Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat Bethlehem, berdiri pada tanggal 8 Mei 1986. Sebelumnya dimulai sebagai salah satu rayon dari GPdI Ketapang, berbakti memakai rumah anggota rayon secara bergantian, sampai akhirnya menempati rumah saudara Yudi Prayogo di Jl. Janur Hijau I Blok TJ II No. 9, yang disumbangkan kepada gereja sebagai cabang Sekolah Minggu GPdI Kramat, maka dimulailah kebaktian hari Minggu dan Sekolah Minggu yang sudah berjalan pun dengan resmi berdiri di bawah naungan GPdI Kelapa Gading.
Di bawah pimpinan Pdt. Michael Kairupan, Pdt. A.H. Mandey mempercayakan GPdI Kelapa Gading menjadi jemaat mandiri, tidak bergantung lagi kepada GPdI Ketapang maupun Kramat, dan kemudian oleh Majelis Daerah V Jakarta, Pdt. M.P. Kairupan ditetapkan menjadi gembala sidang. Waktu pun berjalan, kebaktian berkembang, puji Tuhan jiwa-jiwa pun bertambah, maka dibukalah kebaktian-kebaktian wadah, yaitu wadah remaja, pemuda dan wanita, sudah tentu dengan tujuan supaya masing-masing anggota bertambah di dalam Tuhan.
Tak lama kemudian, tempat Sekolah Minggu dirasakan semakin kurang, sehingga untuk sebagian kebaktian Sekolah Minggu diadakan dengan menyewa halaman rumah di sebelahnya, kemudian waktu berjalan lagi, jemaat semakin bertambah, membuat kebaktian yang tadinya hanya satu kali pada hari Mingu, ditambah menjadi dua kali. Pada awal tahun 1993, tercetuslah pemikiran untuk membangun sebuah gereja yang lebih besar dengan tempat parkir yang memadai, maka dengan iman dibentuklah Panitia Pembangunan.
Dengan proses yang panjang, akhirnya didapatlah tempat di Jl. Janur Elok III Blok HF No. 8, Kelapa Gading Permai, dengan tanah seluas 3200 m2, sehingga diharapkan dapat menampung kurang lebih 60 mobil pada pelataran parker. Dengan didapatnya lahan tersebut, maka dimulailah “Peletakan Batu Pertama” di tempat itu, yaitu pada tanggal 19 September 1993 yang dilakukan oleh bapak Walikota Jakarta Utara, pada tanggal 1 Oktober 1993 dilanjutkan dengan “Pemancangan Tiang Pertama”.
Pembangunan terus berjalan. Tetapi, kira-kira pembangunan mencapai 70%, yaitu pada proses penutupan atap, tiba-tiba ada berita bahwa pembangunan harus ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan, karena ada protes dari beberapa warga sekitar tempat itu yang tidak menyetujui dibangunnya gereja di wilayah itu.
Melalui proses panjang, dengan melakukan berbagai negosiasi sampai ke tingkat Gubernur, maka diputuskan oleh PEMDA DKI pembangunan dihentikan, walaupun masalah dengan bukti-bukti yang otentik. Saat itu pembangunan telah memakan biaya Rp 700 juta dari total biaya 1,2 milyar rupiah.
Sedih dan kecewa bercampur menjadi satu, itulah yang tersimpan jauh di dalam hati, namun Tuhan Yang Maha Kuasa itu, Allah El Shaddai, Dia sanggup melihat jiwa yang hancur, yang kerap kali jatuh tersungkur di bawah kaki-Nya. Sambil menunggu dan berdoa, jemaat tetap setia datang berbakti di Jl. Janur Hijau I, selama satu tahun semua bertekun dalam doa menanti pertolongan Tuhan.
Panitia dan pihak-pihak yang terkait terus mengadakan pendekatan dengan pihak Summarecon, dengan kehendak dan pertolongan Tuhan, maka didapatlah penggantian tanah di Jl. Pelepah Elok Raya Blok HF1, dengan luas tanah 1600 m2 atau setengah dari luas tanah sebelumnya.
Ketika panitia meninjau lokasi tanah yang dimaksud, sebagai manusia dengan berat hati memutuskan untuk menerima,walaupun pada saat itu daerah ini masih sangat sepi, belum ada bangunan besar seperti yang sekarang ini. Lokasi inilah yang hingga kini menjadi tempat GPdI Bethlehem Kelapa Gading Jakarta Utara.
Pemancangan tiang pertama dengan simbol diadakan pada tanggal 21 April 1996 yang bertepatan dengan meninggalnya ibu Tien Soeharto. Tangan Tuhan terulur dengan sangat ajaib melalui sumbangan-sumbangan dari jemaat, dermawan yang tidak bergereja di tempat ini, malam dana yang antara lain memakai moment ulang tahun bapak gembala yang ke-43 dan termasuk mengadakan bazaar.
GPdI Bethlehem Kelapa Gading dibangun dengan total biaya 1,4 milyar rupiah dan memakan waktu 11 bulan. Karena mengingat dana yang dibutuhkan sangat banyak pada waktu itu, maka kebaktian natal yang biasanya diadakan di Kelapa Gading Sport Club dan gedung Asmi, diputuskan untuk diadakan di gedung gereja yang belum selesai, dengan tujuan penghematan, sehingga dana untuk menyewa gedung dapat dipakai untuk penyelesaian pembangunan. Pada waktu itu, sebagian anggota panitia sudah merasa putus asa, karena biaya yang cukup besar yang belum dibayar sedangkan uang kas tidak ada, membuat panitia dikejar-kejar bahkan diancam oleh supplier dan sub kontraktor untuk penagihan pembayaran, maka diputuskan semua pembayaran diambil alih oleh bapak gembala. Semua manusia dapat meninggalkan kita, tetapi kalau Tuhan di pihak kita siapakah lawan kita?
Puji Tuhan, Yesus kita adalah Allah yang hidup, Yang Luar Biasa, syukurlah untuk setiap janji Tuhan bagi kita!!! Dengan pertolongan Tuhan, kasih sayang dan campur tangan Tuhan Yesus, maka proses pembangunan GPdI Behlehem dapat diselesaikan, tepat satu bulan sebelum terjadi krisis moneter di Negara kita ini. Bila krisis terjadi sebelum gereja selesai dibangun, maka pastilah beban itu menjadi terasa lebih berat. Maka tahun itu dinamakan tahun anugerah bagi gembala dana seluruh jemaat GPdI Bethlehem yang ada waktu itu.
Akhirnya, tepat pada tanggal 25 Mei 1997, gedung Gereja Pantekosta di Indonesia jemaat Bethlehem yang baru diresmikan pemakaiannya oleh Walikota Madya Jakarta Utara pada waktu itu bapak H. Suprawito. Sampai sekarang Tuhan masih memelihara, kebaktian wadah dari empat wadah yang ada, yaitu Sekolah Minggu, Remaja, Pemuda dan Wanita, kini telah bertambah dengan tiga wadah kebaktian lagi, yaitu wadah Lansia (Lanjut Usia), Pasutri (Pasangan Suami Istri) dan wadah Pria.
Ditambah lagi dengan kegiatan-kegiatan lain seperti doa puasa, doa semalaman, retreat keluarga, kebaktian keluar gedung gereja, bagi Sekolah Minggu ada retreat dan Sekolah Injil Liburan; bagi Remaja ada Kelompok Kecil (Pokcil); bagi Pemuda ada hari-hari doa dan kegiatan-kegiatan wadah lainnya, juga kebaktian rayon, maka semakin bertambah besarlah ucapan syukur kami kepada Tuhan atas limpahan anugerah-Nya, sehingga Dia menyatakan pekerjaan-Nyadi tempat ini. Bahkan ketika pada tahun 1998 terjadi pembakaran gedung-gedung gereja, GPdI Bethlehem termasuk yang luput dari kejahatan massa, walaupun pada waktu itu gereja ini adalah bangunan besar satu-satunya yang ada di wilayah ini dan tidak mempunyai pagar.
Halleluya, segala puji bagi Tuhan!
Bagi saudara yang ingin bergabung dengan kami, mari datanglah, ikutilah jadwal-jadwal kebaktian di warta jemaat, tempat ini ada bagi kita, bagi saudara, Halleluya!
