Give The Best

“Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat?” Maleakhi 1:8a

Menjelang hari Natal yang tinggal sebulan lagi, toko-toko akan mulai memajang parcel atau bingkisan dalam berbagai ukuran dan isi dengan harga yang berbeda-beda. Parcel merupakan salah satu cara yang kerap dipakai orang untuk menyampaikan ucapan terima kasih, ucapan selamat dan sebagainya kepada teman, keluarga, atasan, kolega, rekanan bisnis dan orang-orang lain yang kita anggap penting untuk diberikan sesuatu pada perayaan hari besar, termasuk Natal di dalamnya. Parcel itu disusun sedemikian rupa sehingga terlihat indah, berisikan berbagai macam produk atau benda di dalamnya, dan dibungkus dengan rapi dan indah. Bentuk paketnya pun tersedia dalam beragam variasi. Ada yang dikemas dalam produk makanan/minuman, parcel peralatan elektronik, aksesoris, produk kecantikan atau buah-buahan. Ada beberapa toko yang nakal mempergunakan kesempatan ini untuk menghabiskan barang-barang mereka yang sudah kadaluwarsa atau kemasannya rusak. Parcel yang sudah terbungkus rapi dari awal akan membuat pembelinya tidak tahu apakah isinya masih layak dikonsumsi atau tidak. Saya pernah berbisnis parcel bersama beberapa teman saya ketika masih kuliah, dan saya tahu bahwa merangkai produk-produk itu agar terlihat indah tidaklah semudah yang diperkirakan. Satu hal yang pasti, kita akan berusaha memberikan yang terbaik sesuai kemampuan kita untuk mereka yang kita anggap penting untuk diberi bingkisan. Semakin penting orangnya, biasanya paket pun akan semakin mewah pula.

Jika kepada manusia kita berusaha untuk memberikan yang terbaik, bagaimana ketika kita memberi untuk Tuhan? Mari ambil salah satu contoh ketika kita memberi persembahan di Gereja. Seringkali orang tidak memperhatikan kondisi uang yang dimasukkan ke dalam kantong persembahan. Ada begitu banyak uang yang dalam kondisi dilipat-lipat kecil, ada yang kusut, lusuh, bahkan ada yang sobek karena uang tersebut diremas-remas sedemikian rupa terkadang sampai dalam bentuk yang sangat ekstrim. Memang secara nominal uang itu masih utuh dan bisa dipergunakan, namun jelas itu bukanlah dalam kondisi yang baik secara fisik. Jika kita kembali pada parcel di atas, bukankah makanan di dalam parcel itu masih bisa dimakan tanpa disusun rapi? Tapi kita menyusunnya dengan baik, dibungkus indah, karena kita menghormati orang yang diberi dan ingin memberikan yang terbaik buat mereka. Seperti itu pula ketika kita memberi persembahan. Seharusnya kita lebih memperhatikan dengan lebih serius lagi, karena kita memberi persembahan bagi Tuhan. Betul, kita memberikan kepada gereja, dan tidak langsung kepada Tuhan. Tapi bukankah apa yang kita persembahkan itu akan dipergunakan oleh gereja untuk pekerjaan Tuhan, pelebaran kerajaanNya dimana Allah sendiri yang dimuliakan? Bukankah ketika kita memberi persembahan itu sebenarnya kita sedang menunaikan kewajiban kita untuk mengembalikan sesuatu yang menjadi kewajiban kita kepada Allah?

Ayat hari ini diambil dari kitab Maleakhi, dimana Tuhan menunjukkan kekecewaanNya ketika kepadanya dipersembahkan kurban binatang dalam kondisi yang tidak selayaknya Dia terima. Apa yang dipersembahkan orang Israel waktu itu memang keterlaluan. Bukannya memberikan persembahan terbaik, namun mereka malah memberikan binatang yang timpang dan sakit. Yang baik dipakai untuk diri sendiri, sedang yang kondisinya buruk atau sisa diberikan kepada Tuhan. Dan Tuhanpun menganggap itu jahat. “Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat?” (Maleakhi 1:8a). Tuhan menganggap hal ini sebagai sebuah bentuk penghinaan bagiNya. Selanjutnya Tuhan pun membandingkan dengan pemberian kepada para pemimpin atau orang-orang yang berpengaruh di dunia. “Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.” (ay 8b). Ya, bukankah ironis ketika kita memberi yang terbaik kepada orang-orang yang kita hormati di dunia, tapi di sisi lain kita memberikan asal-asalan kepada Tuhan semesta alam? Katakanlah apabila walikota datang berkunjung ke rumah anda, apakah anda akan asal-asalan menyediakan sesuatu untuk menyambutnya? Rasanya tidak. Jika buat mereka saja kita berusaha memberi yang terbaik, apalagi kepada Tuhan. Ingatlah betapa Tuhan mengasihi kita. Dia selalu memberikan rancangan yang terbaik bagi kita, menyediakan yang terbaik bagi kita, bahkan menganugrahkan Kristus, anakNya sendiri untuk menyelamatkan kita. Betapa keterlaluan jika kita membalasnya dengan sekedar memberikan tanpa ada rasa hormat. Tuhan lebih dari sekedar layak untuk dihormati jauh dari itu. Mari kita lihat ayat sebelumnya. “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” (ay 6). Singkatnya, Tuhan mempertanyakan kepada kita demikian: “Jika benar Aku BapaMu, dimana penghargaan, hormat dan takutmu kepadaKu?”

Ketika memberi, memberilah dengan sopan dan hormat. Kita memberikan persembahan kepada Tuhan yang bukan saja telah menciptakan kita, tapi juga melindungi, menyertai dan mengasihi kita lebih dari segalanya. Tuhan sangat layak menerima pemberian yang terbaik dari anak-anakNya. Ketika kita memberikan dengan sungguh hati atas besarnya kasih kita kepadaNya, kita seharusnya juga memberikan apa yang terbaik dari kita. Di atas segalanya pemberian yang bisa kita lakukan, Yesus mengingatkan kita bahwa mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi manusia seperti diri sendiri jauh lebih baik daripada semua korban. “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” (Markus 12:33). Lebih dari bentuk persembahan apapun, sesungguhnya bentuk persembahan yang terbaik yang bisa kita berikan tidak lain adalah diri kita sendiri. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Sebegitu seriusnya sehingga dikatakan bahwa persembahan tubuh kita sendiri sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah merupakan ibadah yang sejati, yang sesungguhnya. Sebuah bentuk kehidupan yang menjaga kekudusan, tidak terpengaruh oleh berbagai tawaran di dunia, terus berusaha untuk menjadi lebih baik, mampu membedakan kehendak Allah, dan tahu apa yang berkenan dan sempurna untuk diberikan kepada Allah, itulah tubuh kita yang layak dipersembahkan kepada Tuhan.

Dalam bersyukur kepada Tuhan, hendaklah kita memberi yang terbaik kepadaNya dengan penuh hormat dan takut, karena kita mengasihiNya. Kita bisa memberi sesuatu yang terbaik yang bisa kita berikan, tapi ingatlah bahwa lebih dari semua itu, persembahkanlah hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Bukan hidup yang acak-acakan dan penuh dosa, tapi sebuah hidup yang kudus dan bersih, hidup yang bertumbuh dan berbuah dalam Roh, sebagai sebuah persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Allah sudah memberikan segala yang terbaik untuk kita. Mari kita melakukan giliran kita untuk memberikan segala yang terbaik pula bagi Tuhan.

Give nothing but the best to the Lord

Sumber : Renungan harian online

Jauh Melebihi Emas Murni

“Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua.”

Semakin lama semakin banyak orang yang lebih suka berinvestasi dalam logam emas ketimbang menabung uang di bank. Kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu membuat nilai tukar mata uang menjadi sulit diprediksi. Ketika tiba-tiba terjadi goncangan, nilai mata uang ini bisa anjlok seketika. Belum lagi jika bank yang bersangkutan mengalami masalah serius. Pemerintah memang menjamin, tetapi bayangkan betapa repot urusannya. Selain itu menabung dalam bentuk emas dianggap akan memberikan keuntungan yang lebih jika dibandingkan kisaran bunga yang ditawarkan oleh bank. Jika menyimpan dalam bentuk emas yang sudah menjadi perhiasan saja sudah menguntungkan, bayangkan apabila investasi dilakukan dalam bentuk emas murni, emas 24 karat alias emas dengan kadar kemurnian 99.99%. Harga emas dinilai banyak orang jauh lebih stabil dibanding nilai mata tukar uang dan tidak terlalu terpengaruh oleh berbagai goncangan moneter atau ekonomi dunia. Bahkan ketika krisis ekonomi terjadi beberapa tahun yang lalu, ada negara yang pulih dengan cepat karena ternyata mereka memiliki cadangan emas yang banyak. Ini menunjukkan betapa berharganya emas di dunia.

Tidak ada satupun dari kita yang tidak setuju bahwa emas merupakan logam yang sangat tinggi harganya dan menjanjikan keuntungan besar bagi pemiliknya, bahkan seperti yang saya sebut tadi, bisa pula menyelamatkan sebuah negara dari kehancuran akibat krisis global. Tetapi dengarlah kata Daud, bahwa ada sesuatu yang ternyata jauh lebih berharga dibandingkan emas, bahkan emas murni atau emas yang sudah lama sekalipun. Apakah itu? Daud menyebutkan bahwa apa yang jauh lebih berharga dari emas itu tidak lain adalah Firman Tuhan. “Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua.” (Mazmur 119:127). Betapa berharganya, betapa bernilainya, betapa berkuasanya firman Tuhan. “I love your commandments more than gold, even more than refined gold..” itu kata Daud. Jauh lebih berharga dari emas murni sekalipun. Dalam waktu lain Daud juga mengatakan “..hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.” (19:10-11). Disini Daud kembali menggambarkan secara puitis bahwa Firman Tuhan sangatlah berharga dan bernilai, jauh melebihi apapun yang paling berharga yang pernah ada di muka bumi ini. Perhatikan bahwa hal ini dikatakan oleh Daud, seorang Raja Israel dengan harta yang banyak. Artinya, meski Daud tahu bagaimana tinggi nilai emas itu, ia menyadari bahwa itu tetaplah tidak sebanding dengan tingginya nilai Firman Tuhan.

Mengapa Daud bisa menilai Firman Tuhan ini dengan begitu tingginya? Mari kita lihat awal dari Injil Yohanes.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” (Yohanes 1:1-5).

Lihatlah bahwa Firman itu sudah ada sejak semula, dalam bahasa Inggrisnya dikatakan “in the beginning (before all time)” alias sebelum waktu bermula, sebelum ada apapun di jagat raya ini. Lalu diaktakan bahwa Firman itu ada bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah sendiri. Artinya di dalam Firman itu ada kuasa yang sangat besar seperti halnya kuasa Tuhan yang tidak terbatas. Jika kita tidak bisa bertemu langsung dengan Tuhan seperti halnya anda bertemu dengan manusia, Firman Tuhan memungkinkan kita untuk terhubung langsung dengan Tuhan secara face to face lewat Firman-FirmanNya yang tertulis lengkap di dalam Alkitab. Mengapa? Sebab Firman itu adalah Allah. The Word was God Himself. Itu artinya dengan berhadapan dengan Firman Tuhan maka kita pun sebenarnya tengah berhadapan dengan Tuhan sendiri. Ada kuasa disana, ada perlindungan, ada pertolongan, ada solusi atau jawaban dari setiap persoalan hidup, ada peringatan, ada teguran, ada nasihat, ada tuntunan, ada kunci-kunci rahasia kehidupan, ada mukjizat, dan yang jauh lebih penting, ada janji keselamatan yang kekal bagi kita setelah meninggalkan dunia yang fana ini. Jika demikian, tidakkah Firman ini jauh lebih berharga ketimbang emas murni?

Selanjutnya Penulis Ibrani mengatakan bahwa Firman itu “hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12). Lihatlah betapa besar kekuatan dari Firman Allah yang hidup ini. Saya setiap hari menulis renungan selama 4 tahun tanpa jeda sedikitpun, itu bukan karena saya sudah sangat sempurna tanpa kesalahan atau kekurangan. Tidak. Saya pun manusia biasa yang tidak terlepas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan. Seringkali apa yang saya tulis merupakan teguran bagi diri saya sendiri, dan setiap saya menulis, itu artinya ada sesuatu yang baru yang menjadi pelajaran bagi saya untuk lebih baik lagi kedepannya. Dalam banyak kesempatan, seringkali dari ayat yang sama saya memperoleh sesuatu yang berbeda dalam kesempatan yang berbeda. Saya mengalami sendiri betapa Alkitab telah menyediakan jawaban atas segala permasalahan yang kita hadapi. Alkitab memberi begitu banyak kunci bagaimana agar kita keluar sebagai pemenang pada akhirnya, dan alangkah sayangnya apabila kita tidak mengetahui segala yang telah dibukakan Allah hanya karena kita terlalu malas membuka Alkitab kita setiap hari. Alangkah sayangnya jika sesuatu yang jauh lebih berharga dari emas murni 24 karat malah kita sia-siakan.

God’s Words are powerful and alive. It’s miraculous, it’s amazing. Kita sangat membutuhkan kekuatan untuk menghadapi hari-hari yang melelahkan, dan Tuhan terus berbicara kepada kita lewat FirmanNya. Firman Tuhan selalu bagaikan setetes embun penyejuk yang menyegarkan jiwa, bahkan mampu memberi energi atau tenaga tambahan sekaligus memberi kelegaan dan ketenangan dalam situasi-situasi sulit. Tuhan menyatakan: “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia ” (Yesaya 55:11), dan itu benar adanya menurut pengalaman saya sendiri. Semoga hal yang sama bisa berlaku pula buat teman-teman sekalian. Ada banyak saudara kita yang kesulitan mendapat akses untuk bisa membaca Firman Tuhan karena banyak hal. Mungkin mereka berada di tempat terpencil atau di tempat yang tidak mengijinkan mereka untuk menghidupi keyakinannya. Jika anda tidak mendapat kesulitan hari ini untuk bisa berdiam di dalam hadiratNya, mendengar suaraNya yang lembut dan terus dipenuhi dengan curahan kasihNya lewat firman-firmanNya, bersyukurlah untuk itu dan jangan buang-buang kesempatan seperti itu. Bagi teman-teman yang sulit mendapatkan akses, saya hanya ingin mengingatkan bahwa kasih Tuhan tetap hadir dalam diri anda semua, mengasihi anda dan akan selalu memberkati anda. Sesuatu yang jauh lebih berharga dari emas murni sedang menanti anda saat ini juga, Tuhan menanti anda untuk mendengarkan suaraNya.

Firman Tuhan hidup dan berkuasa, jauh lebih berharga dari emas murni sebanyak apapun

RASA TAKUT : Jangan Diplihara !

“Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Mazmur 118:6

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata takut berarti merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana. Rasa takut yang ‘dipelihara’ akan menimbulkan dampak yang buruk tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Ketika hendak berperang melawan bangsa Midian Tuhan memerintahkan Gideon untuk memisahkan tentara yang takut dan gentar. Tuhan berkata, “Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang, enyah dari pegunungan Gilead. Lalu pulanglah dua puluh dua ribu orang dari rakyat itu dan tinggallah sepuluh ribu orang.” (Hakim-Hakim 7:3a). Mengapa? Karena ketakutan itu bisa menjalar dan mempengaruhi yang lain. Rasa takut juga bisa menjadi penghalang utama dalam merebut kemenangan dan janji-janji Tuhan. Itulah sebabnya tentara yang penakut tidak boleh turut berperang.

Mengapa rasa takut harus dikalahkan? Karena ketakutan adalah salah satu senjata yang digunakan Iblis untuk menghancurkan kehidupan orang percaya. Karena itu “…janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:27). Jangan memberi celah sedikit pun kepada Iblis karena ketika kita berkompromi, Iblis akan memasuki wilayah kehidupan kita. Kompromi akan membawa kita kepada kekalahan dan kehancuran karena ketika berada dalam persoalan atau tekanan, rasa takut membuat orang mudah putus asa, kehilangan semangat dan pada akhirnya akan menyerah pada keadaan. Inilah yang menjadi musuh iman! Contoh: menyerah pada keadaan. Inilah yang menjadi musuh iman! Contoh: ketika dikejar-kejar oleh Firaun dan pasukannya, bangsa Israel mengalami ketakutan yang luar biasa sehingga mereka menjadi putus asa, tidak mau melanjutkan perjalanan dan ingin kembali saja ke Mesir.

Bagaimana kita dapat menang atas ketakutan? Kita harus mengandalkan Tuhan dalam segala hal (baca Yeremia 17:7). Simak pernyataan Daud, “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur 56:4-5). Banyak orang Kristen yang mengandalkan kekayaan yang dimiliki, padahal Alkitab menegaskan bahwa kekayaan itu memiliki sayap dan dapat terbang atau bisa lenyap sewaktu-waktu (baca Amsal 23:4-5).

Jangan takut, Tuhan menyertai kita!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 September 2011 -

Apakah DOA Mengubah Sesuatu ?

Mereka mengatakan bahwa doa mengubah sesuatu, tetapi apakah doa SUNGGUH dapat mengubah segala sesuatu ?

Ya! DOA SUNGGUH DAPAT MENGUBAH SEGALA SESUATU!

Apakah doa dapat mengubah suatu keadaan secara tiba-tiba ?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah caramu memandang situasi tersebut!

Apakah doa mengubah kondisi keuanganmu dimasa depan?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah kepada siapa engkau berharap untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari!

Apakah doa mengubah hati yang hancur atau tubuh yang rusak ?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah sumber kekuatan dan sumber penghiburanmu!

Apakah doa mengubah apa yang kau butuhkan dan inginkan ?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah kebutuhanmu menjadi sesuai dengan keinginan Tuhan!

Apakah doa mengubah caramu melihat dunia?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah dengan mata siapa kau akan melihat dunia!

Apakah doa mengubah penyesalanmu di masa lalu?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah harapanmu di masa depan!

Apakah doa mengubah orang-orang disekitarmu ?

Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubahmu-masalah tidak selalu terletak dalam diri orang-orang disekitarmu!

Apakah doa mengubah hidupmu dengan cara yang tidak dapat kau jelaskan?

Oh, ya, selalu! dan Doa akan benar- benar mengubah seluruh dirimu!

Apakah doa sungguh mengubah segala sesuatu ?

YA, doa sungguh mengubah segala sesuatu.

Masa Dalam Kehidupan…..

Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku…. Janganlah membuang aku pada masa tuaku (Mazmur 71:6,9)

Ketika masih muda, kita tak sabar menunggu masa dewasa. Ketika sudah tua, kita merindukan kembali masa muda yang sudah berlalu. Sungguh ironis!

Allah ingin kita menerima setiap masa dalam hidup dengan sukacita. Berapa pun usia kita, Dia meminta kita berjalan menuju kehendak-Nya, dan menerima setiap pergumulan yang Dia izinkan terjadi seiring dengan kekuatan yang Dia sediakan.

Seorang wanita yang menghadapi cobaan karena bertambahnya usia bertanya kepada J. Robertson McQuilkin, seorang utusan Injil, “Mengapa Allah membiarkan kita menjadi tua dan lemah?” McQuilkin berpikir sejenak dan menjawab, “Saya pikir, Allah telah merancang bahwa kekuatan dan kecantikan orang muda bersifat jasmani. Namun, kekuatan dan kecantikan usia tua bersifat rohani. Lambat laun kita kehilangan kekuatan dan kecantikan yang sementara itu, sehingga dapat memusatkan perhatian pada kekuatan dan kecantikan yang kekal. Dengan demikian kita berhasrat meninggalkan bagian dari diri kita yang sementara dan memburuk, dan sungguh-sungguh merindukan rumah abadi kita. Jika kita tetap muda, kuat dan cantik, kita tidak akan pernah mau meninggalkannya.”

Apakah Anda berada di musim semi kehidupan? Percayalah pada waktu Allah dalam mewujudkan impian Anda. Apakah Anda berada di musim panas atau musim gugur? Hadapilah tantangan yang Anda jumpai setiap hari. Dan bila Anda merasakan dinginnya musim dingin, berusahalah mengenal Allah dengan lebih baik. Kehadiran-Nya dapat menjadikan setiap masa dalam hidup Anda penuh dengan kekuatan dan kecantikan.

Only this hour is mine, Lord –

May it be used for Thee;

May every passing moment

Count for eternity. –Christiansen

PENYERAHAN DIRI KEPADA KRISTUS BUKANLAH PILIHAN SATU KALI MELAINKAN TANTANGAN SETIAP HARI

Kekuatan Di dalam Diri Kita

Ada kekuatan di dalam cinta,

Orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat

Karena ia bisa mengalahkan keinginannya Untuk mementingkan diri sendiri.

Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan,

Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan

Ada kekuatan di dalam kedamaian diri

Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah tergoyahkan

Dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Ada kekuatan di dalam kesabaran,

Orang yang sabar adalah orang yang kuat Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu Dan ia tidak pernah merasa disakiti.

Ada kekuatan di dalam kemurahan,

Orang yang murah hati adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya

Untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.

Ada kekuatan di dalam kebaikan,

Orang yang baik adalah orang yang kuat Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang

Ada kekuatan di dalam kesetiaan,

Orang yang setia adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi

Dengan kesetiaannya kepada Allah dan sesama.

Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan,

Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat Karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam.

Ada kekuatan di dalam penguasaan diri,

Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.

Sadarkah teman bahwa engkau juga memiliki cukup Kekuatan untuk mengatasi segala permasalahan dalam hidup ini?

Dimanapun, seberat dan serumit apapun juga.

Karena pencobaan tidak akan pernah dibiarkan melebihi kekuatan kita

PLEASE

Mazmur 103:13

Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada
orang-orang yang takut akan Dia.

Pernahkah Anda merenungkan, betapa sibuknya Allah kita dalam mengatur alam semesta, sekian milyar penduduk bumi, bekerja dalam segala perkara? Semua dalam skala mega! Luar biasa besar! Dahsyat!

Pernahkah Anda memiliki rasa sungkan waktu mendoakan perkara kecil dan sederhana dalam hidup?

Seorang hamba Tuhan sedang dalam perjalanan menghadiri sebuah pertemuan sebagai pembicara tapi dia harus berhadapan dengan kemacetan yang menjengkelkan. Sebuah doa dinaikkan olehnya agar ditibakan tepat pada waktunya. Ternyata ia tiba beberapa menit sebelum acara dimulai (puji Tuhan). Setibanya di sana, tidak ada lahan parkir yang tersedia, dan dia berdoa lagi. Saat berdiri di muka peserta, komputer yang harus digunakan tiba-tiba bermasalah, doa dinaikkan lagi. Pada penghujung hari, sambil duduk mengerjakan setumpuk urusan yang tertunda, terbesitlah rasa ‘kurang enak’ dalam hatinya, mengarah pada rasa bersalah. Sepanjang hari mendoakan hal-hal yang remeh. Bukankah urusan Allah adalah perkara yang besar, yang dahsyat? Buat repot saja?

Keesokan harinya, puteri kecilnya (murid Taman Kanak-Kanak) datang dengan setumpuk masalahnya kepada sang ayah. Semua masalah yang kecil, urusan anak-anak. Pensil yang tidak dapat diserut tajam – rambut boneka kusut tidak bisa disisir – bahkan punggung yang gatal dan putrinya tidak dapat menggaruknya sendiri! Iapun melayani puterinya dengan penuh kasih dan kelembutan. Teringatlah ia akan Mazmur 103:13. Sungguh, seperti apa yang dilakukan kepada anaknya, seperti itu pula yang dilakukan Bapa di Surga untuknya.

Yesaya 49 mengingatkan kita, bahwa bisa saja seorang ibu lupa mengasihi anaknya. Tetapi Allah tidak pernah lupa mengasihi kita anak-anak-Nya. Allah meyakinkan kita, nama kita ada di telapak tangan-Nya. Terukir dan tetap ada di sana.

Kedekatan seperti ini berlaku bagi setiap manusia yang takut dan bersandar hanya pada-Nya. Sama seperti puteri kecil umur 5 tahun datang dengan segudang ‘persoalan’, kita juga dipersilahkan datang dengan aneka ragam masalah.

Masalah sehari-hari? Oke!! Masalah kecil dan sederhana? Oke juga!! Masalah kecil yang sangat pribadi – mungkin terkesan remeh? Dengan tersenyum, IA mengangguk manis dan berkata dengan sabar, “Silahkan!”

Dia Mengenal Aku

2 Timotius 2:19

Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: “Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” dan “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.”

Guillemot adalah sejenis burung laut kecil yang terdapat di bagian Utara Samudera Atlantik dan Pasifik. Burung ini hidup berkelompok sampai ribuan ekor di satu wilayah yang tidak begitu luas.

Karena kondisi yang berdesakan, ratusan burung betina meletakkan telor-telor mereka yang bulat berdampingan, berjajar sepanjang pinggiran tebing yang sempit. Semua bentuk telor itu sama, karena itu sangatlah mengherankan bahwa induk burung itu dapat mengenali telor-telor miliknya. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa burung betina itu sangat mengenal telornya, bahkan sekalipun dipindahkan, burung itu akan menemukannya dan mengembalikannya ke tempat semula. Burung betina itu tidak pernah kebingungan.

Alkitab memberitahu kita bahwa Bapa surgawi betul-betul memahami setiap anak-anak-Nya. Dia tahu setiap pikiran dan emosi, dan memaklumi setiap jalan mereka (Mazmur 139:3). Dari pagi hingga malam Dia memberi perhatian khusus terhadap setiap keadaan anak-anak-Nya. Karena sangat terpesona dengan kenyataan yang agung ini, pemazmur berseru, “terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya” (Mazmur 139:6).

Kesadaran bahwa Allah tahu tentang kita tidak hanya mendorong kita untuk memuji dan menyembah Dia, tetapi juga memberi penghiburan yang meluap dalam hati. Bukankah sangat luar biasa bila kita sangat dicintai dan sangat dikenal oleh Tuhan!

Bersama Tuhan, tidak seorangpun akan terhilang dalam pengamatan-Nya.

Biji Mata Tuhan

“Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.”

Mata adalah salah satu indra yang punya fungsi sangat penting. Tanpa mata kita tidak akan bisa melihat apapun. Keragaman, keindahan warna-warni dunia, segala ciptaan Tuhan yang semuanya merupakan karya seni tak tertandingi akan luput dari penglihatan kita tanpa adanya sepasang mata. Mata pun merupakan salah satu objek keindahan tersendiri yang sering kita kagumi. Tidakkah anda pernah terpesona melihat mata yang indah milik seseorang? Contact lense dengan warna-warna menarik pun tersedia di mana-mana untuk mempercantik mata. Tidak hanya pada bola mata saja, tetapi wanita pun suka memoles area sekitar mata mereka dengan berbagai warna, baik pada kelopak, bulu mata dan alis. Agar tidak silau orang pun melindungi matanya dengan kaca mata hitam. Kalau anda bekerja sebagai pengelas, anda pun harus melindungi mata anda dari percikan api las dalam bekerja. Ini semua menggambarkan betapa berharga dan pentingnya mata bagi kita.

Jika bagi kita seperti itu, demikian pula bagi Tuhan. Dan jika mata itu penting bagi Tuhan, betapa indahnya ketika Tuhan menganggap kita bagai biji mataNya. Dia akan senantiasa melindungi dan mengawasi kita seperti menjaga biji mataNya sendiri. Beberapa kali Firman Tuhan berbicara akan hal ini. “Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.” (Ulangan 32:10). Ini bunyi nyanyian Musa yang ternyata cukup penting, karena kelak pada kitab Wahyu nyanyian ini kembali disebutkan. “Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya: “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!” (Wahyu 15:3). Pada akhir jaman nanti, mereka yang menang atas binatang dan patungnya dan orang-orang yang ditandai dengan angka (bilangan) akan menyanyikan kembali nyanyian Musa, bersama-sama dengan nyanyian Anak Domba dengan diiringi kecapi Allah. (ay 2). Bukankah itu luar biasa? Artinya pernyataan kita sebagai biji matanya Tuhan akan terus ada hingga akhir jaman.

Betapa indahnya mengetahui bahwa kita yang tidak ada apa-apanya dan selalu berbuat dosa setiap hari ternyata begitu penting bagi Tuhan, sehingga kita disebut sebagai biji mataNya. Adakah orang yang akan dengan sengaja merusak matanya sendiri? Tentu tidak. Jika kita merusak mata kita sendiri, sama artinya dengan merusak diri kita sendiri. Tidak ada bagian tubuh kita yang tidak berguna, Tuhan telah melengkapi kita secara luar biasa, termasuk di dalamnya mata, salah satu organ tubuh yang sangat penting agar kita dapat melihat. Semua keindahan alam beserta keragamannya, jutaan budaya berbeda-beda, warna-warni nya dunia, kita melihat kebesaran Tuhan lewat ciptaan-ciptaanNya yang luar biasa, semua bisa kita nikmati lewat mata. Kita membaca betapa Daud menyadari betul keindahan ciptaan Tuhan yang menunjukkan kebesaranNya dalam Mazmur 104:1-35. Lihatlah salah satu petikan dari perikop itu. “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” (Mazmur 104:24). Mata merupakan salah satu organ terpenting yang memampukan kita untuk menikmati itu semua. Tanpa mata akan sulit bagi kita untuk melihat keindahan ciptaan Tuhan. Maka, jika Tuhan menganggap kita sebagai biji mataNya, tentulah itu sebuah pernyataan penting dari Tuhan akan betapa pentingnya kita bagi Dia.

Ketika Daud dikejar-kejar musuh, Daud pun mengaitkannya dengan biji mata ini dalam menantikan perlindungan Tuhan. “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu, terhadap orang-orang fasik yang menggagahi aku, terhadap musuh nyawaku yang mengepung aku.” (Mazmur 17:9). Lalu marilah kita lihat bagaimana bunyi Firman Tuhan yang memberi jaminan pemeliharaan atas hidup kita. “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu–sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya” (Zakharia 2:8). Lihatlah ayat tersebut. Barang siapa menjamah kita anak-anakNya itu sama artinya dengan menjamah biji mataNya. Bagi mereka-mereka ini, demikian kata Tuhan: “Sesungguhnya Aku akan menggerakkan tangan-Ku terhadap mereka, dan mereka akan menjadi jarahan bagi orang-orang yang tadinya takluk kepada mereka. Maka kamu akan mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku.” (ay 9). Sebuah jaminan perlindungan luar biasa sudah dinyatakan Tuhan sendiri atas kita, dengan menyatakan bahwa kita itu begitu penting seperti biji mataNya sendiri.

Jika Tuhan sudah menjanjikan sebuah jaminan pemeliharaan yang sama pentingnya seperti melindungi biji mataNya sendiri, maka itu artinya kita tidak perlu khawatir, tidak perlu ragu, tidak perlu takut dalam menatap hari depan. Meskipun itu semua belum bisa kita lihat, meski mungkin hari ini kita masih berhadapan dengan ketidakpastian atau bahkan jika himpitan problema kehidupan masih terus mendera kita, jangan khawatir, karena biar bagaimanapun Tuhan sudah menyatakan bahwa kita merupakan biji mataNya sampai kapanpun. Begitu berharganya kita di mata Tuhan, Dia akan senantiasa ada bersama kita, mengawasi dan melindungi kita dari segala hal agar bisa mendapat hidup yang aman lengkap dengan segala kelimpahannya. Apapun yang kita hadapi hari ini, yakinlah bahwa kita akan selalu menjadi biji mata Tuhan sampai kapanpun. Praise the Lord for that!

Luar Biasa Menakjubkan

Mazmur 102:26 -“Langit adalah buatan tangan-Mu”

Pada tahun 1977, Amerika Serikat meluncurkan roket ke Angkasa. Di dalamnya ada kapal kecil bernama Voyager I, sebuah satelit yang diluncurkan ke angkasa untuk menjelajahi planet-planet. Setelah Voyager selesai mengirimkan kembali foto-foto dan data dari planet Jupiter dan sekitarnya, kapal itu tidak berhenti bekerja. Voyager masih tetap beredar.

Sampai hari ini, 33 tahun kemudian, wahana kecil itu masih tetap beredar, menempuh kecepatan 60,800 km per jam, dengan jarak sekitar 14,4 milyar km dari matahari. Sungguh luar biasa! Para ilmuwan cemerlang itu telah mengirimkan kapal sampai ke tepi tata surya kita. Benar-benar mencengangkan. Benar-benar menakjubkan.

Namun, keberhasilan ini masih tergolong kecil dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan Allah. Kita sebenarnya belum menjelajahi luasnya ciptaan-Nya. Oleh karena itu, setiap langkah kecil yang telah dicapai manusia di luar angkasa haruslah tetap membuat kita tunduk dalam kekaguman mutlak akan kuasa dan kreativitas-Nya.

Mempunyai kesempatan untuk menjelajahi alam semesta memang menakjubkan. Namun, menjelajahi Allah yang menciptakan semuanya itu: sungguh luar biasa menakjubkan!

Kasih Allah dalam hidup kita adalah hal luar biasa yang tidak terbantahkan.