Apakah Arti Hidup

Yakobus 4 : 14

 . . . Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap

Tidak terasa sudah delapan bulan kita menjalani tahun 2010 ini. Begitu cepat waktu berlalu. Tuhan menyampaikan Amanat Agung bukan hanya bagi hamba Tuhan, tetapi kepada kita semua dimanapun kita melakukan pelayanan yang ditetapkan bagi kita. Matius 28 : 19 – 20, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu…”.

Dalam Amanat Agung ini, ada dua hal yang penting yang Yesus katakan. Pertama : “Pergilah” artinya kita harus keluar, melakukan sesuatu diluar sana.  Jadi, “pergilah” itu menyatakan bahwa kita harus melakukan suatu misi bagi Allah. Kedua : “Jadikan semua bangsa muridKu” artinya kita harus melakukan pemuridan, dengan mengajar bangsa-bangsa untuk menjadi murid Tuhan. Untuk itu kita perlu mengajar mereka perintah-perintah yang sudah Tuhan perintahkan kepada kita. Artinya, kita harus melakukan terlebih dahulu perintah-perintah tersebut, baru kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Kita dulu yang menjadi murid, baru kita dapat memuridkan orang lain. Yohanes 13 : 15, “sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”. Untuk dapat menjadi saksi Kristus, kita harus mengikuti teladan Yesus.

Sebentar lagi tahun 2010 akan berlalu, apa yang telah kita lakukan bagi Tuhan? Kita semua dipanggil, dipilih bahkan ditetapkan sebelum dunia ini dijadikan, untuk menjadi saksi-saksi bagi Kristus, menjadi alatNya untuk menyampaikan kebenaran, kabar baik dimanapun kita berada. Begitu pendek gambaran Yakobus tentang kehidupan kita. Tetapi, ada satu pertanyaan pendek yang Yakobus sampaikan pada waktu itu bagi 12 suku yang berada di perantauan, dan bagi kita sekarang ini. Yakobus bertanya, apakah arti hidupmu? Kalimat Ini bisa diartikan sebagai berikut: Hidupku adalah hidup yang berarti, hidupku tidak berarti apa-apa atau sudahkah aku menjalani hidup yang berarti di dalam waktu yang singkat ini?

Dalam menjalani hidup ini, banyak diantara kita lebih mencemaskan tentang bagaimana kehidupan kita di dunia ini, dari pada bagaimana kita menjalani kehidupan setelah kita meninggalkan dunia ini. Hal ini kelihatan dari sikap hidup kita. Karena bagiku hidup adalah uang, kekuasaan dan ketenaran. Kita lupa bahwa kalau kita mati maka semua uang yang kita miliki akan kita tinggalkan, kekuasaan yang kita miliki akan dilupakan orang dan ketenaran yang kita raih juga akan kita tinggalkan. Namun, inilah kehidupan yang dipilih kebanyakan dari kita.

Rasul Paulus berkata dalam Filipi 1 : 21 – 22, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah…”. Rasul Paulus mau menyampaikan kepada kita semua bahwa kalau mau menjalani hidup yang benar dan berarti maka hidup adalah Kristus, maksudnya hidup meneladani apa yang Tuhan Yesus ajarkan dan contohkan bagi kita, serta menghasilkan buah bagi hormat dan kemuliaan nama Tuhan.

Yohanes 13 : 15, “sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”. Setelah Yesus selesai membasuh kaki murid-muridNya, Ia mengajar mereka untuk mengikuti apa yang telah Ia teladankan kepada mereka. Yesus mempertegas hal ini dalam Yohanes 13 : 34, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Ini adalah landasan kehidupan pelayanan yang Yesus mau. Hendaklah kamu saling mengasihi, karena Aku sudah terlebih dahulu mengasihi kamu.

Bagaimana menunjukkan bahwa kita mengasihi Tuhan? 1 Yohanes 2 : 3, “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya”. Orang yang mengasihi Tuhan akan melakukan semua perintahNya.

Tuhan mau kita mengasihi Dia dengan hati yang merindu kepadaNya. Kasih seperti inilah yang ditunjukkan Daud kepada Tuhan dalam Mazmur 42 : 2 – 3, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup…”.Begitulah Tuhan mau melihat kerinduan kita kepadaNya, kasih yang benar-benar membutuhkan sehingga tidak mau dipisahkan oleh apapun.

Tahukah kita bahwa bukan hanya kita yang rindu kepada Allah, tetapi Dia juga rindu pada kita. Dalam Lukas 15, terdapat tiga kisah yang menggambarkan kerinduan Allah terhadap ciptaanNya manusia.

  1. Lukas 15 : 1 – 7, Perumpamaan tentang domba yang hilang.
    Ketika seorang gembala berjalan bersama dengan domba-dombanya, satu diantara domba tersebut hilang. Gembala mencarinya, walau harus mempertaruhkan nyawa. Setelah domba itu ditemukan, ditaruhnya pada pundaknya dan menunjukkan kepada sahabat-sahabatnya. Begitu juga dengan Tuhan, Dia rela memberikan anakNya yang tunggal yaitu Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita yang terhilang.
  1. Lukas 15 : 8 – 10, Perumpamaan tentang dirham yang hilang.
    Seorang wanita kehilangan dirhamnya, dia mencarinya dengan cermat. Ketika menemukannya, wanita ini sangat bersukacita sehingga mengajak tetangga-tetangganya untuk ikut bersukacita bersama dia. Hal yang sama dirasakan Tuhan, jika ada seorang yang bertobat, karena Dia sangat merindukan kita dan mengasihi kita.
  1. Lukas 15 : 11 – 32, Perumpamaan tentang anak yang hilang.
    Anak bungsu pergi menghabiskan duit dan harta ayahnya yang menjadi warisannya, walaupun demikian bapanya selalu menunggu kapan anaknya ini akan pulang. Setelah semua yang dimiliki anak bungsu ini habis, bahkan untuk makan makanan babipun tidak ada yang mau memberikan kepadanya. Akhinya dia pulang dengan pakaian yang compang-camping. Dari jauh, ayahnya melihat dan langsung mengetahui bahwa itu anaknya yang bungsu. Bapa ini tidak tinggal diam, dia berlari dan memeluk serta mencium anak itu sambil berkata anakku yang hilang sekarang sudah kembali, lalu mengadakan pesta untuknya. Seperti inilah kerinduan Allah kepada kita manusia. Kasih Kristus bukan kasih yang menunggu, tetapi kasih yang merindu. Bukan kasih yang menanti, tetapi kasih yang mencari.

Kasih Tuhan bukan kasih yang menuntut, tetapi kasih yang memberi. Dia datang, tubuhnya dikoyak dan mati dikayu salib agar kita menerima keselamatan itu. Dia memberi hidupNya supaya kita semua hidup di dalamNya. Sebab itu biarlah yang menjadi landasan dari pelayanan kita adalah kasih Kristus. Kasih yang memberi, merindu dan mencari.

Jika kita mau melihat perubahan, mulailah dari diri kita sendiri sebab orang lain akan melihat apa yang kita lakukan. Kita sudah menerima yang terbaik dari Tuhan, maka berikanlah yang terbaik dari hidup kita untukNya.

Sudahkah kita menjalani hidup yang berarti diwaktu yang singkat ini?