Menyatakan Kasih Kepada Tuhan

“Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” Mazmur 104:24

Bulan Februari adalah salah satu bulan favorit bagi kebanyakan orang. Di bulan ini kita akan merayakan hari kasih sayang, dan seperti banyak orang, kita merasakan bulan yang penuh dengan cinta. Love is in the air. Jika anda pergi ke pusat-pusat perbelanjaan atau restoran, maka anda akan menemukan berbagai hiasan yang melambangkan cinta. Serba merah, serba pink dengan logo hati yang bertebaran. Orang pun akan sibuk menyiapkan hadiah khusus buat orang-orang yang mereka cintai, mempersiapkan makan malam spesial dengan lilin yang akan terasa sangat romantis bersama pasangan masing-masing. Apakah Februari harus dijadikan satu-satunya bulan yang dijadikan bulan sepesial untuk cinta kasih? Tentu saja tidak. Alangkah baiknya jika kita bisa menjadikan setiap bulan seperti halnya bulan Februari, membuat orang-orang di sekitar kita merasakan kasih yang besar dari kita. Tetapi berbagai kesibukan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan lain seringkali menyita waktu kita dan membuat kita tidak cukup waktu untuk berbagi kasih dan kebahagiaan dengan orang-orang yang kita kasihi dan juga kepada orang lain. Setidaknya dalam setahun ada sebuah momen khusus yang bisa kita pakai untuk menyatakan kasih kepada orang-orang terdekat kita.

Ketika kita bersiap untuk memberikan sesuatu yang istimewa kepada kekasih, pasangan atau orang-orang yang kita cintai, apakah kita ingat untuk memberikan apresiasi kasih kita kepada Tuhan juga? Banyak orang yang lupa untuk itu. Padahal seandainya kita mau sedikit lebih merenungkan dan memperhatikan, kita sesungguhnya berjumpa dengan kasih Allah yang total setiap hari dalam banyak hal. Kesehatan yang masih kita rasakan, kesempatan yang masih diberikan, berbagai pertolongan dalam kesesakan, itu merupakan bentuk kasih Allah kepada kita. Udara yang bisa kita hirup dengan gratis, organ-organ tubuh yang berfungsi normal, akal budi, pikiran dan lain-lain, itupun merupakan bentuk kasihNya. Tuhan sangat mengasihi kita, begitu mengasihi hingga Dia pun rela mengorbankan AnakNya yang tunggal demi kita. (Yohanes 3:16). Bagaimana dengan pemandangan yang indah? Bunga-bunga yang berwarna warni dan harum, padang rumput yang hijau, langit biru, awan, bahkan matahari, bulan dan bintang-bintang, semua itu pun seakan menjadi surat cinta tersendiri dari Tuhan kepada manusia.

Pemazmur agaknya mengambil waktu sepanjang hari dari pagi sampai malam untuk mengagumi kasih Tuhan lewat penciptaan alam semesta beserta isinya ini seperti yang bisa kita lihat dalam Mazmur 104. Disana ia menggambarkan keindahan alam ciptaan Tuhan secara sangat puitis sebagai ungkapan kekagumannya. Bacalah Mazmur 104 secara utuh dan anda akan dibawa oleh penulisnya untuk merasakan betapa indahnya ciptaan Tuhan yang setiap saat bisa kita nikmati ini. Dan Pemazmur pun berkata, “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” (Mazmur 104:24). Karena itulah ia mengingatkan jiwanya agar senantiasa memuji Tuhan. “Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar!” (ay 1). Dan tidak lupa pula ia mengingatkan kita untuk tetap menyukakan hati Tuhan, karena apa yang telah Dia berikan kepada kita sesungguhnya sangatlah indah. “Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!” (Mazmur 104:31).

Alam semesta yang indah merupakan buah tangan Tuhan yang sungguh menunjukkan bukti ke-Ilahian Tuhan yang bisa kita nikmati secara kasat mata. Paulus pun menyinggung hal itu. “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” (Roma 1:20). Jika banyak orang yang meragukan eksistensi Tuhan, sesungguhnya lewat seisi dunia ini kita bisa menyaksikan sendiri bahwa Tuhan memang ada, dan Dia memang mengasihi kita secara begitu mendalam.

Jika demikian, apa yang bisa kita berikan kepadaNya sebagai balasan atas segala kebaikanNya? Perhatikan ayat berikut ini. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8). Atas semua keindahan luar biasa sebagai bukti ke-Ilahian Tuhan dan segala kebaikan lainnya yang Dia berikan kepada kita, apa yang diminta Tuhan sebenarnya sangatlah sederhana. Berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapanNya. Itulah yang bisa menyukakan hati Tuhan, membuatNya bersukacita atas kita. Betapa sedihnya Tuhan apabila kita menolak melakukan ini setelah Dia memberikan begitu banyak kebaikan sebagai bukti kasihNya setiap hari kepada kita. Bulan Februari adalah bulan yang spesial untuk menyatakan cinta dan kasih kita kepada orang-orang terdekat yang kita cintai. Itu sangatlah baik. Tetapi jangan lupakan pula untuk datang kepada Tuhan dan menyatakan kasih kita secara langsung. Tuhan akan sangat senang jika kita datang kepadanya tidak hanya membawa daftar permintaan atau permohonan, tetapi untuk mengucap syukur dan menyatakan bahwa kita menyadari kasihNya yang begitu besar kepada kita, dan menyampaikan kasih kita pula kepadaNya lewat keadilan, kesetiaan dan sebentuk hidup yang selalu rendah hati. Manfaatkanlah momen spesial di bulan kasih ini untuk menyatakan kasih kita bukan hanya kepada orang-orang yang dicintai, tetapi juga kepada Tuhan.

Tuhan menyatakan kasihNya setiap hari, apakah kita sudah menyatakan kasih kita kepadaNya?

Renungan Harian Online

86.400 Detik per-Hari

Efesus 5:16 -” Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”

Membaca kisah-kisah sukses berbagai tokoh selalu membawa kekaguman tersendiri bagi kita. Rata-rata dari mereka harus melalui masa-masa sulit penuh penderitaan sebelum akhirnya mencapai sukses. Kegagalan bukannya tidak pernah ada, tapi yang membedakan adalah keteguhan tekat dan semangat pantang menyerah untuk terus mencoba. Jika mereka bisa sukses, mengapa kita tidak? Apakah waktu yang diberikan kepada mereka jauh lebih besar dari kita? Apakah Bunda Teresa, Leonardo da Vinci hingga Bill Gates memiliki waktu yang berbeda ukuran dengan kita? Tentu saja tidak. Kita hidup di dunia yang sama, kita sama-sama manusia seperti mereka dengan ukuran dan kapasitas otak yang sama. Ada 86.400 detik yang dihadiahkan Tuhan kepada kita setiap harinya, dan itu berlaku sama bagi semua orang. Kalikan itu dengan umur kita sekarang, maka kita akan terkejut melihat angkanya. Apa yang kita pakai untuk mengisi milyaran atau trilyunan detik yang sudah kita lalui hingga saat ini? Satu pembelajaran yang selalu kita dapati dari kisah sukses para tokoh adalah komitmen mereka untuk tidak membuang-buang waktu. Mereka selalu mempergunakan segala waktu yang ada dengan sebaik-baiknya, tidak menyia-nyiakan kesempatan yang mereka peroleh. Dan seringkali membuang-buang waktu menjadi masalah utama yang membuat kita tidak kunjung berhasil.

Baik dalam Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru kita mendapati peringatan berulang-ulang lewat firman Tuhan untuk menghargai waktu dengan sebaik-baiknya. Membuang-buang waktu jelas bukan karakter yang dimiliki oleh orang percaya, tapi nyatanya masih banyak diantara kita sendiri yang terus melewatkan kesempatan dan menyia-nyiakan waktu yang seharusnya bisa kita pergunakan, baik untuk berhasil dalam hidup, untuk memberkati sesama atau bahkan untuk sekedar mengucap syukur kepada Tuhan atas segala berkat dan penyertaanNya. Sebuah bagian dari doa Musa yang dicatat dalam kitab Mazmur menggambarkan kesadarannya akan betapa pentingnya waktu yang telah disediakan bagi kita. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12). Dibandingkan kekekalan yang menanti kita, hidup di dunia ini memanglah singkat. Tetapi bukankah 86.400 detik sehari seharusnya lebih dari cukup bagi kita untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Tuhan?

Dalam panggilan untuk hidup sebagai anak-anak terang yang disampaikan Paulus dalam surat Efesus 5:1-21 kita bisa melihat dengan jelas bagaimana kita bisa mengisi dan memanfaatkan waktu kita dengan baik. Bacalah rangkaian ayat yang terdapat disana untuk mendapatkan apa saja yang harus kita lakukan untuk menggambarkan kehidupan sebagai anak terang yang berkenan di hadapan Tuhan. Hidup dalam kasih (ay 2), menjauhi rupa-rupa kecemaran (ay 3), menghindari perkataan kotor, kosong, sembrono atau tidak pantas (ay 4), menjaga pergaulan kita (ay 6-7) dan banyak lagi hal yang bisa kita lakukan dalam rentang waktu yang telah disediakan bagi kita. Intinya, “pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (ay 16). Kita juga diingatkan agar terus berusaha menangkap apa yang dikehandaki Tuhan. “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” (ay 17). Peringatan yang sama bisa kita lihat pula dalam Kolose. Disana dikatakan: “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.” (Kolose 4:5). Bukannya terpengaruh terhadap perilaku orang yang tidak mengenal Tuhan, tetapi hadapilah dengan penuh hikmat, dan pergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Ini tugas kita sebagai anak-anak Tuhan yang seharusnya membawa terang ke sekeliling kita.

86.400 detik per-hari. Dengan apa kita mengisinya? Sudahkah kita mempergunakan setidaknya sedikit dari detik-detik itu untuk mengucap syukur kepada Tuhan? Sudahkah kita mempergunakannya untuk berdoa dan terus membangun hubungan yang lebih dalam lagi kepada Tuhan? Berapa banyak waktu yang kita pakai untuk mempergunakan semua talenta yang diberikan Tuhan demi memuliakanNya, menapak naik untuk sukses dan memberkati sesama dengan apa yang kita miliki? Atau pikirkanlah ini: seberapa penting kita menganggap waktu yang ada? Waktu yang sudah lewat tidak akan pernah bisa kembali lagi. Jika kita masih terbiasa membuang-buang waktu, ini saatnya untuk berubah. “supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” (1 Petrus 4:2). Mari kita memanfaatkan waktu yang masih ada dengan sebaik-baiknya. Pastikan bahwa 86.400 detik per-hari itu kita pergunakan dengan baik.

Pergunakanlah waktu dengan bijaksana, jangan sia-siakan

Renungan Harian Online

Benih & Tanah

Matius 13:26- “Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.”

Sebuah perumpamaan dari Yesus mempergunakan ilustrasi mengenai mengenai benih dan tanah ini, yaitu dalam perumpamaan tentang lalang di antara gandum. (Matius 13:24-30). “Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.” (Matius 13:24). Rasanya orang hanya akan selalu menaburkan benih yang baik di ladangnya, dan tidak akan pernah mau menabur benih yang bisa merusak lahan taninya. Apakah ada orang yang dengan sengaja menanam benih lalang atau tanaman liar? Tentu saja tidak. Tapi musuh bisa menaburkan benih yang tidak baik di sana. “Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.” (ay 25). Perhatikanlah, tanahnya sama, tapi benih yang baik dan yang tidak baik keduanya bisa sama-sama tumbuh dengan subur. “Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.” (ay 26). Lalu bagaimana akhirnya? “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (ay 30). Tanah tempat tumbuhnya sama, kedua benih yang baik dan tidak sama-sama tumbuh subur, tapi pada akhirnya kita bisa melihat mana yang masuk ke lumbung dan mana yang berakhir dengan dibakar.

Seperti halnya tanah, demikian pula yang terjadi dengan pikiran kita. Pikiran kita ibarat tanah yang subur. Pikiran kita selalu menerima, memberi respon, menumbuhkan apapun yang ditabur masuk di dalamnya tanpa terkecuali, sama seperti tanah. Apakah itu baik atau buruk, apakah itu positif atau negatif, apakah itu bermanfaat atau merusak, apakah yang mengarah pada keselamatan atau menjerumuskan kita ke dalam jurang dosa, semuanya akan ditumbuhkan oleh pikiran kita tanpa terkecuali. Baik atau buruk, keduanya bisa tumbuh subur di pikiran kita. Itulah sebabnya kita harus mampu menguasai pikiran kita sebelum pikiran kita berbalik berkuasa atas diri kita. Jika kita menanam hal-hal yang tidak baik, misalnya pikiran negatif, pornografi, berprasangka buruk, menduga-duga, atau malah menghakimi orang lain dalam pikiran kita, maka itulah yang akan tumbuh subur dan merajai hidup kita. Jika kita menabur hal-hal seperti mengasihani diri berlebihan, menganggap diri rendah, kebencian, dendam, atau bahkan kutuk, maka itulah yang akan direspon pikiran kita. Dari benih yang kecil, itu akan tumbuh hingga kelak berbuah. Dan benih yang jahat akan menghasilkan tindakan-tindakan yang jahat pula. Firman Tuhan sudah mengingatkan “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” (Amsal 23:7) Dalam versi King James Version dikatakan: “For as he thinketh in his heart, so is he.” Seperti yang kita pikirkan, demikianlah kita. Kita bisa menjadi pribadi yang baik, kudus dan berkenan, atau sebaliknya menjadi pribadi yang buruk, penuh kebencian dan kepahitan, semua tergantung dari benih seperti apa yang kita tabur ke dalam pikiran kita.

Oleh karena itu penting bagi kita agar selalu menanam hal-hal yang positif dalam pikiran kita. Paulus pun pernah mengingatkan hal ini dengan sangat jelas. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8). Lihatlah bahwa kita dianjurkan untuk selalu mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang baik. Memandang dari sisi negatif akan membuat kita menjadi negatif pula, karena itulah yang akan ditumbuhkan oleh pikiran kita dan kemudian berbuah subur dalam hidup kita. Jika kita mengikuti pesan yang tertulis dalam Filipi 4:8 di atas, maka kita pun akan menuai persis seperti apa yang kita tanam, yaitu hal-hal yang benar, adil, mulia, suci, manis dan baik. Adalah sangat penting bagi kita untuk terus menabur benih firman Tuhan dalam pikiran kita secara teratur, sehingga tidak ada lagi tempat atau celah bagi benih-benih negatif untuk bertumbuh di dalam pikiran kita dan merusak kita serta merampas kesempatan kita untuk menjadi bagian dari Kerajaan Surga.

Karena Allah adalah kasih, maka firman-firmanNya yang kita tabur tentu akan menumbuhkan kasih pula. Jika kasih yang tumbuh, maka lita pun akan penuh dengan buah kasih dan kebajikan, 1 Korintus 13:4-7. Semua inilah yang akan tumbuh dan semua ini akan membentuk pribadi kita menjadi pribadi yang berkenan di mata Tuhan. Tidak ada tempat bagi hal-hal negatif di dalam kasih. Jika kita berbuah kasih, maka pikiran kita bisa terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif yang siap menenggelamkan diri kita dan mengarahkan kita untuk hanyut semakin jauh dalam dosa. Selain itu, janganlah kita memenuhi pikiran kita dengan berbagai ketakutan atau kekhawatiran yang seringkali tidak beralasan dan belum tentu terjadi seperti yang kita takutkan, Filipi 4:6. Jika ini kita lakukan maka hidup kita pun menjadi lebih indah sebab damai sejahtera Allah akan selalu hadir di dalam diri kita, Filipi 4:7.

Menabur firman Tuhan dalam pikiran kita, menabur benih-benih yang baik disana, itu akan membuat kita kelak bertunas hal-hal yang baik pula. Jangan lupakan bahwa kita pun harus menaklukkan pikiran kita dalam Kristus agar tidak ada benih-benih negatif yang bakal tumbuh disana. Hal ini tepat seperti yang dilakukan pula oleh Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya. “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2 Korintus 10:5b). Control your mind and don’t let your mind control you. Kita harus mampu mengendalikan pikiran kita, menabur hal-hal yang positif, yang baik dan yang benar sesuai firman Tuhan, serta menaklukkannya kepada Kristus. Marilah kita mengendalikan dan memperhatikan pikiran kita, sebab apapun benih yang kita tanam di dalamnya akan sangat menentukan tunas seperti apa yang akan tumbuh dari diri kita.

Apa yang tumbuh dalam pikiran kita tergantung dari benih seperti apa yang kita tabur di dalamnya

Happy New Year 2012

Matius 24:4 – “Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!”

Selamat Tahun Baru 2012! Rasanya seperti baru kemarin kita merayakan tahun baru 2011, tapi kini kita sudah memasuki tahun yang baru, tahun yang bagi sebagian orang menakutkan. Menakutkan, karena ada banyak ahli sejarah terutama yang menyelidiki kebudayaan bangsa Maya mengatakan bahwa siklus dunia berhenti di tahun 2012. Artinya, tahun ini mereka perkiraan sebagai tahun terakhir perjalanan dunia. Bahkan ada ahli yang berani memperkirakan tanggal dan jam berapa tepatnya bumi akan menemui akhirnya. Sebuah film dari Hollywood mengambil judul 2012 secara langsung dan menggambarkan bagaimana kiamat itu tiba. Banyak dari kita yang merasa cemas memasuki tahun 2012 ini. Tanpa memikirkan ramalan-ramalan ini pun kita seringkali diliputi perasaan kuatir memasuki tahun yang baru, apalagi jika tahun yang baru saja berlalu bukan tahun yang baik buat kita. Bagi saya pribadi, sebuah tahun yang baru merupakan awal dari sebuah perjalanan baru yang akan membuka berkat-berkat yang baru pula. Mengapa saya bisa percaya akan hal itu? Karena Tuhan sendiri sudah berkata: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3:22-23). New dawn with a new hope, a new chapter of life where I can experience more amazing things from God. That is, if I keep on walking with Him in an even closer relationship than the previous years.

Benarkah kita bisa memprediksi kapan dunia ini akan kiamat? Ada banyak nubuatan dalam kitab terakhir Wahyu yang memang sudah atau mulai digenapi. Kita tidak bisa mengabaikan hal itu. Tandanya, memang akhir zaman sudah dekat. Tapi tidak satupun orang yang tahu kapan tepatnya hari itu akan tiba. Tuhan Yesus sendiri bahkan berkata: “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.” (Markus 13:32). Jika Tuhan Yesus saja tidak tahu, apalagi kita. Oleh karena itulah kita diingatkan untuk berjaga-jaga setiap saat sampai waktu Yesus datang untuk kedua kalinya tiba. “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.” (Markus 13:33). Perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat dalam Matius 24:45-51 menggambarkan hal itu, perumpamaan gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh dalam Matius 24:1-13 juga mengingatkan hal yang sama. Demikian pula dalam Lukas 12:35-48. “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala…Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.” (Lukas 12:35,40). Kembali Paulus mengingatkan kita untuk berjaga-jaga dalam 1 Tesalonika 5:1-11. “Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.” (1 Tesalonika 5:1-2). Kapanpun, dimanapun, bagaimanapun, kita diingatkan untuk terus berjaga-jaga dan waspada, agar kita senantiasa siap ketika waktunya tiba.

Lebih lanjut Yesus menggambarkan datangnya akhir zaman dalam Matius 24:3-14. Disana Yesus mengingatkan agar kita jangan terpengaruh kepada berbagai ramalan atau isu-isu yang menyesatkan atau meresahkan. Ketika murid-muridNya menanyakan kapan kesudahan dunia itu terjadi, “Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!” (Matius 24:4). Berbagai tanda pun kemudian diberikan Yesus, dan kemudian ditutup dengan: ” Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (ay 14).

Tidak ada satupun orang yang tahu kapan hari itu tiba. Kita tidak perlu dicekam ketakutan akan datangnya hari kiamat itu, kita tidak perlu cemas berpikir bahwa ini adalah tahun terakhir dalam perjalanan dunia. Apa yang penting untuk kita lakukan adalah untuk senantiasa terus berjaga-jaga. “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!” (Markus 13:35-37). Hendaklah pinggang kita tetap terikat dan pelita tetap bernyala. Bagi para hamba Tuhan, ingat pula untuk melatih dan menguasai seluruh tubuh, karena Paulus sudah mengingatkan demikian: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Korintus 9:27). Masukilah tahun yang baru dengan semangat baru, gairah baru dan ketaatan yang baru. Perbaharuilah hubungan anda dengan Tuhan yang mungkin mulai compang camping akhir-akhir ini. Bagi yang sudah membangun kedekatan, pertahankan dan tingkatkanlah. Tuhan menyediakan berkat-berkatNya yang baru memasuki tahun yang baru, yang tidak tergantung pada kondisi dunia secara global. Karena itu, mari kita bersukacita dan bersyukur dalam melangkah memasuki tahun 2012 ini. Selamat Tahun Baru, Tuhan Yesus memberkati anda semua.

Tuhan berjanji mengawasi kita dari awal sampai akhir tahun, bersyukurlah untuk itu.

Bersukacita Menyambut Tahun Baru

“Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” Mikha 7:7

Apa yang anda rasakan dalam menyambut tahun 2012? Bersyukurlah jika anda merasa baik-baik saja dan tenang dalam memasuki tahun yang baru. Pada kenyataannya ada banyak yang khawatir dengan berbagai macam alasan. Ada yang mengalami banyak problema di tahun 2011 sehingga mereka pun merasa gamang untuk melangkah ke dalam tahun berikutnya. “Tahun ini saja sudah susah, bagaimana tahun depan? Ada pula yang dicekam ketakutan karena banyaknya ramalan-ramalan yang mengatakan bahwa tahun 2012 merupakan tahun terakhir perjalanan sejarah manusia di bumi. Kondisi sulit, krisis terjadi dalam multi dimensi. Bukan saja di negara kita tapi secara global pun demikian baik dalam segi ekonomi, politik, keamanan, kesehatan, dan lain-lain. Belum lagi bencana alam dan sebagainya yang memporakporandakan banyak tempat di berbagai belahan dunia. Lantas bagaimana? Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita kehilangan sukacita dan masuk ke dalam tahun baru dengan sikap pesimis atau bahkan menyerah sebelum bertanding? Jangan sampai. Alangkah sayangnya apabila kita menatap tahun yang baru dengan pandangan suram atau tanpa harapan.

Mungkin baik bagi kita untuk belajar dari apa yang terjadi pada masa pelayanan Mikha. Mikha ini adalah seorang nabi dari desa terpencil yang pelayanannya ada dalam rentang masa pemerintahan raja Yotam, Ahaz dan Hizkia. Situasi dan kondisi dunia saat ini sepertinya sama seperti pada masa Mikha itu. Pasal 7 kitab Mikha menggambarkan bagaimana kebobrokan moral di zaman itu. Kelaparan, gagal panen (ay 1), kemerosotan moral, hilangnya orang saleh dan jujur, saling jebak, saling tipu, bahkan saling menghancurkan (ay 2), sudah begitu terbiasa berbuat jahat, pejabat dan hakim korupsi dan menerima suap, pemimpin memaksakan kemauannya, hukum diputar balikkan (ay 3), orang yang terbaik sekalipun di dunia diibaratkan bagai semak duri yang tidak berguna dan menusuk (ay 4), tidak ada lagi yang bisa dipercaya (ay 5), kehancuran rumah tangga, permusuhan antara anggota keluarga (ay 6). Semua ini dikatakan Mikha seperti sebuah luka yang tidak dapat sembuh dan menular. “sebab lukanya tidak dapat sembuh, sudah menjalar ke Yehuda, sudah sampai ke pintu gerbang bangsaku, ke Yerusalem!” (ay 9).

Bukankah apa yang kita hadapi hari ini kurang lebih sama dengan situasi yang Mikha hadapi pada masa itu? Karenanya kita bisa belajar lewat sikap Mikha dalam menghadapi kondisi sulit ke depan. Ayat bacaan hari ini menggambarkan penyerahan sepenuhnya pada Tuhan. “Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” (Mikha 7:7). Perhatikanlah, setelah kita melihat bagaimana kebobrokan moral diungkapkan begitu gamblangnya dalam kitab ini, Mikha lalu menyatakan sikapnya berada dalam kondisi seperti itu. Mikha memilih untuk berpegang kepada Tuhan dengan pengharapan penuh. Apabila Tuhan mampu menyelamatkan anak-anakNya di masa lalu, jika kita sudah berkali-kali melihat bahwa Tuhan mampu melakukan mukjizat lewat cara-cara yang ajaib, jika dulu Dia sanggup, sekarang pun Tuhan sanggup! Sebab Tuhan tidak pernah berubah, Dia selalu sama, dulu, sekarang sampai selamanya, (Ibrani 13:8). Dalam Kitab Mazmur 46:2-8, dikatakan bahwa Allah itu tempat perlindungan dan kekuatan sekaligus penolong dan sangat terbukti bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Ini janji penyertaan Tuhan yang luar biasa, dan pujilah Dia untuk itu. Tuhan sudah menjanjikan sesuatu yang seharusnya bisa melegakan dan menenangkan kita, sesuatu yang seharusnya tidak membuat kita harus kehilangan sukacita. Karenanya kita tidak perlu takut memasuki tahun baru yang secara logika manusia diprediksi bakal suram dan penuh ketidakpastian atau tanpa harapan. Penulis Ibrani selanjutnya mengatakan: “Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan.” (Ibrani 12:26-27). Ayat selanjutnya berbicara mengenai apa yang harus kita lakukan. “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (ay 28).

Lewat Mikha kita bisa belajar untuk terus dengan pengharapan penuh menanti-nantikan Tuhan. Mikha percaya kepada penyertaan Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun, Mikha percaya penuh pada kuasa Tuhan yang akan selalu menyelamatkan dan mendengarkan doa anak-anakNya. Daud mengingatkan bahwa ada penyertaan Tuhan yang luar biasa bagi kita meski bumi hancur lebur sekalipun. Dalam Ibrani kita juga membaca bahwa ada kita harus selalu bersyukur dan beribadah pada Allah karena Dia memberi janji buat kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, meski segala yang lain tergoncangkan. Yesus sendiri berkata: “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23). Karena itu, memasuki tahun baru, 2012, mari kita semua tetap setia menantikan Tuhan. Teruslah mengucap syukur dan berdoa, karena Tuhan siap meluputkan permasalahan bagi setiap yang percaya kepadaNya. Hanya dua hari lagi kita sudah memasuki lembaran tahun yang baru. Bersyukurlah kita masih diberi kesempatan untuk itu. Tidak perlu ada rasa takut, khawatir dalam menatapnya, karena Tuhan ada bersama kita.

Bersukacitalah menyambut Tahun Baru

Dengan Tuhan berjalan bersama anda

Renungan Harian Online

Semakin Pendek Atau Semakin Panjang

Mazmur 31:16

Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!

Secara tidak sadar manusia sering melakukan penipuan pada diri sendiri dengan berbagai cara mempertahankan kemudaan, misalnya: agar tampak tidak tua berupaya memoles rambut putih jadi hitam, kulit keriput dioperasi menjadi kencang, dan berbagai hal lain. Manusia tidak suka bicara tentang penuaan, kematian, kefanaan, ketidakberdayaan? Manusia lebih suka bicara dan mempertahankan tentang kehidupan, kekinian, dan kehebatan mereka di usia muda, meski sadar ataupun tidak mereka adalah makhluk yang bisa mati, fana, dan tidak berdaya.

Berapa kali Anda sudah merayakan ulang tahun? Atau sudah berapa kali Anda menghadiri perayaan ulang tahun orang lain? Selalu ada lagu “panjang umurya panjang umurnya …..” yang merupakan harapan manusia yang ingin kekekalan dengan umur panjang. Tapi kalau mau jujur setiap kali kita berulang tahun umur kita memendek satu tahun dan bukan bertambah panjang satu tahun karena kita hidup dalam kondisi sementara. Umur panjang adalah saat kita menerima Kristus sebagai Juruselamat karena Dialah yang menjanjikan hidup kekal nanti. Oleh sebab itu orientasikan hidupmu pada hal yang kekal dan bukan pada hal yang fana.

Hidup kekal hanya ada dalam Kristus.

Menantikan Natal

Lukas 2:25

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya.

Bulan Desember merupakan bulan yang paling banyak dinanti oleh banyak orang. Ya, bulan Desember selalu mengingatkan orang bahwa Natal dan Tahun Baru akan segera tiba. Sejak kecil kita juga selalu menikmati hari-hari menjelang Natal dimana terdapat suasana yang penuh dengan kasih, kehangatan, sukacita dan damai sejahtera ketika mengingat akan kelahiran Yesus.

Banyak orang menunggu datangnya Natal dengan beragam motivasi yang berbeda. Natal seringkali dihubungkan dengan sale atau discount besar-besaran, meningkatkan omzet perusahaan, liburan panjang, pesta yang meriah dengan teman-teman dan relasi kantor, serta berbagai macam alasan lainnya. Seringkali keceriaan dan kemeriahan sesaat itu berlalu dengan begitu cepat sehingga kita kehilangan makna dari Natal yang sesungguhnya.

Apabila ada seorang tokoh dalam Alkitab yang sangat menanti akan datangnya Natal, maka orang itu adalah Simeon. Setelah menanti bertahun-tahun akan janji kedatangan Mesias, Simeon sangat bersukacita ketika raja yang dinantikan itu akhirnya lahir dan berada dalam pengkuannya. Seluruh penantiannya seakan terbayar lunas saat dalam usianya yang sangat lanjut, ia dapat berjumpa dengan bayi yesus yang ditunggu-tunggunya selama ini.

Tanpa terasa kita telah memasuki bulan Desember dan hari-hari menjelang Natal. Akan terdapat bermacam-macam kesibukan yang segera dihadapi. Apakah yang sesungguhnya Anda tunggu? Kiranya penantian Anda tidak sia-sia.

Agar Natal menjadi bermakna, berilah Kristus tempat utama di hati Anda.

Bethlehem Berkat & Pengharapan

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.” Lukas 2:14

Alkitab menyatakan: “…Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betleham, – karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud – supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,” (ayat 4-6). Bukan suatu kebetulan jika Yesus dilahirkan di Betlehem; semua dalam rencana Allah. Dalam bahasa Ibrani, nama ‘Betlehem’ berarti ‘rumah roti’, berbicara tentang berkat Tuhan. Di Betlehem inilah Allah menyediakan berkat-berkat bagi umat manusia sebagaimana disampaikan malaikatNya, “…aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (ayat 10-11). Inilah inti berita Natal yaitu kehendak Allah sendiri untuk memberikan anugerahNya bagi setiap orang yang percaya (baca Yohanes 3:16).

Di Betlehem Allah telah mendemonstrasikan kasihNya yang tak terbatas, di mana Ia menjadi sama dengan manusia. Suatu perkara yang tidak bisa dimengerti oleh orang-orang dunia: kasih Allah juga mengandung janji yang pasti yaitu jaminan hidup kekal bagi setiap orang yang percaya. “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” (Yohanes 3:36).

Kehadiran Yesus Kristus ke dunia memberikan pengharapan baru dan juga masa depan. Ketika dunia diliputi oleh kegelapan yang begitu pekat, Yesus hadir dengan terangNya yang ajaib. Hari ini, “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.” (Yohanes 1:9). Kini kegelapan tidak lagi menguasainya! Maka dari itu bersukacitalah dan “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana,” (Lukas 2:15b). Lihatlah! Para gembala dan orang-orang Majus datang ke Betlehem. Mereka tidak datang dengan tangan hampa, tapi yang terbaik dari hidupnya mereka persembahkan kepada Tuhan!

Di hari Natal ini mari kita persembahkan hidup kita dan segala yang ada pada kita; karena Dialah kita beroleh anugerah keselamatan!

Sejarah Natal

Kata Christmas mempunyai arti Mass of Christ yang kemudian disingkat menjadi Christ-Mass. Versi yang lebih pendek lagi Xmas pertama kali dipakai di Eropa pada tahun 1500-an, berasal dari abjad Yunani, X adalah huruf pertama dari Xristos (Kristus) juga X merepresentasikan salib, jadilah “X-Mass”.Christmas dirayakan orang-orang diberbagai belahan bumi pada tanggal 25 Desember, tetapi sebenarnya Yesus tidaklah lahir pada 25 Desember.

Pada masa awal kekristenan, bangsa Romawi yang masih menganut kepercayaan pagan merayakan Saturnalia untuk menyembah dewa Saturnus (dewa panen) dan Mithras (dewa terang/sinar), suatu bentuk dari penyembahan matahari yang berasal dari Syria seabad sebelumnya. Perayaan Saturnalia ini diadakan tepat setelah winter solstice, hari pertama musim dingin (winter), juga merupakan siang hari terpendek dan malam hari terpanjang sepanjang tahun. Solstice berarti “sun standing still”, matahari tetap berdiri, untuk menyatakan bahwa musim dingin tidaklah selamanya, hidup terus berlangsung, suatu undangan untuk tetap dalam semangat yang baik.

Orang-orang Kristen pada masa itu menyamarkan perayaan winter solstice. Pada saat orang-orang Romawi dengan meriah merayakan Saturnalia, maka orang-orang Kristen berkumpul bersama di dalam sebuah rumah bersekutu dan mengadakan kebaktian untuk merayakan kelahiran Yesus.

Pada tahun 274M solstice jatuh pada tanggal 25 Desember. Kaisar Romawi pada waktu itu, Aurelian, memproklamirkan tanggal itu sebagai “Natalis Solis Invicti”, perayaan kelahiran matahari yang perkasa. Pada tahun 320M Paus Julius I menyatakan tanggal 25 Desember sebagai tanggal resmi kelahiran Yesus. Pada tahun 325M Kaisar Constantine the Great, kaisar Romawi pertama yang beragama Kristen, yang menginginkan seluruh kekaisaran menjadi Kristen, merubah perayaan solstice menjadi Christmas. Secara resmi dirayakan sebagai kelahiran Yesus Kristus.

Lebih dari 1000 tahun kemudian, perayaan Christmas mengikuti ekspansi kekristenan ke seluruh Eropa dan Mesir. Sepanjang waktu itu perayaan Christmas tercampur dengan pesta pora kepercayaan pagan, tukar menukar kado yang sebelumnya marak pada perayaan Saturnalia juga menjadi tradisi Christmas, berbagai macam ritual menyambut musim dingin menjadi suatu tradisi yang panjang dalam merayakan Christmas.

Sebenarnya banyak penolakan terhadap Christmas, pada tanggalnya yang mengambil tanggal perayaan Saturnalia, ataupun juga pada toleransi terhadap tradisi pagan yang ikut serta dalam perayaan Christmas. Pada masa Reformasi Gereja di abad ke 16 orang-orang Protestan menentang otoritas Gereja Katolik, termasuk Christmas yang sarat dengan tradisi pagan. Pada abad ke 17 kaum Puritan melarang Christmas di Inggris dan beberapa koloni Inggris di Amerika Utara karena mereka merasa Christmas berisi berbagai kegiatan yang tidak berguna seperti judi, pesta pora dan makan minum sepuasnya, bersaing dalam kemewahan.

Pada masa kini orang-orang bahkan banyak yang tidak mengetahui asal mula penentuan tanggal 25 Desember, yang diketahui pada waktu ini adalah merayakan kelahiran Yesus Kristus. Atau bahkan mungkin juga sudah bukan lagi merayakan kelahiran Yesus Kristus tetapi merayakan kedatangan Santa Claus dari mall dan plaza, maksudnya cerobong asap membagi hadiah J.

Berbagai kebaktian diadakan di gereja gereja pada malam menyambut Christmas, biasanya disertai renungan makna kelahiran Yesus bagi kita. Tetapi itu di dalam gereja, di luar itu, apakah kita masih merenungkan makna Natal atau lebih sibuk berbelanja dalam musim diskon yang luar biasa ini dan berlibur keluar kota dalam libur panjang?

(Jonathan Goeij-glorianet.org)

God’s Perfect Timing

 Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa Suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat.
Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawa nya kemanapun ia mau.
Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.

Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata.

Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya.

Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.

Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanya an rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.

Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter.

Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.

Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.

Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan.

Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, “Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan.”

Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis.

Lalu Tuhan berkata, “Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju.” Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.

Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.

Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu. (Diambil dari Inspirational Christian Stories oleh Vincent Magro-Attard)

Untuk dapat melihat kehendak Tuhan digenapkan di dalam hidup anda, anda harus mengikuti Tuhan dan bukan mengharapkan Tuhan yang mengikuti anda. (Dave Meyer, Life In The Word, Juni 1997)

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…. ” (Pengkotbah 3:11)

Apa yang kau alami kini, mungkin tak dapat engkau mengerti, Satu hal tanamkan di hati, indah semua yang Tuhan beri. Tuhan-mu, tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti, Cobaan yang engkau alami takkan melebihi kekuatanmu.