Dengarlah Suara Tuhan

Ulangan 28:6 - “Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.”

Hari raya Imlek adalah sebuah perayaan yang dahulu kala dilakukan oleh para petani di Cina untuk menyambut datangnya musim semi yang didasarkan oleh penanggalan bulan (lunar). Biasanya keluarga berkumpul untuk menyambut datangnya tahun baru. Adalah penting bagi para petani untuk melakukan ritual keagamaan dalam menyambut masuknya tahun baru sehingga hasil panen mereka bisa berhasil kelak di tahun yang baru. Mereka memanjatkan rasa syukur dan doa agar tahun depan bisa mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Ada pula kebiasaan yang masih berlanjut hingga hari ini seperti membagi-bagikan “ang pau” kepada anak-anak atau yang belum menikah, yang asalnya merupakan ungkapan rasa syukur dan membagi berkat kepada anak-anak atau yang belum menikah.

Bagi kita umat Kristiani, Tuhan sejak jauh hari telah memberikan janjiNya untuk memberkati kehidupan kita seutuhnya tanpa kekurangan. Mari kita baca Ulangan 28:1-14. “Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu. Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar. TUHAN akan membiarkan musuhmu yang maju berperang melawan engkau, terpukul kalah olehmu. Bersatu jalan mereka akan menyerangi engkau, tetapi bertujuh jalan mereka akan lari dari depanmu. TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 28:3-8). Ini janji Tuhan yang luar biasa pada kita semua. Sayangnya ayat-ayat indah ini seringkali dikutip secara sepihak, sehingga ketika yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang tertulis di atas, kita pun dengan mudah menyalahkan Tuhan dan menuduh Tuhan ingkar janji. Padahal untuk menerima berkat-berkat yang dijanjikan itu, ada yang harus kita lakukan terlebih dahulu. Demikian firman Tuhan: “Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu”(ay 2). Dan kemudian ditegaskan kembali pada penutup perikop ini. “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (ay 13-14). Kita diingatkan untuk selalu mendengarkan suara/perintah/firman Tuhan, dan harus senantiasa berjalan lurus sesuai firmanNya, tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan dengan mengikuti allah lain dan beribadah padanya.

Adat istiadat adalah warisan budaya yang memang baik untuk dilestarikan, tapi ingatlah bahwa jangan sampai adat istiadat itu malah lebih penting dari perintah Allah. Yesus sudah mengingatkan demikian: “Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.” (Markus 7:6-9). Ketika hal ini terjadi, bukan berkat yang kita terima, melainkan kebalikannya, yang tertulis dalam perikop lanjutan dalam Ulangan setelah berkat, yaitu kutuk. (Ulangan 28:15-46).

Adalah penting bagi kita untuk terus taat pada perintah Tuhan, menjaga diri kita untuk tetap berjalan lurus sesuai jalan yang berkenan di hadapan Tuhan, sehingga berkat-berkat yang dijanjikan Tuhan tidak terhalang untuk sampai pada kita. Tuhan tidak menjanjikan segala sesuatu yang sia-sia dan tidak akan pernah ingkar janji. Teruslah berjalan bersama Tuhan, yang akan selalu memberkati anda di kota dan di ladang, memberkati anda memasuki tahun baru hingga tahun berikutnya. Have a prosperous New Year.

Tuhan mendatangkan berkat bagi yang mendengar suaraNya, sebaliknya mendatangkan kutuk bagi yang melanggar hukumNya dan menyembah ilah lain

Renungan Harian Online

Cara Pandang Hidup

“Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu..” Matius 20:25-26a

Kalau orang keras, kita harus lebih keras lagi. Kalau tidak itu artinya kita menyerah kemudian kalah. Pandangan seperti ini dianggap benar bagi banyak orang. Malah tidak jarang pula orang menutupi kelemahan dan rasa tidak percaya dirinya dengan bersikap kasar. Kita banyak menjumpai orang-orang yang membentengi dirinya dengan sikap kasar ini karena sebenarnya mereka tahu bahwa mereka sangatlah lemah di dalam. Pemerintahan dengan tangan besi terjadi di banyak tempat, dan itupun mereka percaya sebagai solusi terbaik dalam membenahi negara. Di satu sisi memang kita harus bertindak tegas dalam menghadapi masalah, tetapi sayangnya ada banyak orang yang sulit membedakan antara tegas dan keras. Mereka berpikir bahwa tegas itu berarti keras dan kasar. Mereka berpikir bahwa orang akan hormat dan takut apabila kekuasaan ditunjukkan secara ekstrim, seperti membentak atau bahkan merendahkan orang lain.

Disisi lain banyak pula orang yang percaya bahwa untuk menang bertarung hidup di dunia yang keras dan kejam kita harus lebih keras dan lebih kejam lagi. Lupakan soal moral, abaikan kejujuran, kebaikan, keramahan, selanjutnya tabraklah segalanya, halalkan semua cara dan raihlah harta, pangkat, jabatan dan sejenisnya sebanyak-banyaknya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Lalu bersikaplah arogan, ketus, rendahkan orang lain agar diri sendiri terlihat tinggi. Halalkan segala cara, lakukan apa saja yang penting apa yang kita inginkan tercapai. Saling sikut menyikut, saling menjatuhkan, saling menjelekkan, fitnah, korupsi dan tindakan-tindakan amoral lainnya, semua itu bukan lagi sesuatu yang salah untuk dilakukan. Malah yang dianggap bodoh justru orang-orang yang tetap hidup lurus karena itu artinya mereka membuang kesempatan untuk bisa memperoleh segalanya.

Sesungguhnya ini bukanlah gambaran dari umat Tuhan. Alkitab dengan tegas justru berbicara sebaliknya. Jadi apabila hati dan pikiran kita sudah sampai kepada konsep seperti perilaku orang-orang di atas, itu artinya kita sudah sangat jauh dari Tuhan. Konsep kehidupan dan bertingkahlaku yang diajarkan Yesus sungguh bertolak belakang dengan apa yang dipercaya dunia sebagai tolok ukur keberhasilan atau kesuksesan. Lihatlah pengajaran-pengajaran Kristus tentang cara hidup dalam Kerajaan Allah yang terbalik seratus delapan puluh derajat dengan cara pikir dunia. Anda ingin menjadi yang terbesar? Dunia berkata kuasai sebanyak-banyaknya, tetapi Yesus mengajarkan kita sebaliknya. Justru kita harus merendahkan diri kita sejauh mungkin. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat apa yang tertulis di dalam Alkitab. “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.” (Matius 20:25) Pemerintah bangsa-bangsa dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan dengan “the rulers of the Gentiles”, yang bisa kita artikan sebagai para pemimpin bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka terus mengejar kepentingan dan kepuasan pribadi. Posisi orang percaya seharusnya tidak boleh seperti itu. Perhatikan kata Yesus selanjutnya: “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” (ay 26-27). Apakah ini hanya pepesan kosong, alias sesuatu yang hanya dikatakan semata? Tentu tidak, karena Yesus sudah mencontohkan langsung mengenai sikap tersebut lewat sikap hidupNya ketika ada di dunia ini. Dalam kesempatan lain Yesus juga menyampaikan: “Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” (Lukas 9:48). Berarti orang yang merasa dirinya sudah besar dan merasa berhak melakukan apapun sekehendak hatinya justru merupakan orang-orang kasihan yang terkecil di muka bumi ini.

Lalu selanjunya bagaimana dengan cara kita yang seharusnya dalam menghadapi musuh? Dunia mengajarkan kita untuk membinasakan musuh, kalau perlu menghancurkan mereka berkeping-keping. Hancurkan sebelum kita dihancurkan. Jangan sekedar hancur, tapi kalau bisa berkeping-keping. Kalaupun orang lain harus terkena korban, itu salah mereka. Siapa suruh dekat-dekat dengan musuh. Itu pikiran dunia yang sering kita lihat hari ini. Minimal berikan fitnah, hancurkan secara moral sampai mereka tidak berkutik lagi. Tetapi lagi-lagi Yesus mengajarkan sebaliknya. “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (ay 38-39). Bukan hanya mengalah dan tidak melawan, tetapi lebih lanjut Yesus mengatakan “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:43-44). That’s another step of love. Musuh bukan untuk dihancurkan, tetapi untuk dikasihi, dibantu dan didoakan. Ini sebuah pengajaran yang mendobrak tatanan atau konsep pemikiran secara radikal pada saat itu. Dan hari ini pun masih tetap sama kontroversialnya, terlebih ketika kita melihat orang-orang yang bisa dengan dingin membunuh atau membantai secara masal dengan mengatasnamakan golongan tertentu, sementara negara seolah tidak sanggup berbuat apa-apa, menunjukkan sikap ketakutan dengan terus membiarkan segalanya terjadi.

Yesus mengajarkan konsep kehidupan yang berbanding terbalik dengan apa yang dipercaya dunia sebagai kunci kesuksesan atau kemenangan. Ketika dunia menghalalkan segala cara, kita dituntut untuk melakukan segala sesuatu dengan jujur, tulus dan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, dan kemudian menyerahkan semuanya sesuai dengan kehendak Tuhan sambil disertai dengan rasa syukur. Ketika dunia mengajarkan kebencian, kita diajarkan untuk mengasihi. Ketika dunia cenderung mencari pembenaran atas segala kekejian, kita diminta untuk bersikap lembut hati dan mau mengakui kesalahan kita. Dunia boleh membenci, tetapi kita mengasihi. Dunia boleh kasar, tapi kita harus lembut. Dunia boleh menumpuk harta, tapi kita harus memberi. Kesombongan tidak ada dalam kamus kita, dan harus diganti dengan kerendahan hati. Semakin tinggi kita naik, kita harus semakin rendah hati. Bukankah bulir padi yang siap tuai pun merunduk? Alkitab sudah menjelaskan bagaimana seharusnya sikap hidup kita. Memberi bantuan dan mengasihi tanpa pandang bulu, termasuk kepada musuh kita. Dunia boleh saja tidak berlaku seperti itu, tapi kita harus mencerminkan terang Tuhan bagi sesama kita. Itu adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar. Mudah? Tentu tidak. Tapi Roh Kudus tentu akan memampukan kita memiliki sikap hati yang lembut jika kita mengijinkannya. Siapkah anda menjadi pribadi yang berbeda dengan dunia dan mencerminkan terang yang bersinar dalam kegelapan?

Ketika dunia membenci, kita mengasihi

“When Life knocks you down to your knees, just remember that, you are in the perfect position to PRAY”

Menyerah?? NO

Baca: Matius 8:1-4

Kita tahu bahwa semua orang mempunyai persoalan, terlepas dari persoalannya yang berbeda. Hal itu wajar dan tentunya kita semua setuju. Tetapi jika hal itu wajar, mengapa ending dari setiap persoalan yang dialami setiap orang berbeda? Ada orang merasakan sukacita karena telah menyelesaikan persoalan dengan baik. Tetapi ada juga orang yang mungkin sampai mati tidak dapat menyelesaikan persoalan, bahkan meninggalkan persoalan bagi anak cucunya.

Perikop yang kita baca menceritakan ada seorang yang sakit kusta, tetapi pada akhirnya ia disembuhkan dan terhindar dari ancaman kematian. Tetapi Alkitab menceritakan hanya satu orang saja yang sembuh. Saya percaya ada banyak orang kusta pada waktu itu. Tetapi kenapa hanya satu saja yang sembuh? Malam hari ini kita belajar dari si kusta yang mengalami kemenangan atas sakit penyakitnya. Apa yang dapat kita pelajari dari orang kusta ini.

1. Punya pengharapan

Sakit kusta pada waktu itu merupakan sakit yang mengerikan. Umat Israel percaya sakit itu adalah sakit kutuk akibat dosa. Sakit yang tidak ada obatnya. Seperti mayat hidup. Tinggal tunggu waktu mati saja. Pada waktu saya percaya orang yang sakit kusta, bukan hanya rasa sakit fisik yang dirasakan. Secara fisik ya memang sakit. Mental pun juga sakit. Seorang yang sakit kusta harus dipisahkan, harus dijauhkan dari komunitas masyarakat yang ada, termasuk dijauhkan dari keluarganya. Saudara dapat bayangkan jika menemui orang-orang yang disisihkan, dianggap beban bagi keluarganya sendiri. Tetapi yang luar biasa orang ini tidak putus asa. Pada waktu itu Tuhan Yesus sudah ngetop sebagai seorang penyembuh. Saya percaya pengharapannya timbul oleh karena ia mendengar tentang Yesus. Sebuah ilustrasi yang saya kutip dari sebuah web, mungkin kita sering dengar. Dua ekor katak tak sengaja terjatuh ke dalam sebuah tong yang penuh dengan krim. Mereka berenang ke sana ke mari dengan panik dan berusaha melompat keluar dari tong itu. Akhirnya, ada seekor katak yang kelelahan dan menyerah. Dia mengeluh, “Tidak ada gunanya berenang ke sana ke mari!” Dia mengayunkan kakinya untuk terakhir kalinya, lalu tenggelam dalam keputusasaan. Dia gagal. Tinggal sang katak yang lainnya. Dia benar-benar berbeda. Dia tidak mau menyerah. Selalu ada jalan keluar, pikirnya. Dia terus berenang, mempertahankan hidupnya. Dan suatu kejutan baginya. Krim itu perlahan tapi pasti mulai berubah. Ya, berubah mengeras dan menjadi mentega. Akhirnya, dia mendapat pijakan yang kuat dan melompat keluar dari tong itu. Ah, jika saja Anda tidak menyerah dan terus berusaha, Anda pasti bisa menendang masalah itu keluar dari kehidupan Anda.

Pengharapan itu penting. Baik buruk perjalanan hidup seseorang ditentukan oleh keyakinan akan sebuah pengharapan. Pengharapan adalah keyakinan tentang apa yang belum ia lihat, tetapi yakin akan mendapatkannya. Ada pepatah berkata seperti ini: “di dalam kehidupan ini tidak ada yang pasti, tetapi kita harus bisa memastikan apa yang kita ingin raih atau kita rindukan.” Pengharapan bicara tentang optimisme. Orang yang optimis menciptakan helikopter, tetapi orang yang pesimis menciptakan parasut. Bagaimana agar kita menjadi orang yang berpengharapan?

Tetap fokus, tetap yakin Tuhan tolong, tetap percaya bahwa ada sesuatu yang indah Tuhan sediakan bagi orang-orang yang mempunyai pengharapan. Ibrani 9:19a berkata: “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita …”

2. Mau bayar harga

Orang ini berani bayar harga. Ada tantangan bagi orang kusta ini untuk mendekati Yesus (Baca Im. 13:45-46). Resiko yang harus dia terima. 1) Penolakan. 2) Dilempari batu. Dan itu sah-sah saja. Hukum Taurat mengajarkannya. Tetapi orang ini tidak mempedulikan apa yang dialaminya. Yang ia pikirkan “jika aku bertemu Yesus aku pasti sembuh.” Saya percaya banyak orang kusta pada waktu itu penuh pertimbangan yang besar, jika harus datang ke kerumunan orang, dan akhirnya ia memilih untuk tetap berdiri di tempatnya. Dan hasilnya dia tidak mengalami perubahan. Dan menyerah dengan sakit kusta yang sedang mengancam hidupnya. Orang yang disembuhkan Yesus adalah orang yang mau bayar harga, agar hidunya mengalami perubahan yang lebih baik lagi. Grace Murray Hopper berkata: “Kapal akan aman bila berada di pelabuhan, tetapi kapal tidak diciptakan untuk itu.”

Banyak orang ingin mengalami perubahan hidup yang lebih baik lagi, tetapi takut bayar harga, tetap berdiri di tempat, tidak mau berubah, tidak mau mencoba, tidak mau bergerak. Jangan harap saudara akan diberkati lebih lagi. Saudara malas berdoa, malas baca firman, malas beribadah, gereja membutuhkan dana saudara pelitnya setengah mati, jangan harap Anda diberkati Tuhan. Tidak ada perubahan, kecuali Anda sendiri yang mengawali gerakan. Tuhan menghargai orang-orang yang berusaha.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan berjumpa dengan Yesus

Ketika mendengar ada Yesus langsung datang menghampiri. Bagi dia itu adalah kesempatan untuk merubah nasib hidupnya. Ada berapa banyak di antara kita orang-orang percaya yang menyia-nyiakan saat-saat bersama dengan Tuhan. Waktu ibadah minggu jalan-jalan bersama keluarga hanya untuk refreshing. Hal yang prinsip dan penting bagi hidup ditinggalkan. Sementara ia ngotot berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan. Bukankah Tuhan akan memberkati orang-orang yang memprioritaskan Allah? Ada kesempatan berdoa tetapi tidak mau berdoa? Dapatkah saudara bayangkan ada berapa banyak orang percaya di dunia yang tidak dapat bebas memuji Tuhan, beribadah?

3. Berserah total

“Jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan Aku.” Kata tahir. Benar-benar sembuh. Kalau luka kita obati sembuh tetapi ada bekasnya. Tetapi tahir yang disebut di dalam perikop ini adalah tahir yang sembuh total tanpa ada bekasnya, dibuat baru kembali. Begitu sempurna. Ada sikap hati yang luar biasa yang dipunyai orang ini. Dan Alkitab mencatat satu-satunya orang yang demikian. Saya akan tunjukkan buat kita semua. Kalau saudara perhatikan perjalanan Yesus di dunia yang dicatat dalam Injil, saudara akan menemukan begitu banyak orang yang sakit maupun kerasukan datang kepada Yesus meminta pertolonganNya. Semua mereka meminta dengan cara yang sama. Memuji Yesus Mesias, Yesus Anak Allah, Yesus Anak Daud, endingnya berkata sembuhkan aku, tolong aku, bahkan ada yang memaksa (Perempuan Siro-Fenisia). Saya tidak berkata itu salah. Saya hanya mau sampaikan sikap hatinya yang berbeda. Dia menyerah. Perhatikan kata-katanya yang disampaikan kepada Yesus. (di Taman Getsemani, Yesus pun berkata kepada Bapa-Nya, “kalau Bapa mau”). Tidak semua apa yang kita doakan Tuhan jawab. Tetapi itu adalah saat-saat Tuhan ingin kehendak-Nya yang jadi. Mari kita belajar berserah, karena hanya Tuhan yang tahu yang terbaik bagi kita. Tuhan memberkati.

Harga Sebuah Nyawa

“..Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 16:26

Berapakah harga sebuah nyawa? Seratus juta? Seratus miliar? Tentu sulit bagi kita untuk menyebutkan sembarang angka, bahkan angka yang mungkin besar sekalipun. Pada kenyataannya ada banyak orang yang tega menghabisi nyawa ibu/ayah, saudara atau temannya hanya gara-gara jumlah uang yang relatif kecil seperti yang kita baca di koran-koran. Hanya karena beda beberapa ratus rupiah orang bisa membunuh. Atau orang yang akhirnya mengakhiri hidupnya hanya karena tidak mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Ada sebuah berita seorang anak sekolah memilih untuk bunuh diri karena tidak kunjung dibelikan handphone oleh orang tuanya yang hidup pas-pasan. Jadi nilai sebuah nyawa di mata orang kelihatannya berbeda. Tapi seandainya kita menilai nyawa kita berharga sangat tinggi sekalipun, kita tidak akan bisa menentukan sebuah harga pasti yang kita anggap layak untuk menggantikan nyawa kita.

Yesus pernah mempertanyakan pertanyaan serius ini pada suatu kali. “..Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26). Hal ini ditanyakan Kristus mengacu kepada panggilanNya kepada orang percaya, ketika Dia memberitahukan syarat untuk mengikutiNya dan mendapatkan keselamatan. Kita tahu bahwa setiap kita orang percaya yang mau mengikuti Yesus harus siap menyangkal diri dan memikul salib. (ay 24). Segala harta benda kemewahan bisa kita peroleh di dunia ini. Tapi cukupkah itu untuk membayar nyawa kita untuk selamat? Dapatkah kita membayar Tuhan dengan sejumlah harta dengan imbalan untuk memperoleh keselamatan? Tentu tidak. Pemazmur juga pernah mengalami perenungan seperti ini ketika Penulisnya berhadapan dengan orang-orang sesat yang selalu memegahkan diri dengan harta kekayaan dan begitu mengandalkannya dalam hidup mereka. Pemazmur berkata “Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya.” (Mazmur 49:8-9). Harga pembebasan nyawa sesungguhnya sangatlah mahal, sehingga tidak ada harta yang sanggup membayarnya. Tidak heran jika Salomo pun menggambarkan kekayaan tanpa penyertaan Tuhan hanya akan berakhir sia-sia, seperti yang kita lihat dalam renungan kemarin. Yesus sendiri mengajarkan bahwa kita harus mengumpulkan harta di sorga dan bukan di dunia. (Matius 9:20). Semua ini telah mengajarkan kita bahwa berapa pun nilai harta yang kita miliki di dunia ini, meski memiliki seluruh dunia sekalipun, kenyataannya itu belumlah cukup untuk menebus nyawa kita supaya selamat.

Lalu bagaimana? Ketahuilah bahwa sebenarnya Tuhan telah terlebih dahulu menilai diri kita dengan sangat tinggi. Begitu tinggi, hingga Kristus pun diberikan kepada kita agar tidak satupun kita ada yang harus binasa. Penulis Mazmur dalam Mazmur 49 menjabarkan panjang lebar mengenai kebodohan dan kesia-siaan orang yang mengandalkan harta bendanya lebih dari keselamatan jiwa mereka. Tapi perhatikanlah ayat 16. Tuhan berjanji seperti ini. “Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku.” (Mazmur 49:16). Dan itu digenapi dengan kehadiran Kristus turun ke dunia Bukan dengan harta kekayaan kita, tapi melalui kasih karunia. Yesus hadir di dunia menebus lunas semua dosa-dosa dan kesesatan kita, mendamaikan hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan semua itu terjadi sebagai kasih karunia atas besarnya nilai kita di mata Tuhan. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13). Yes, no greater love than that. Dan Yesus telah memberi bukti langsung dengan memberikan nyawaNya kepada kita semua.

Lewat Paulus firman Tuhan berkata “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Roma 5:10). Jika yang masih dalam keadaan bermusuhan saja Allah begitu peduli dan mau mengambil inisiatif untuk berdamai lewat kematian AnakNya, apalagi kita saat ini yang hidup dalam masa ketika hubungan yang telah dipulihkan. Semua itu karena kasih Allah begitu besar kepada kita, begitu besar sehingga Dia mengaruniakan AnakNya yang tunggal untuk turun ke dunia, mengambil rupa seorang hamba dan menuntaskan tugas sepenuhnya lewat penderitaan hingga kematian dengan cara yang mengerikan. Dan ketika Yesus berkata: “Sudah Selesai”, di saat itu pula kita menerima perdamaian dan penebusan secara total atas kasih karunia, sebuah pemberian yang begitu luar biasa besarnya.

Tidak ada satupun nilai secara materi secara terukur yang mampu dipakai untuk menebus sebuah nyawa. Tapi kita sudah mendapat penebusan itu. Jika penebusan itu hari ini hadir kepada kita, semua itu adalah lewat karya Kristus yang menggenapi kehendak Allah atas dasar kasih yang begitu luar biasa besarnya kepada kita, manusia yang tidak layak ini. “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1 Petrus 1:18-19). Sebesar itulah nyawa kita bernilai di mata Tuhan!

Sudahkah kita menghargai nyawa kita sendiri dengan layak? Atau kita masih begitu mudah terjebak pada hal-hal yang sebenarnya sangat berpotensi untuk menghancurkannya, bukan saja di dunia yang fana ini tapi juga menuju ke dalam maut yang penuh siksaan kekal? “Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka.” (Mazmur 49:15). Jangan sampai hal seperti ini menjadi bagian kita, karena Tuhan sudah mengulurkan tangan dan berinisiatif secara luar biasa untuk memberikan kita jaminan keselamatan, untuk bersama-sama denganNya pada suatu saat nanti di KerajaanNya. Semua itu tergantung dari keputusan kita, apakah kita mau menyambut uluran tanganNya atau tidak, karena sesungguhnya kita begitu berharga dan bernilai sangat tinggi di mata Tuhan. Hari ini seandainya anda bertanya, berapakah nilai anda, pandanglah palungan Kristus di kandang domba dan salib yang terpancang di Golgota. Seperti itulah anda berharga di mata Tuhan.

Bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat

Give The Best

“Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat?” Maleakhi 1:8a

Menjelang hari Natal yang tinggal sebulan lagi, toko-toko akan mulai memajang parcel atau bingkisan dalam berbagai ukuran dan isi dengan harga yang berbeda-beda. Parcel merupakan salah satu cara yang kerap dipakai orang untuk menyampaikan ucapan terima kasih, ucapan selamat dan sebagainya kepada teman, keluarga, atasan, kolega, rekanan bisnis dan orang-orang lain yang kita anggap penting untuk diberikan sesuatu pada perayaan hari besar, termasuk Natal di dalamnya. Parcel itu disusun sedemikian rupa sehingga terlihat indah, berisikan berbagai macam produk atau benda di dalamnya, dan dibungkus dengan rapi dan indah. Bentuk paketnya pun tersedia dalam beragam variasi. Ada yang dikemas dalam produk makanan/minuman, parcel peralatan elektronik, aksesoris, produk kecantikan atau buah-buahan. Ada beberapa toko yang nakal mempergunakan kesempatan ini untuk menghabiskan barang-barang mereka yang sudah kadaluwarsa atau kemasannya rusak. Parcel yang sudah terbungkus rapi dari awal akan membuat pembelinya tidak tahu apakah isinya masih layak dikonsumsi atau tidak. Saya pernah berbisnis parcel bersama beberapa teman saya ketika masih kuliah, dan saya tahu bahwa merangkai produk-produk itu agar terlihat indah tidaklah semudah yang diperkirakan. Satu hal yang pasti, kita akan berusaha memberikan yang terbaik sesuai kemampuan kita untuk mereka yang kita anggap penting untuk diberi bingkisan. Semakin penting orangnya, biasanya paket pun akan semakin mewah pula.

Jika kepada manusia kita berusaha untuk memberikan yang terbaik, bagaimana ketika kita memberi untuk Tuhan? Mari ambil salah satu contoh ketika kita memberi persembahan di Gereja. Seringkali orang tidak memperhatikan kondisi uang yang dimasukkan ke dalam kantong persembahan. Ada begitu banyak uang yang dalam kondisi dilipat-lipat kecil, ada yang kusut, lusuh, bahkan ada yang sobek karena uang tersebut diremas-remas sedemikian rupa terkadang sampai dalam bentuk yang sangat ekstrim. Memang secara nominal uang itu masih utuh dan bisa dipergunakan, namun jelas itu bukanlah dalam kondisi yang baik secara fisik. Jika kita kembali pada parcel di atas, bukankah makanan di dalam parcel itu masih bisa dimakan tanpa disusun rapi? Tapi kita menyusunnya dengan baik, dibungkus indah, karena kita menghormati orang yang diberi dan ingin memberikan yang terbaik buat mereka. Seperti itu pula ketika kita memberi persembahan. Seharusnya kita lebih memperhatikan dengan lebih serius lagi, karena kita memberi persembahan bagi Tuhan. Betul, kita memberikan kepada gereja, dan tidak langsung kepada Tuhan. Tapi bukankah apa yang kita persembahkan itu akan dipergunakan oleh gereja untuk pekerjaan Tuhan, pelebaran kerajaanNya dimana Allah sendiri yang dimuliakan? Bukankah ketika kita memberi persembahan itu sebenarnya kita sedang menunaikan kewajiban kita untuk mengembalikan sesuatu yang menjadi kewajiban kita kepada Allah?

Ayat hari ini diambil dari kitab Maleakhi, dimana Tuhan menunjukkan kekecewaanNya ketika kepadanya dipersembahkan kurban binatang dalam kondisi yang tidak selayaknya Dia terima. Apa yang dipersembahkan orang Israel waktu itu memang keterlaluan. Bukannya memberikan persembahan terbaik, namun mereka malah memberikan binatang yang timpang dan sakit. Yang baik dipakai untuk diri sendiri, sedang yang kondisinya buruk atau sisa diberikan kepada Tuhan. Dan Tuhanpun menganggap itu jahat. “Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat?” (Maleakhi 1:8a). Tuhan menganggap hal ini sebagai sebuah bentuk penghinaan bagiNya. Selanjutnya Tuhan pun membandingkan dengan pemberian kepada para pemimpin atau orang-orang yang berpengaruh di dunia. “Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.” (ay 8b). Ya, bukankah ironis ketika kita memberi yang terbaik kepada orang-orang yang kita hormati di dunia, tapi di sisi lain kita memberikan asal-asalan kepada Tuhan semesta alam? Katakanlah apabila walikota datang berkunjung ke rumah anda, apakah anda akan asal-asalan menyediakan sesuatu untuk menyambutnya? Rasanya tidak. Jika buat mereka saja kita berusaha memberi yang terbaik, apalagi kepada Tuhan. Ingatlah betapa Tuhan mengasihi kita. Dia selalu memberikan rancangan yang terbaik bagi kita, menyediakan yang terbaik bagi kita, bahkan menganugrahkan Kristus, anakNya sendiri untuk menyelamatkan kita. Betapa keterlaluan jika kita membalasnya dengan sekedar memberikan tanpa ada rasa hormat. Tuhan lebih dari sekedar layak untuk dihormati jauh dari itu. Mari kita lihat ayat sebelumnya. “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” (ay 6). Singkatnya, Tuhan mempertanyakan kepada kita demikian: “Jika benar Aku BapaMu, dimana penghargaan, hormat dan takutmu kepadaKu?”

Ketika memberi, memberilah dengan sopan dan hormat. Kita memberikan persembahan kepada Tuhan yang bukan saja telah menciptakan kita, tapi juga melindungi, menyertai dan mengasihi kita lebih dari segalanya. Tuhan sangat layak menerima pemberian yang terbaik dari anak-anakNya. Ketika kita memberikan dengan sungguh hati atas besarnya kasih kita kepadaNya, kita seharusnya juga memberikan apa yang terbaik dari kita. Di atas segalanya pemberian yang bisa kita lakukan, Yesus mengingatkan kita bahwa mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi manusia seperti diri sendiri jauh lebih baik daripada semua korban. “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” (Markus 12:33). Lebih dari bentuk persembahan apapun, sesungguhnya bentuk persembahan yang terbaik yang bisa kita berikan tidak lain adalah diri kita sendiri. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Sebegitu seriusnya sehingga dikatakan bahwa persembahan tubuh kita sendiri sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah merupakan ibadah yang sejati, yang sesungguhnya. Sebuah bentuk kehidupan yang menjaga kekudusan, tidak terpengaruh oleh berbagai tawaran di dunia, terus berusaha untuk menjadi lebih baik, mampu membedakan kehendak Allah, dan tahu apa yang berkenan dan sempurna untuk diberikan kepada Allah, itulah tubuh kita yang layak dipersembahkan kepada Tuhan.

Dalam bersyukur kepada Tuhan, hendaklah kita memberi yang terbaik kepadaNya dengan penuh hormat dan takut, karena kita mengasihiNya. Kita bisa memberi sesuatu yang terbaik yang bisa kita berikan, tapi ingatlah bahwa lebih dari semua itu, persembahkanlah hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Bukan hidup yang acak-acakan dan penuh dosa, tapi sebuah hidup yang kudus dan bersih, hidup yang bertumbuh dan berbuah dalam Roh, sebagai sebuah persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Allah sudah memberikan segala yang terbaik untuk kita. Mari kita melakukan giliran kita untuk memberikan segala yang terbaik pula bagi Tuhan.

Give nothing but the best to the Lord

Sumber : Renungan harian online

Jauh Melebihi Emas Murni

“Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua.”

Semakin lama semakin banyak orang yang lebih suka berinvestasi dalam logam emas ketimbang menabung uang di bank. Kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu membuat nilai tukar mata uang menjadi sulit diprediksi. Ketika tiba-tiba terjadi goncangan, nilai mata uang ini bisa anjlok seketika. Belum lagi jika bank yang bersangkutan mengalami masalah serius. Pemerintah memang menjamin, tetapi bayangkan betapa repot urusannya. Selain itu menabung dalam bentuk emas dianggap akan memberikan keuntungan yang lebih jika dibandingkan kisaran bunga yang ditawarkan oleh bank. Jika menyimpan dalam bentuk emas yang sudah menjadi perhiasan saja sudah menguntungkan, bayangkan apabila investasi dilakukan dalam bentuk emas murni, emas 24 karat alias emas dengan kadar kemurnian 99.99%. Harga emas dinilai banyak orang jauh lebih stabil dibanding nilai mata tukar uang dan tidak terlalu terpengaruh oleh berbagai goncangan moneter atau ekonomi dunia. Bahkan ketika krisis ekonomi terjadi beberapa tahun yang lalu, ada negara yang pulih dengan cepat karena ternyata mereka memiliki cadangan emas yang banyak. Ini menunjukkan betapa berharganya emas di dunia.

Tidak ada satupun dari kita yang tidak setuju bahwa emas merupakan logam yang sangat tinggi harganya dan menjanjikan keuntungan besar bagi pemiliknya, bahkan seperti yang saya sebut tadi, bisa pula menyelamatkan sebuah negara dari kehancuran akibat krisis global. Tetapi dengarlah kata Daud, bahwa ada sesuatu yang ternyata jauh lebih berharga dibandingkan emas, bahkan emas murni atau emas yang sudah lama sekalipun. Apakah itu? Daud menyebutkan bahwa apa yang jauh lebih berharga dari emas itu tidak lain adalah Firman Tuhan. “Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua.” (Mazmur 119:127). Betapa berharganya, betapa bernilainya, betapa berkuasanya firman Tuhan. “I love your commandments more than gold, even more than refined gold..” itu kata Daud. Jauh lebih berharga dari emas murni sekalipun. Dalam waktu lain Daud juga mengatakan “..hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.” (19:10-11). Disini Daud kembali menggambarkan secara puitis bahwa Firman Tuhan sangatlah berharga dan bernilai, jauh melebihi apapun yang paling berharga yang pernah ada di muka bumi ini. Perhatikan bahwa hal ini dikatakan oleh Daud, seorang Raja Israel dengan harta yang banyak. Artinya, meski Daud tahu bagaimana tinggi nilai emas itu, ia menyadari bahwa itu tetaplah tidak sebanding dengan tingginya nilai Firman Tuhan.

Mengapa Daud bisa menilai Firman Tuhan ini dengan begitu tingginya? Mari kita lihat awal dari Injil Yohanes.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” (Yohanes 1:1-5).

Lihatlah bahwa Firman itu sudah ada sejak semula, dalam bahasa Inggrisnya dikatakan “in the beginning (before all time)” alias sebelum waktu bermula, sebelum ada apapun di jagat raya ini. Lalu diaktakan bahwa Firman itu ada bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah sendiri. Artinya di dalam Firman itu ada kuasa yang sangat besar seperti halnya kuasa Tuhan yang tidak terbatas. Jika kita tidak bisa bertemu langsung dengan Tuhan seperti halnya anda bertemu dengan manusia, Firman Tuhan memungkinkan kita untuk terhubung langsung dengan Tuhan secara face to face lewat Firman-FirmanNya yang tertulis lengkap di dalam Alkitab. Mengapa? Sebab Firman itu adalah Allah. The Word was God Himself. Itu artinya dengan berhadapan dengan Firman Tuhan maka kita pun sebenarnya tengah berhadapan dengan Tuhan sendiri. Ada kuasa disana, ada perlindungan, ada pertolongan, ada solusi atau jawaban dari setiap persoalan hidup, ada peringatan, ada teguran, ada nasihat, ada tuntunan, ada kunci-kunci rahasia kehidupan, ada mukjizat, dan yang jauh lebih penting, ada janji keselamatan yang kekal bagi kita setelah meninggalkan dunia yang fana ini. Jika demikian, tidakkah Firman ini jauh lebih berharga ketimbang emas murni?

Selanjutnya Penulis Ibrani mengatakan bahwa Firman itu “hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12). Lihatlah betapa besar kekuatan dari Firman Allah yang hidup ini. Saya setiap hari menulis renungan selama 4 tahun tanpa jeda sedikitpun, itu bukan karena saya sudah sangat sempurna tanpa kesalahan atau kekurangan. Tidak. Saya pun manusia biasa yang tidak terlepas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan. Seringkali apa yang saya tulis merupakan teguran bagi diri saya sendiri, dan setiap saya menulis, itu artinya ada sesuatu yang baru yang menjadi pelajaran bagi saya untuk lebih baik lagi kedepannya. Dalam banyak kesempatan, seringkali dari ayat yang sama saya memperoleh sesuatu yang berbeda dalam kesempatan yang berbeda. Saya mengalami sendiri betapa Alkitab telah menyediakan jawaban atas segala permasalahan yang kita hadapi. Alkitab memberi begitu banyak kunci bagaimana agar kita keluar sebagai pemenang pada akhirnya, dan alangkah sayangnya apabila kita tidak mengetahui segala yang telah dibukakan Allah hanya karena kita terlalu malas membuka Alkitab kita setiap hari. Alangkah sayangnya jika sesuatu yang jauh lebih berharga dari emas murni 24 karat malah kita sia-siakan.

God’s Words are powerful and alive. It’s miraculous, it’s amazing. Kita sangat membutuhkan kekuatan untuk menghadapi hari-hari yang melelahkan, dan Tuhan terus berbicara kepada kita lewat FirmanNya. Firman Tuhan selalu bagaikan setetes embun penyejuk yang menyegarkan jiwa, bahkan mampu memberi energi atau tenaga tambahan sekaligus memberi kelegaan dan ketenangan dalam situasi-situasi sulit. Tuhan menyatakan: “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia ” (Yesaya 55:11), dan itu benar adanya menurut pengalaman saya sendiri. Semoga hal yang sama bisa berlaku pula buat teman-teman sekalian. Ada banyak saudara kita yang kesulitan mendapat akses untuk bisa membaca Firman Tuhan karena banyak hal. Mungkin mereka berada di tempat terpencil atau di tempat yang tidak mengijinkan mereka untuk menghidupi keyakinannya. Jika anda tidak mendapat kesulitan hari ini untuk bisa berdiam di dalam hadiratNya, mendengar suaraNya yang lembut dan terus dipenuhi dengan curahan kasihNya lewat firman-firmanNya, bersyukurlah untuk itu dan jangan buang-buang kesempatan seperti itu. Bagi teman-teman yang sulit mendapatkan akses, saya hanya ingin mengingatkan bahwa kasih Tuhan tetap hadir dalam diri anda semua, mengasihi anda dan akan selalu memberkati anda. Sesuatu yang jauh lebih berharga dari emas murni sedang menanti anda saat ini juga, Tuhan menanti anda untuk mendengarkan suaraNya.

Firman Tuhan hidup dan berkuasa, jauh lebih berharga dari emas murni sebanyak apapun

RASA TAKUT : Jangan Diplihara !

“Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Mazmur 118:6

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata takut berarti merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana. Rasa takut yang ‘dipelihara’ akan menimbulkan dampak yang buruk tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Ketika hendak berperang melawan bangsa Midian Tuhan memerintahkan Gideon untuk memisahkan tentara yang takut dan gentar. Tuhan berkata, “Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang, enyah dari pegunungan Gilead. Lalu pulanglah dua puluh dua ribu orang dari rakyat itu dan tinggallah sepuluh ribu orang.” (Hakim-Hakim 7:3a). Mengapa? Karena ketakutan itu bisa menjalar dan mempengaruhi yang lain. Rasa takut juga bisa menjadi penghalang utama dalam merebut kemenangan dan janji-janji Tuhan. Itulah sebabnya tentara yang penakut tidak boleh turut berperang.

Mengapa rasa takut harus dikalahkan? Karena ketakutan adalah salah satu senjata yang digunakan Iblis untuk menghancurkan kehidupan orang percaya. Karena itu “…janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:27). Jangan memberi celah sedikit pun kepada Iblis karena ketika kita berkompromi, Iblis akan memasuki wilayah kehidupan kita. Kompromi akan membawa kita kepada kekalahan dan kehancuran karena ketika berada dalam persoalan atau tekanan, rasa takut membuat orang mudah putus asa, kehilangan semangat dan pada akhirnya akan menyerah pada keadaan. Inilah yang menjadi musuh iman! Contoh: menyerah pada keadaan. Inilah yang menjadi musuh iman! Contoh: ketika dikejar-kejar oleh Firaun dan pasukannya, bangsa Israel mengalami ketakutan yang luar biasa sehingga mereka menjadi putus asa, tidak mau melanjutkan perjalanan dan ingin kembali saja ke Mesir.

Bagaimana kita dapat menang atas ketakutan? Kita harus mengandalkan Tuhan dalam segala hal (baca Yeremia 17:7). Simak pernyataan Daud, “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur 56:4-5). Banyak orang Kristen yang mengandalkan kekayaan yang dimiliki, padahal Alkitab menegaskan bahwa kekayaan itu memiliki sayap dan dapat terbang atau bisa lenyap sewaktu-waktu (baca Amsal 23:4-5).

Jangan takut, Tuhan menyertai kita!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 September 2011 -

Apakah DOA Mengubah Sesuatu ?

Mereka mengatakan bahwa doa mengubah sesuatu, tetapi apakah doa SUNGGUH dapat mengubah segala sesuatu ?

Ya! DOA SUNGGUH DAPAT MENGUBAH SEGALA SESUATU!

Apakah doa dapat mengubah suatu keadaan secara tiba-tiba ?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah caramu memandang situasi tersebut!

Apakah doa mengubah kondisi keuanganmu dimasa depan?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah kepada siapa engkau berharap untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari!

Apakah doa mengubah hati yang hancur atau tubuh yang rusak ?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah sumber kekuatan dan sumber penghiburanmu!

Apakah doa mengubah apa yang kau butuhkan dan inginkan ?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah kebutuhanmu menjadi sesuai dengan keinginan Tuhan!

Apakah doa mengubah caramu melihat dunia?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah dengan mata siapa kau akan melihat dunia!

Apakah doa mengubah penyesalanmu di masa lalu?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah harapanmu di masa depan!

Apakah doa mengubah orang-orang disekitarmu ?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubahmu-masalah tidak selalu terletak dalam diri orang-orang disekitarmu!

Apakah doa mengubah hidupmu dengan cara yang tidak dapat kau jelaskan?

Oh, ya, selalu! dan Doa akan benar- benar mengubah seluruh dirimu!

Apakah doa sungguh mengubah segala sesuatu ?

YA, doa sungguh mengubah segala sesuatu.

Masa Dalam Kehidupan…..

Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku…. Janganlah membuang aku pada masa tuaku (Mazmur 71:6,9)

Ketika masih muda, kita tak sabar menunggu masa dewasa. Ketika sudah tua, kita merindukan kembali masa muda yang sudah berlalu. Sungguh ironis!

Allah ingin kita menerima setiap masa dalam hidup dengan sukacita. Berapa pun usia kita, Dia meminta kita berjalan menuju kehendak-Nya, dan menerima setiap pergumulan yang Dia izinkan terjadi seiring dengan kekuatan yang Dia sediakan.

Seorang wanita yang menghadapi cobaan karena bertambahnya usia bertanya kepada J. Robertson McQuilkin, seorang utusan Injil, “Mengapa Allah membiarkan kita menjadi tua dan lemah?” McQuilkin berpikir sejenak dan menjawab, “Saya pikir, Allah telah merancang bahwa kekuatan dan kecantikan orang muda bersifat jasmani. Namun, kekuatan dan kecantikan usia tua bersifat rohani. Lambat laun kita kehilangan kekuatan dan kecantikan yang sementara itu, sehingga dapat memusatkan perhatian pada kekuatan dan kecantikan yang kekal. Dengan demikian kita berhasrat meninggalkan bagian dari diri kita yang sementara dan memburuk, dan sungguh-sungguh merindukan rumah abadi kita. Jika kita tetap muda, kuat dan cantik, kita tidak akan pernah mau meninggalkannya.”

Apakah Anda berada di musim semi kehidupan? Percayalah pada waktu Allah dalam mewujudkan impian Anda. Apakah Anda berada di musim panas atau musim gugur? Hadapilah tantangan yang Anda jumpai setiap hari. Dan bila Anda merasakan dinginnya musim dingin, berusahalah mengenal Allah dengan lebih baik. Kehadiran-Nya dapat menjadikan setiap masa dalam hidup Anda penuh dengan kekuatan dan kecantikan.

Only this hour is mine, Lord –

May it be used for Thee;

May every passing moment

Count for eternity. –Christiansen

PENYERAHAN DIRI KEPADA KRISTUS BUKANLAH PILIHAN SATU KALI MELAINKAN TANTANGAN SETIAP HARI

Kekuatan Di dalam Diri Kita

Ada kekuatan di dalam cinta,

Orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat

Karena ia bisa mengalahkan keinginannya Untuk mementingkan diri sendiri.

Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan,

Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan

Ada kekuatan di dalam kedamaian diri

Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah tergoyahkan

Dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Ada kekuatan di dalam kesabaran,

Orang yang sabar adalah orang yang kuat Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu Dan ia tidak pernah merasa disakiti.

Ada kekuatan di dalam kemurahan,

Orang yang murah hati adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya

Untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.

Ada kekuatan di dalam kebaikan,

Orang yang baik adalah orang yang kuat Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang

Ada kekuatan di dalam kesetiaan,

Orang yang setia adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi

Dengan kesetiaannya kepada Allah dan sesama.

Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan,

Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat Karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam.

Ada kekuatan di dalam penguasaan diri,

Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.

Sadarkah teman bahwa engkau juga memiliki cukup Kekuatan untuk mengatasi segala permasalahan dalam hidup ini?

Dimanapun, seberat dan serumit apapun juga.

Karena pencobaan tidak akan pernah dibiarkan melebihi kekuatan kita