3), menghindari perkataan kotor, kosong, sembrono atau tidak pantas (ay 4), menjaga pergaulan kita (ay 6-7) dan banyak lagi hal yang bisa kita lakukan dalam rentang waktu yang telah disediakan bagi kita. Intinya, “pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (ay 16). Kita juga diingatkan agar terus berusaha menangkap apa yang dikehandaki Tuhan. “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” (ay 17). Peringatan yang sama bisa kita lihat pula dalam Kolose. Disana dikatakan: “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.” (Kolose 4:5). Bukannya terpengaruh terhadap perilaku orang yang tidak mengenal Tuhan, tetapi hadapilah dengan penuh hikmat, dan pergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Ini tugas kita sebagai anak-anak Tuhan yang seharusnya membawa terang ke sekeliling kita.

86.400 detik per-hari. Dengan apa kita mengisinya? Sudahkah kita mempergunakan setidaknya sedikit dari detik-detik itu untuk mengucap syukur kepada Tuhan? Sudahkah kita mempergunakannya untuk berdoa dan terus membangun hubungan yang lebih dalam lagi kepada Tuhan? Berapa banyak waktu yang kita pakai untuk mempergunakan semua talenta yang diberikan Tuhan demi memuliakanNya, menapak naik untuk sukses dan memberkati sesama dengan apa yang kita miliki? Atau pikirkanlah ini: seberapa penting kita menganggap waktu yang ada? Waktu yang sudah lewat tidak akan pernah bisa kembali lagi. Jika kita masih terbiasa membuang-buang waktu, ini saatnya untuk berubah. “supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” (1 Petrus 4:2). Mari kita memanfaatkan waktu yang masih ada dengan sebaik-baiknya. Pastikan bahwa 86.400 detik per-hari itu kita pergunakan dengan baik.

Pergunakanlah waktu dengan bijaksana, jangan sia-siakan

Renungan Harian Online

Akhir Lebih Baik Dari Awal

Pengkhotbah 7:8-10 ” Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya.panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati, janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh,janganlah mengatakan” Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang? Karena bukanya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu ”

Mungkin beberapa di antara kita ingat pada bulan yang lalu di tahun 2011 satu lembaga yang mengadakan survei dan hasilnya sungguh mengejutkan, yaitu sebagian rakyat Indonesia yang diwakili beberapa ribu orang dalam survey itu lebih suka kembali ke zaman orde baru dari pada berada pada zaman reformasi sekarang.

Karena mereka berkata bahwa hasil survey itu pada zaman orde baru di bawah pemerintahan mantan presiden Suharto segala sesuatu lebih baik dari pada zaman sekarang, tetapi hanya satu hal saja yang saya ingat yaitu bidang keamanan yang sekarang katanya lumayan lebih baik di banding dengan waktu yang lalu, jadi sebagian besar rakyat Indonesia ingin balik kepada masa-masa yang lalu biar hutang banyak luar negeri tetapi bahan pokok murah dan lain sebagainya. Alkitab katakan di sini dalam pengkhotbah seorang raja yang di beri Tuhan hikmat dengan luar biasa dia berkata bahwa kalau ada orang yang berkata zaman dulu itu lebih baik dari pada zaman sekarang apalagi dengan zaman yang akan datang orang yang berkata seperti itu adalah orang yang tidak berhikmat.

Kitab pengkhotbah dan kitab Amsal membandingkan dua hal yang besar dan bertolak belakang. Disatu pihak ada yang disebut dengan hikmat dan disatu pihak ada yang disebut dengan kebodohan. Alkitab harus di genapi, hari-hari yang akan datang adalah hari-hari yang akan semakin sukar. Hari-hari akan semaki sulit dan keadaan dunia akan semakin kacau itu yang Alkitab katakan, apakah itu kontradiktif dengan apa yang pengkhotbah bilang apakah salah kalau berdasarkan Firman Tuhan yang bilang bahwa hari-hari akan semakin sulit dan sukar kemudian kita berkata kalau begitu zaman dulu ketika kesukaran belum bertambah-tambah berarti zaman dulu lebih baik? Situasi keadaan hidup orang percaya saya yakin tidak berbanding lurus dengan keadaan yang akan di alami oleh dunia sebab bukankah seperti yang di katakan Kitab Maleakhi bahwa Tuhan akan mengadakan perbedaan antara orang-orang yang mengenal Tuhan, orang-orang yang menyembah Tuhan, beribadah kepada Tuhan dan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan.

Amsal 4:18 ” Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari ”. Dunia boleh terpuruk tetapi saya yakin kehidupan orang-orang percaya, kehidupan anak-anak Tuhan itu akan menjadi semakin baik. Dunia boleh terpuruk dan kita mungkin akan ikut merasakan apa yang akan dunia alami, tetapi kita tidak akan senasib dengan dunia. Jangan jadi orang-orang yang bodoh kata Alkitab, tetapi milikilah hikmat mengertilah Firaman Tuhan. Allah menyediakan perkara-perkara yang besar perkara-perkara yang ajaib dan luar biasa bagi kita, Yohanes 10: 10 ” Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. ” Ini adalah pekerjaan setan yang hanya untuk membinasakan dan jika kita mengangap Tuhan adalah gembala kita dan Kita adalah domba-dombanya saya percaya janji ini ada pada kita, selama kita mengaku dan percaya, kita adalah domba-domba gembalaan Tuhan maka mereka akan memiliki hidup yang berkelimpahan.

Bagaimana agar kita mengalami hidup yang berkelimpahan tahun 2012 dan mengalami hal-hal yang dasyat, perkara-perkara yang ajaib yang pertama kita lihat dalam Mazmur 67:6 ”Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-MU ya Allah kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-MU, tanah telah memberi hasil Allah, Allah kita memberkati kita, Allah memberkati kita kiranya segala ujung bumi takut akan Dia.” Alkitab terjemahan yang lain KJV, Dia berkata bukan Bangsa-bangsa yang bersyukur ”Bukan tanah sudah menghasilkan buah tetapi tanah akan menghasilkan buah jika kita hubungkan dengan ayat 6 dan 7, bahwa Bangsa-bangsa bersyukur kepada Allah, maka tanah menghasilkan buah. Ucapan syukur yang dinaikan di sisni akibatnya tanah menghasilkan buah, ucapan syukur yang dinaikan oleh Bangsa-bangsa itulah yang menjadi tanah itu menghasilkan buah.

2 timotius 3:1 ”Ketahuilah pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.” Tetap jalani hidup ini dengan mengucap syukur sekalipun keadaan sukar atau situasi yang tidak nyaman. 1 Tesalonika 5:18, ”Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang di kehendaki Allah di dalam kristus Yesus bagi kamu.” Orang-orang Israel tidak mau bersyukur kepada Allah sebab Allah telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Mereka selalu bersungut-sungut, mengomel dan mempersalahkan Musa sebagi pemimpin mereka. Perjalanan Israel dari Mesir ke Kakanaan itu adalah gambaran dari perjalanan gereja Tuhan, Bilangan 11:4 ”Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus dan orang Israel pun menangislah pula serta berkata siapakah yang akan memberi kita makan daging?”

Di antara orang-oarang Israel ada kelompok-kelompok. Terjemahan lama orang-orang bajingan itu adalah Bangsa “kacauan” mereka kemasukan nafsu rakus, akibatnya mereka mempengaruhi semua orang Israel dan semua orang Israel terpengaruh. Mereka berkata siapa yang akan memberi kita makan daging? Bilangan 11:5-6 ”Kita teringat kepada ikan yang kita makan di mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangk, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih, tetapi kita kurus kering tidak ada sesuatu apapun kecuali manna ini saja yang kita lihat.” Hati mereka masih ada di masa Mesir yang mereka rasa enak bagi mereka dan mereka selalau minta kepada Musa agar mereka di bawa ke Mesir, mereka tidak perduli akan masa depan Ulangan 11:11-12 ”Tetapi negri kemana kamu pergi untuk mendudukinya ialah negri yang bergunung-gunug dan berlembah-lembahyang dapat air sebanyak hujanyang turun dari langit, suatu negri yang di pelihara oleh Tuhan,Allah mu, mata Tuhan Allahmu tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.”

Kanaan yang akan menjadi milik Israel yang sudah Tuhan janjikan bagi mereka. Tanah yang limpah susu dan madunya yang diawasi oleh Tuhan dari awal tahun sampai akahir tahun

Matius 13:18-23 ”orang-orang yang mendengar Firman, melakukan dan berpegang pada perintah-NYA itulah yang akan mengalami berkat-berkat yang Tuhan janjikan.” Kemuliaan yang akan kita nikamati itu akan ditambah-tambahkan lagi dan semakin kita bersyukur, semakin kita berpegang kepada Firman Tuhan. Tetaplah menjadi umat yang selalu mengucap syukur kepada Tuhan, dan menjadi umat yang berpegang teguh pada Firman Tuhan. Dunia boleh semakin sukar, dunia boleh semakin sulit, keadaan boleh semakin terpuruk, tetapi kita akan melihat Tuhan akan membawa kita terbang tinggi menikmati kemuliaan yang Tuhan berikan bagi kita. AMIN

Benih & Tanah

Matius 13:26- “Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.”

Sebuah perumpamaan dari Yesus mempergunakan ilustrasi mengenai mengenai benih dan tanah ini, yaitu dalam perumpamaan tentang lalang di antara gandum. (Matius 13:24-30). “Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.” (Matius 13:24). Rasanya orang hanya akan selalu menaburkan benih yang baik di ladangnya, dan tidak akan pernah mau menabur benih yang bisa merusak lahan taninya. Apakah ada orang yang dengan sengaja menanam benih lalang atau tanaman liar? Tentu saja tidak. Tapi musuh bisa menaburkan benih yang tidak baik di sana. “Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.” (ay 25). Perhatikanlah, tanahnya sama, tapi benih yang baik dan yang tidak baik keduanya bisa sama-sama tumbuh dengan subur. “Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.” (ay 26). Lalu bagaimana akhirnya? “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (ay 30). Tanah tempat tumbuhnya sama, kedua benih yang baik dan tidak sama-sama tumbuh subur, tapi pada akhirnya kita bisa melihat mana yang masuk ke lumbung dan mana yang berakhir dengan dibakar.

Seperti halnya tanah, demikian pula yang terjadi dengan pikiran kita. Pikiran kita ibarat tanah yang subur. Pikiran kita selalu menerima, memberi respon, menumbuhkan apapun yang ditabur masuk di dalamnya tanpa terkecuali, sama seperti tanah. Apakah itu baik atau buruk, apakah itu positif atau negatif, apakah itu bermanfaat atau merusak, apakah yang mengarah pada keselamatan atau menjerumuskan kita ke dalam jurang dosa, semuanya akan ditumbuhkan oleh pikiran kita tanpa terkecuali. Baik atau buruk, keduanya bisa tumbuh subur di pikiran kita. Itulah sebabnya kita harus mampu menguasai pikiran kita sebelum pikiran kita berbalik berkuasa atas diri kita. Jika kita menanam hal-hal yang tidak baik, misalnya pikiran negatif, pornografi, berprasangka buruk, menduga-duga, atau malah menghakimi orang lain dalam pikiran kita, maka itulah yang akan tumbuh subur dan merajai hidup kita. Jika kita menabur hal-hal seperti mengasihani diri berlebihan, menganggap diri rendah, kebencian, dendam, atau bahkan kutuk, maka itulah yang akan direspon pikiran kita. Dari benih yang kecil, itu akan tumbuh hingga kelak berbuah. Dan benih yang jahat akan menghasilkan tindakan-tindakan yang jahat pula. Firman Tuhan sudah mengingatkan “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” (Amsal 23:7) Dalam versi King James Version dikatakan: “For as he thinketh in his heart, so is he.” Seperti yang kita pikirkan, demikianlah kita. Kita bisa menjadi pribadi yang baik, kudus dan berkenan, atau sebaliknya menjadi pribadi yang buruk, penuh kebencian dan kepahitan, semua tergantung dari benih seperti apa yang kita tabur ke dalam pikiran kita.

Oleh karena itu penting bagi kita agar selalu menanam hal-hal yang positif dalam pikiran kita. Paulus pun pernah mengingatkan hal ini dengan sangat jelas. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8). Lihatlah bahwa kita dianjurkan untuk selalu mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang baik. Memandang dari sisi negatif akan membuat kita menjadi negatif pula, karena itulah yang akan ditumbuhkan oleh pikiran kita dan kemudian berbuah subur dalam hidup kita. Jika kita mengikuti pesan yang tertulis dalam Filipi 4:8 di atas, maka kita pun akan menuai persis seperti apa yang kita tanam, yaitu hal-hal yang benar, adil, mulia, suci, manis dan baik. Adalah sangat penting bagi kita untuk terus menabur benih firman Tuhan dalam pikiran kita secara teratur, sehingga tidak ada lagi tempat atau celah bagi benih-benih negatif untuk bertumbuh di dalam pikiran kita dan merusak kita serta merampas kesempatan kita untuk menjadi bagian dari Kerajaan Surga.

Karena Allah adalah kasih, maka firman-firmanNya yang kita tabur tentu akan menumbuhkan kasih pula. Jika kasih yang tumbuh, maka lita pun akan penuh dengan buah kasih dan kebajikan, 1 Korintus 13:4-7. Semua inilah yang akan tumbuh dan semua ini akan membentuk pribadi kita menjadi pribadi yang berkenan di mata Tuhan. Tidak ada tempat bagi hal-hal negatif di dalam kasih. Jika kita berbuah kasih, maka pikiran kita bisa terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif yang siap menenggelamkan diri kita dan mengarahkan kita untuk hanyut semakin jauh dalam dosa. Selain itu, janganlah kita memenuhi pikiran kita dengan berbagai ketakutan atau kekhawatiran yang seringkali tidak beralasan dan belum tentu terjadi seperti yang kita takutkan, Filipi 4:6. Jika ini kita lakukan maka hidup kita pun menjadi lebih indah sebab damai sejahtera Allah akan selalu hadir di dalam diri kita, Filipi 4:7.

Menabur firman Tuhan dalam pikiran kita, menabur benih-benih yang baik disana, itu akan membuat kita kelak bertunas hal-hal yang baik pula. Jangan lupakan bahwa kita pun harus menaklukkan pikiran kita dalam Kristus agar tidak ada benih-benih negatif yang bakal tumbuh disana. Hal ini tepat seperti yang dilakukan pula oleh Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya. “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2 Korintus 10:5b). Control your mind and don’t let your mind control you. Kita harus mampu mengendalikan pikiran kita, menabur hal-hal yang positif, yang baik dan yang benar sesuai firman Tuhan, serta menaklukkannya kepada Kristus. Marilah kita mengendalikan dan memperhatikan pikiran kita, sebab apapun benih yang kita tanam di dalamnya akan sangat menentukan tunas seperti apa yang akan tumbuh dari diri kita.

Apa yang tumbuh dalam pikiran kita tergantung dari benih seperti apa yang kita tabur di dalamnya

Buanglah Yang Lama

Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. 1 Korintus 5:7

Beberapa hari sebelum merayakan Tahun Baru Imlek, banyak keluarga Tionghoa akan membersihkan rumah mereka luar dalam. Ada pepatah bahasa Kanton yang mengatakan: “Bersihkanlah kotoran pada saat ninyabaat” (hari ke-28 di bulan ke-12). Mereka melakukan tradisi ini karena mereka percaya bahwa kegiatan membersihkan rumah dapat menyapu bersih nasib buruk dari tahun sebelumnya dan menyiapkan rumah mereka untuk menyambut keberuntungan.

Ketika Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Korintus, ia meminta mereka untuk membersihkan hidup mereka secara menyeluruh bukan demi mendapat keberuntungan melainkan untuk menyenangkan Allah. Ia memerintahkan mereka untuk membuang “ragi yang lama” (1 Kor. 5:7).

Paulus menggunakan perayaan Paskah Yahudi dan perayaan Roti Tidak Beragi (Kel. 12:1-28) sebagai latar belakang bagi pernyataannya tersebut. Ragi merupakan simbol dosa dan kejahatan yang harus dibersihkan dari rumah-rumah orang Yahudi untuk menyambut perayaan tersebut (Ul. 16:3-4). Karena Yesus adalah Anak Domba Paskah yang membersihkan kita dari dosa, jemaat Korintus harus membersihkan hati mereka dan menjauhkan diri dari ragi percabulan, kedengkian, dan kejahatan dalam kehidupan dan pergaulan mereka (1 Kor. 5:9-13).

Sebagai ucapan syukur kita kepada Yesus atas pengorbanan-Nya, marilah kita membuang dosa dari hidup kita dan merayakan kekudusan yang hanya dapat diberikan oleh-Nya. RBC Ministries

Kekudusan Allah menuntut

Hati yang murni di dalam diri,

Namun anugerah menyatu dengan kekudusan

Untuk membersihkan hati dari dosa.

D. De Haan

Kontaminasi oleh dosa membutuhkan pembersihan dari Sang Juruselamat.

Dengarlah Suara Tuhan

Ulangan 28:6 - “Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.”

Hari raya Imlek adalah sebuah perayaan yang dahulu kala dilakukan oleh para petani di Cina untuk menyambut datangnya musim semi yang didasarkan oleh penanggalan bulan (lunar). Biasanya keluarga berkumpul untuk menyambut datangnya tahun baru. Adalah penting bagi para petani untuk melakukan ritual keagamaan dalam menyambut masuknya tahun baru sehingga hasil panen mereka bisa berhasil kelak di tahun yang baru. Mereka memanjatkan rasa syukur dan doa agar tahun depan bisa mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Ada pula kebiasaan yang masih berlanjut hingga hari ini seperti membagi-bagikan “ang pau” kepada anak-anak atau yang belum menikah, yang asalnya merupakan ungkapan rasa syukur dan membagi berkat kepada anak-anak atau yang belum menikah.

Bagi kita umat Kristiani, Tuhan sejak jauh hari telah memberikan janjiNya untuk memberkati kehidupan kita seutuhnya tanpa kekurangan. Mari kita baca Ulangan 28:1-14. “Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu. Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar. TUHAN akan membiarkan musuhmu yang maju berperang melawan engkau, terpukul kalah olehmu. Bersatu jalan mereka akan menyerangi engkau, tetapi bertujuh jalan mereka akan lari dari depanmu. TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 28:3-8). Ini janji Tuhan yang luar biasa pada kita semua. Sayangnya ayat-ayat indah ini seringkali dikutip secara sepihak, sehingga ketika yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang tertulis di atas, kita pun dengan mudah menyalahkan Tuhan dan menuduh Tuhan ingkar janji. Padahal untuk menerima berkat-berkat yang dijanjikan itu, ada yang harus kita lakukan terlebih dahulu. Demikian firman Tuhan: “Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu”(ay 2). Dan kemudian ditegaskan kembali pada penutup perikop ini. “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (ay 13-14). Kita diingatkan untuk selalu mendengarkan suara/perintah/firman Tuhan, dan harus senantiasa berjalan lurus sesuai firmanNya, tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan dengan mengikuti allah lain dan beribadah padanya.

Adat istiadat adalah warisan budaya yang memang baik untuk dilestarikan, tapi ingatlah bahwa jangan sampai adat istiadat itu malah lebih penting dari perintah Allah. Yesus sudah mengingatkan demikian: “Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.” (Markus 7:6-9). Ketika hal ini terjadi, bukan berkat yang kita terima, melainkan kebalikannya, yang tertulis dalam perikop lanjutan dalam Ulangan setelah berkat, yaitu kutuk. (Ulangan 28:15-46).

Adalah penting bagi kita untuk terus taat pada perintah Tuhan, menjaga diri kita untuk tetap berjalan lurus sesuai jalan yang berkenan di hadapan Tuhan, sehingga berkat-berkat yang dijanjikan Tuhan tidak terhalang untuk sampai pada kita. Tuhan tidak menjanjikan segala sesuatu yang sia-sia dan tidak akan pernah ingkar janji. Teruslah berjalan bersama Tuhan, yang akan selalu memberkati anda di kota dan di ladang, memberkati anda memasuki tahun baru hingga tahun berikutnya. Have a prosperous New Year.

Tuhan mendatangkan berkat bagi yang mendengar suaraNya, sebaliknya mendatangkan kutuk bagi yang melanggar hukumNya dan menyembah ilah lain

Renungan Harian Online

Menjadi Pelayan Tuhan

Yohanes 3:30

Ayat ini sangat singkat tetapi memiliki pandangan yang sangat besar, Yohanes pembabtis bukanlah orang yang memiliki pengaruh pada masa dan bukan seorang pemimpin yang hebat, kehadiranya memang sudah di nubuatkan dan sudah di dahului oleh firman Tuhan jauh sebelum kelahiran Yesus sendiri akan terjadi ada rentang waktu yang cukup lama bagi yohanes pembabtis untuk melakukan playananya.

Walaupaun ia sendiri tidak menerima penghormatan yang setimpal dengan apa yang di lakukanya bagi Tuhan,ketika Dia memulai pelayananya banyak orang yang meragukan Yohanes bahkan kelompok farisi mengharuskan Yohanes pembabtis untuk memberi atau mengidentifikasi dirinya dengan jelas agar mereka tauh apa sebenarnya yang sedang Yohanes pembabtis lakukan dari mana dia datang dan apa yang menjadi misinya.

pasal 1:19 ” Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang yahudi dari yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang lewi kepadanya untuk menanyakan dia siapa engkau? ” bisa di maklumi karena sedang terjadi ketegangan di daerah yahudi ini sejak di keluarkan perintah dari kaisar Agustus untuk mengadakan pencacahan jiwa, sebab kaisar Agustus adalah kaisar yang berkuasa di romawi dan Karena pada waktu itu di Romawi menguasai separuh daerah afrika dan juga dari wilayah asia, maka palestina dengan sendirinya juga tercaplok dari wilayah romawi.

Jadi perintah untuk pencacahan jiwa itu bukan untuk orang yahudi saja, tetapi daerah yahudi masuk di dalamnya sesudah Yesus lahir memang terjadi ketegangan politik yang luar biasadi wilayah ini sehingga kekuatan kekuatan kecil yang tadinya dianggap tidak berpengaruh itu di curigai akan merepotkan, Yohanes pembabtis dengan pelayananya yang luar biasa dengan suaranya yang lantang. bukan ingin dirinya untuk di hormati tetapi Alkitab menyatakan dimana Allah telah mengaruniakan suara kepadanya Israel mendengarnya walaupun tidak semua orang yahudi tetapi ada juga beberapa orang non-yahudi hanya yang sudah lama tinggal di sana.

Ketika Tuhan Yesus akan memulai pelayananya Yohanes pembabtis menyerahkan atau membebaskan dan memberi keluasaan kepada muridnnya lalu mengikut Yesus, kemudian belajar langsung kepada Yesus menujukan bahwa Yohanes pembabtis tidak takut untuk kehilangan pengaruh, karena dia tidak memiliki motivasi yang lain, tetapi hanya untuk menjadi suara bagi Tuhan dan Yohanes pembabtis tauh apa yang sudah di tugaskan kepadanya walaupun dia di curigai memiliki aksi-aksi yang merepotkan banyak orang tetapi Yohanes tetap konsen terhadap pekerjaanya dia berkata dalam Pasal 1:23 ” Jawabnya, Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: luruskanlah jalan Tuhan seperti yang telah di katakan nabi Yesaya” jika seandainya Yohanes pembabtis ingin menujukan atau mencari popularitas saja tentu akan mudah bagi dia untuk mengidentifikasi diri dengan orang-orang hebat di jaman dulu. dia mungkin memiliki kemampuan, tetapi pernyataan bahwa aku bukanlah mesias, aku bukan Elia, aku bukan dari salah satu seorang Nabi lalu apa menurutmu siapa saya tetapi Yohanes hanya berkata dalam ayatnya yang ke 23” jawabnya: Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, luruskanlah jalan Tuhan seperti yang di katakan oleh nabi Yesaya ” untuk menetukan domba dengan cara mendengar suaranya, kebiasaan ini tentu tidak bisa denga satu atau dua kali tetapi domba yang sering mendegar suara gembalanya yang memberi makan, memberi kebutuhanya itu tentu memiliki waktu yang panjang, semakin mampu untuk mengenal suara gembalanya. maka domba-domba ini di yakinkan bahwa suara inilah yang akan memelihara hidup mereka yang akan menjamin hidupnya kedepan dan suara yang lain tidak akan dapat memberikan kenyamanan yang sama, kenikmatan yang sama, hidup yang sama selain dari suara yang satu ini yaitu gembala yang baik, Dalam kosa kata Yunani ada yang menarik juga jika Yesus berkata Akulah, dan kata Aku ini ditulis dengan keterangan yang selalu present di ucapkan kemaren atau sudah lampau dan akankah ini kita baca besok itu keterangan waktunya sama artinya bahwa Allah itu berbicara kemarin itu akan mempunyai kekuatan yang sama dengan penggenapan yang sama.

Waktu buat Tuhan bukan sekedar kronos atau bukan sekedar kronologi dari detik ke detik, dari menit ke menit dari jam ke jam yang tiap Event sudah di lupakan orang, tetapi waktu buat Tuhan itu adalah kairos dari dulupun Ia tetap melihat hari ini dan hanya Tuhan yang mampu melakukan itu kehadiran kita itu sangat terbatas sekali dengan waktu, ruang, dan kita tidak dapat hadir di dua tempat yang berbeda dalam waktu yang sama itu jelas tidak bisa tetapi Allah bisa hadir di ruang yang berbeda, dalam waktu yang sama.

Iblis bukan maha hadir meskipun ada orang yang berkata bahwa iblis itu bisa datang di dua tempat yang berbeda dalam waktu yang sama saya katakan di mana Alkitab memberikan satu pernyataan bahwa iblis bisa berbuat begitu karena jumlahnya banyak. Alkitab berkata bahwa iblis juga bisa menyerupai malikat terang tidak bisa di bedakan, bisa juga untuk memuji Tuhan bisa juga menyuruh untuk menyembah karena iblis kerjaanya dulu juga begitu.

Dan ketika Yohanes pembabtis menyebut dirinya akulah suara dia tidak menyebutkan itu degan keterngan waktu yang sama dengan Yesus, sebab dia memang bukanlah Yesus, dia bukanlah oknum Allah tetapi filosopinya yang sebetulnya adalah mengapa dia tidak menggunakan kosa kata yang sama dengan kata egoemi? dengan kata ”Aku adalah” Yohanes pembabtis memakai kata yang lain alasanya karena pelayananya memang harus berhenti, sebab Yohanes pelayananya hanya sementara di dunia ini untuk melayani dan pelayananya sangat terikat dengan waktu karena Yohanes bukan Mesias.

1 timotus 1:18-19 ‘ Tugas ini ku berikan kepadamu timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah di nubuatkan tentang dirimu supaya di kuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu dank arena itu kandaslah iman mereka”. Kandas atau karam iman mereka sebab iman itu berhubungan dengan banyak hal dalam jiwa kita, iman itu sebetulnya adalah satu sistem yang melibatkan banyak sekali gerakan dari jiwa kita dari apa yang kita pikirkan, dari apa yang engkau rasakan itu sangat mempengaruhi iman kita. Bisa kita katakan hari ini saya kuat, hari ini saya punya kepercayaan yang teguh kepada Tuhan, hari ini saya tidak mudah di goncangkan, karena pikiran, hati, apa yang engkau rasa dan apa yang engkau ucapkan itu semuanya mendukung kesana.

Peran Yohanes pembabtis jelas menunjukan porsinya sendiri untuk membagi pandangan hidup buat kita anggaplah pekerjaan yang kita kerjakan itu bukan milik kita, tetapi kita kerjakan seperti milik kita, ada orang yang bekerja karena tuntutan propesi itu. Masih mending, tetapi kalau sudah tuntutan kebutuhan hidup ini yang berat, apa lagi kalau sudah melayani tuntutanya adalah kebutuhan hidup itu sudah tidak murni. apa yang di cari? jiwa-jiwa! Atau yang di kantongi jiwa-jiwa atau yang di simpan oleh jiwa-jiwa itu? Susah bukan karena pelayanan berat, tetapi karena mempertahankan hidup yang sulit di dalam pelayanan

Kita adalah pekerja-pekerja dengan memiliki propesi yang berbeda-beda, engkau mungkin bisa melakukan karena engkau belajar, engkau bisa karena engkau memperkaya diri, tetapi panggilan hati akan memperkuat kita untuk membedakan yang baik dan pantas kita terima. Kiranya pekerjaan kita dapat mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan dan bukan mencuri kemuliaan Tuhan. AMIN

“Iman yang kecil saja sudah bisa mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran anda. Belajarlah mempercayakan hidup pada Tuhan dengan melatih iman anda.”

Happy New Year 2012

Matius 24:4 – “Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!”

Selamat Tahun Baru 2012! Rasanya seperti baru kemarin kita merayakan tahun baru 2011, tapi kini kita sudah memasuki tahun yang baru, tahun yang bagi sebagian orang menakutkan. Menakutkan, karena ada banyak ahli sejarah terutama yang menyelidiki kebudayaan bangsa Maya mengatakan bahwa siklus dunia berhenti di tahun 2012. Artinya, tahun ini mereka perkiraan sebagai tahun terakhir perjalanan dunia. Bahkan ada ahli yang berani memperkirakan tanggal dan jam berapa tepatnya bumi akan menemui akhirnya. Sebuah film dari Hollywood mengambil judul 2012 secara langsung dan menggambarkan bagaimana kiamat itu tiba. Banyak dari kita yang merasa cemas memasuki tahun 2012 ini. Tanpa memikirkan ramalan-ramalan ini pun kita seringkali diliputi perasaan kuatir memasuki tahun yang baru, apalagi jika tahun yang baru saja berlalu bukan tahun yang baik buat kita. Bagi saya pribadi, sebuah tahun yang baru merupakan awal dari sebuah perjalanan baru yang akan membuka berkat-berkat yang baru pula. Mengapa saya bisa percaya akan hal itu? Karena Tuhan sendiri sudah berkata: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3:22-23). New dawn with a new hope, a new chapter of life where I can experience more amazing things from God. That is, if I keep on walking with Him in an even closer relationship than the previous years.

Benarkah kita bisa memprediksi kapan dunia ini akan kiamat? Ada banyak nubuatan dalam kitab terakhir Wahyu yang memang sudah atau mulai digenapi. Kita tidak bisa mengabaikan hal itu. Tandanya, memang akhir zaman sudah dekat. Tapi tidak satupun orang yang tahu kapan tepatnya hari itu akan tiba. Tuhan Yesus sendiri bahkan berkata: “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.” (Markus 13:32). Jika Tuhan Yesus saja tidak tahu, apalagi kita. Oleh karena itulah kita diingatkan untuk berjaga-jaga setiap saat sampai waktu Yesus datang untuk kedua kalinya tiba. “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.” (Markus 13:33). Perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat dalam Matius 24:45-51 menggambarkan hal itu, perumpamaan gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh dalam Matius 24:1-13 juga mengingatkan hal yang sama. Demikian pula dalam Lukas 12:35-48. “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala…Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.” (Lukas 12:35,40). Kembali Paulus mengingatkan kita untuk berjaga-jaga dalam 1 Tesalonika 5:1-11. “Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.” (1 Tesalonika 5:1-2). Kapanpun, dimanapun, bagaimanapun, kita diingatkan untuk terus berjaga-jaga dan waspada, agar kita senantiasa siap ketika waktunya tiba.

Lebih lanjut Yesus menggambarkan datangnya akhir zaman dalam Matius 24:3-14. Disana Yesus mengingatkan agar kita jangan terpengaruh kepada berbagai ramalan atau isu-isu yang menyesatkan atau meresahkan. Ketika murid-muridNya menanyakan kapan kesudahan dunia itu terjadi, “Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!” (Matius 24:4). Berbagai tanda pun kemudian diberikan Yesus, dan kemudian ditutup dengan: ” Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (ay 14).

Tidak ada satupun orang yang tahu kapan hari itu tiba. Kita tidak perlu dicekam ketakutan akan datangnya hari kiamat itu, kita tidak perlu cemas berpikir bahwa ini adalah tahun terakhir dalam perjalanan dunia. Apa yang penting untuk kita lakukan adalah untuk senantiasa terus berjaga-jaga. “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!” (Markus 13:35-37). Hendaklah pinggang kita tetap terikat dan pelita tetap bernyala. Bagi para hamba Tuhan, ingat pula untuk melatih dan menguasai seluruh tubuh, karena Paulus sudah mengingatkan demikian: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Korintus 9:27). Masukilah tahun yang baru dengan semangat baru, gairah baru dan ketaatan yang baru. Perbaharuilah hubungan anda dengan Tuhan yang mungkin mulai compang camping akhir-akhir ini. Bagi yang sudah membangun kedekatan, pertahankan dan tingkatkanlah. Tuhan menyediakan berkat-berkatNya yang baru memasuki tahun yang baru, yang tidak tergantung pada kondisi dunia secara global. Karena itu, mari kita bersukacita dan bersyukur dalam melangkah memasuki tahun 2012 ini. Selamat Tahun Baru, Tuhan Yesus memberkati anda semua.

Tuhan berjanji mengawasi kita dari awal sampai akhir tahun, bersyukurlah untuk itu.

Cara Pandang Hidup

“Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu..” Matius 20:25-26a

Kalau orang keras, kita harus lebih keras lagi. Kalau tidak itu artinya kita menyerah kemudian kalah. Pandangan seperti ini dianggap benar bagi banyak orang. Malah tidak jarang pula orang menutupi kelemahan dan rasa tidak percaya dirinya dengan bersikap kasar. Kita banyak menjumpai orang-orang yang membentengi dirinya dengan sikap kasar ini karena sebenarnya mereka tahu bahwa mereka sangatlah lemah di dalam. Pemerintahan dengan tangan besi terjadi di banyak tempat, dan itupun mereka percaya sebagai solusi terbaik dalam membenahi negara. Di satu sisi memang kita harus bertindak tegas dalam menghadapi masalah, tetapi sayangnya ada banyak orang yang sulit membedakan antara tegas dan keras. Mereka berpikir bahwa tegas itu berarti keras dan kasar. Mereka berpikir bahwa orang akan hormat dan takut apabila kekuasaan ditunjukkan secara ekstrim, seperti membentak atau bahkan merendahkan orang lain.

Disisi lain banyak pula orang yang percaya bahwa untuk menang bertarung hidup di dunia yang keras dan kejam kita harus lebih keras dan lebih kejam lagi. Lupakan soal moral, abaikan kejujuran, kebaikan, keramahan, selanjutnya tabraklah segalanya, halalkan semua cara dan raihlah harta, pangkat, jabatan dan sejenisnya sebanyak-banyaknya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Lalu bersikaplah arogan, ketus, rendahkan orang lain agar diri sendiri terlihat tinggi. Halalkan segala cara, lakukan apa saja yang penting apa yang kita inginkan tercapai. Saling sikut menyikut, saling menjatuhkan, saling menjelekkan, fitnah, korupsi dan tindakan-tindakan amoral lainnya, semua itu bukan lagi sesuatu yang salah untuk dilakukan. Malah yang dianggap bodoh justru orang-orang yang tetap hidup lurus karena itu artinya mereka membuang kesempatan untuk bisa memperoleh segalanya.

Sesungguhnya ini bukanlah gambaran dari umat Tuhan. Alkitab dengan tegas justru berbicara sebaliknya. Jadi apabila hati dan pikiran kita sudah sampai kepada konsep seperti perilaku orang-orang di atas, itu artinya kita sudah sangat jauh dari Tuhan. Konsep kehidupan dan bertingkahlaku yang diajarkan Yesus sungguh bertolak belakang dengan apa yang dipercaya dunia sebagai tolok ukur keberhasilan atau kesuksesan. Lihatlah pengajaran-pengajaran Kristus tentang cara hidup dalam Kerajaan Allah yang terbalik seratus delapan puluh derajat dengan cara pikir dunia. Anda ingin menjadi yang terbesar? Dunia berkata kuasai sebanyak-banyaknya, tetapi Yesus mengajarkan kita sebaliknya. Justru kita harus merendahkan diri kita sejauh mungkin. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat apa yang tertulis di dalam Alkitab. “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.” (Matius 20:25) Pemerintah bangsa-bangsa dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan dengan “the rulers of the Gentiles”, yang bisa kita artikan sebagai para pemimpin bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka terus mengejar kepentingan dan kepuasan pribadi. Posisi orang percaya seharusnya tidak boleh seperti itu. Perhatikan kata Yesus selanjutnya: “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” (ay 26-27). Apakah ini hanya pepesan kosong, alias sesuatu yang hanya dikatakan semata? Tentu tidak, karena Yesus sudah mencontohkan langsung mengenai sikap tersebut lewat sikap hidupNya ketika ada di dunia ini. Dalam kesempatan lain Yesus juga menyampaikan: “Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” (Lukas 9:48). Berarti orang yang merasa dirinya sudah besar dan merasa berhak melakukan apapun sekehendak hatinya justru merupakan orang-orang kasihan yang terkecil di muka bumi ini.

Lalu selanjunya bagaimana dengan cara kita yang seharusnya dalam menghadapi musuh? Dunia mengajarkan kita untuk membinasakan musuh, kalau perlu menghancurkan mereka berkeping-keping. Hancurkan sebelum kita dihancurkan. Jangan sekedar hancur, tapi kalau bisa berkeping-keping. Kalaupun orang lain harus terkena korban, itu salah mereka. Siapa suruh dekat-dekat dengan musuh. Itu pikiran dunia yang sering kita lihat hari ini. Minimal berikan fitnah, hancurkan secara moral sampai mereka tidak berkutik lagi. Tetapi lagi-lagi Yesus mengajarkan sebaliknya. “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (ay 38-39). Bukan hanya mengalah dan tidak melawan, tetapi lebih lanjut Yesus mengatakan “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:43-44). That’s another step of love. Musuh bukan untuk dihancurkan, tetapi untuk dikasihi, dibantu dan didoakan. Ini sebuah pengajaran yang mendobrak tatanan atau konsep pemikiran secara radikal pada saat itu. Dan hari ini pun masih tetap sama kontroversialnya, terlebih ketika kita melihat orang-orang yang bisa dengan dingin membunuh atau membantai secara masal dengan mengatasnamakan golongan tertentu, sementara negara seolah tidak sanggup berbuat apa-apa, menunjukkan sikap ketakutan dengan terus membiarkan segalanya terjadi.

Yesus mengajarkan konsep kehidupan yang berbanding terbalik dengan apa yang dipercaya dunia sebagai kunci kesuksesan atau kemenangan. Ketika dunia menghalalkan segala cara, kita dituntut untuk melakukan segala sesuatu dengan jujur, tulus dan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, dan kemudian menyerahkan semuanya sesuai dengan kehendak Tuhan sambil disertai dengan rasa syukur. Ketika dunia mengajarkan kebencian, kita diajarkan untuk mengasihi. Ketika dunia cenderung mencari pembenaran atas segala kekejian, kita diminta untuk bersikap lembut hati dan mau mengakui kesalahan kita. Dunia boleh membenci, tetapi kita mengasihi. Dunia boleh kasar, tapi kita harus lembut. Dunia boleh menumpuk harta, tapi kita harus memberi. Kesombongan tidak ada dalam kamus kita, dan harus diganti dengan kerendahan hati. Semakin tinggi kita naik, kita harus semakin rendah hati. Bukankah bulir padi yang siap tuai pun merunduk? Alkitab sudah menjelaskan bagaimana seharusnya sikap hidup kita. Memberi bantuan dan mengasihi tanpa pandang bulu, termasuk kepada musuh kita. Dunia boleh saja tidak berlaku seperti itu, tapi kita harus mencerminkan terang Tuhan bagi sesama kita. Itu adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar. Mudah? Tentu tidak. Tapi Roh Kudus tentu akan memampukan kita memiliki sikap hati yang lembut jika kita mengijinkannya. Siapkah anda menjadi pribadi yang berbeda dengan dunia dan mencerminkan terang yang bersinar dalam kegelapan?

Ketika dunia membenci, kita mengasihi

“When Life knocks you down to your knees, just remember that, you are in the perfect position to PRAY”