Hidup Yang Dimerdekakan Allah

Lukas 15:11-24

Tanda-tanda adanya kehidupan dapat dilihat dari pertumbuhan atau perkembangan. Tumbuh Perumpamaan ini merupakan gambaran dari kehidupan yang nyata. Masalah yang timbul dari cerita ini sebetulnya berkaitan dengan doa bapa kami. Matius 6:11, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Ayat ini ada karena berkaitan erat dengan peristiwa anak terhilang. Masalah ini bukanlah masalah klasik dimana anak ini pergi menghabiskan harta orang tua lalu balik. Peristiwa ini bercerita tentang seorang anak yang tidak tenang tinggal dalam suatu kehidupan yang teratur dan tertata dengan baik. Satu kali anak ini berpikir bahwa dia perlu menentukan hidup sendiri.

Tuhan mencipta dan meletakkan naluri dalam diri kita. Sebelum jatuh dalam dosa, naluri ini adalah saluran Allah untuk memelihara manusia. Waktu manusia lapar, naluri ini menuntun kita kepada makanan. Waktu mengantuk dan lelah, naluri ini menuntun kita istirahat pada waktunya. Tetapi, ketika dosa masuk ditengah-tengah kehidupan manusia (Kejadian 3), kehidupan manusia tidak hanya diperjuangkan dengan naluri yang bergerak pada kehidupan, tetapi kehidupan manusia didorong oleh naluri yang berkaitan dengan keinginan. Naluri selalu menuntun kita kepada dua hal keinginan dan kebutuhan, misalnya : Karena kita lapar maka kita bekerja cari makanan. Naluri yang baik menuntun kita kepada kebutuhan, tetapi kalau naluri ini sudah dicemarkan oleh dosa, maka naluri ini bukan hanya menuntun kepada kebutuhan tetapi dia mengarah kepada keinginan.

Satu saat anak ini meminta warisan kepada ayahnya. Dari segi etika orang Asia hal ini tidak bagus, karena sama saja dengan mendoakan agar orang tua cepat meninggal. Kerusakan dalam cerita ini hanya satu, karena keinginan itu bermain pada naluri. Anak ini membentuk diri dengan informasi negatif, sehingga tumbuh keinginan dan akhirnya naluri itu mulai mengarah pada keinginan. Yakobus 1:14-15, “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri,… Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut”.

Keinginan bukan kebutuhan. Keinginan anak ini mulai berkembang sehingga melahirkan tindakan, dia meminta warisannya kepada ayahnya. Setelah mendapat haknya, dia pergi dan hidup berfoya-foya. Keinginan melahirkan dosa, setelah dosanya matang akhirnya dia jatuh kedalam penderitaan dimana untuk makan dia harus makan makanan babi. Keinginan itu seperti batu karang yang tidak ada puas-puasnya, disiram air sebanyak apapun dia akan tetap kering. Ketika keinginan itu sudah dibuahi dan matang, dia akan menjadi dosa dan akhirnya mendatangkan maut.

Jika rumah tangga Kristen bergerak pada kebutuhan, kita akan tidak menjadi orang yang dikemudian hari merana seperti anak ini. Sebaliknya, jika keluarga bergerak pada keinginan dan bukan kebutuhan hal ini suatu ketika akan membuat kita masuk dalam penderitaan. Ketika hawa berhadapan dengan iblis, pohon yang sekian lama dia lihat itu biasa saja tiba-tiba berubah menjadi sangat menarik karena keinginan masuk dalam hatinya. Keinginan itu bisa membuat sesuatu berubah. Firman Allah berkata bahwa segala sesuatu yang kita lakukan tanpa iman itu berdosa. Jadi, kita perlu berdoa dan dekat selalu dengan Tuhan.

Waktu kita melangkah kepada keinginan sebetulnya kita sudah tahu apa hasil akhirnya. Amsal 13:21, “Orang berdosa dikejar oleh malapetaka, tetapi Ia membalas orang benar dengan kebahagiaan”. Malapetaka seperti rudal yang akan mengejar kita ketika berbuat dosa, dengan kata lain bahwa orang berdosa selalu dikejar oleh malapetaka. Kita mungkin bisa menutupi dosa kita dihadapan orang lain dengan sangat baik, tetapi Firman Tuhan memberi tahu bahwa malapetaka itu akan mengejar kita. Akibatnya, saat kita merasa semua baik-baik, rumah tangga menjadi berantakan, usaha tiba-tiba bangkrut, dan sebagainya. Tetapi, Tuhan mengejar dan membalas orang benar dengan kebahagiaan. Karena itu, beresakan setiap dosa dan pelanggaran kita supaya malapetaka tidak mengejar kita.

Malapetaka terjadi terus dalam kehidupan anak ini, sehingga untuk makan saja susah dan derajat kehidupannya menjadi tidak mulia. Mungkin malapetaka dalam kehidupan kita tidak mencapai seratus persen, tetapi kadang akibatnya akan sampai kepada anak kita. Kita sedih waktu menjadi orang tua dan melihat anak-anak kita hancur, kita mengakhiri masa tua dengan penuh kesedihan. Mazmur 133, dikatakan bahwa dimana ada persekutuan yang manis, di sana Tuhan perintahkan berkat seperti embun di gunung Hermon turun sampai ke gunung Sion. Ini adalah ungkapan Daud, seorang yang luar biasa memimpin bangsa Israel dalam pertempuran melawan musuh, tetapi tidak sukses dalam rumah tangga karena malapetaka tidak pernah berhenti masuk ke tengah-tengah keluarga karena dosa ketika Daud berzinah dengan salah satu istri perwiranya dan kemudian membunuh perwira tersebut. Daud sukses sebagai pemimpin, tetapi gagal dalam rumah tangga. Anaknya yang satu membunuh anak yang lain, dan anaknya yang satu juga memperkosa adiknya. Akhir yang menyedihkan.

Malapetaka tidak akan pernah berhenti mengejat kita jika masih hidup dalam dosa. Itu sebabnya, kita belajar dari anak ini bagaimana caranya keluar dari permasalahan.

Pertama: Menyadari keberadaan kita (Lukas 15:16-17). Naluri dan nalarnya bekerja sehingga terjadi komparatif/perbandingan antara keadaannya sekarang dengan keadaan di rumah orang tuanya yang membuat dia sadar akan keadaannya. Ketika kita berada dalam kelemahan bahkan dosa, pergunakanlah nalar yang pernah diisi oleh kebenaran Firman Tuhan. Sebab itu, Ulangan 6 memberitahu bahwa orang tua perlu mengajar anak berulang-ulang kali tentang Tuhan. Pada nalar yang bagus kita akan selalu memiliki pertimbangan. Satu saat, pemahaman Firman melalui pengetahuan akan menyelamatkan kita dari persoalan. Pikiran kita membentuk paradigma kita, dan paradigma menjadi dasar kita berpijak sebelum kita melakukan tindakan. Jika dalam pikiran kita tidak ada Firman Allah, bagaimana kita akan menjadi kuat. Alkitab berkata bahwa Injil adalah kekuatan Allah (Roma 1:16).

Ketika kita memiliki nalar yang bagus karena Firman Allah, maka nurani kita akan menjadi terbuka. Nurani merupakan cahaya hati. Nurani bisa menjadi gelap sehingga seseorang tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jika nurani kita terbuka, kita menjadi sensitif akan hal yang baik dan yang tidak baik. Itu sebabnya, Tuhan selalu meneliti hati bukan jalan pikiran. Ketika nurani anak ini terbuka, dia menyadari bahwa dia telah berdosa terhadap Tuhan dan bapanya. Waktu nurani bekerja dengan baik, kita mampu untuk berdiri di hadapan Allah. Ibadah tanpa nurani yang benar, hanya akan menjadi sebuah ritunitas/ritual yang tidak akan memberi dampak apa-apa bagi kita. Tujuan kita beribadah adalah terjadi perubahan dalam hidup. Anak ini sadar karena nuraninya terbuka.

Kedua: Berani untuk bertindak (Lukas 15:20-21). Waktu nuraninya terbuka, dia menyadari bahwa dia telah berdosa kemudian dia bertindak. Dia tidak peduli dengan resiko yang akan dihadapi atau apa perkataan orang terhadap dirinya karena yang utama bagi dia adalah bisa kembali ke rumah bapa. Keberanian membuat anak ini berani menemui ayahnya dan mengakui kesalahannya.

Alkitab berkata bahwa jika Allah memerdekakan kita maka kita akan menjadi orang yang benar-benar merdeka. Yang berbahaya adalah intimidasi dosa yang dilakukan iblis sehingga menjadikan kita tidak sanggup untuk bertumbuh. Orang yang dimerdekakan Tuhan dari dosa akan merasa kuat karena Firman membaharui hidup kita, tetapi orang yang hidup dalam dosa akan selalu diintimidasi iblis dengan dosa itu. Apapun dosa kita, jika kita mengaku maka Tuhan akan mengampuni kita (1 Yohanes 1:9). Waktu Tuhan ampuni, Dia akan membaharui segala sesuatu dan memberikan yang baik dalam hidup kita sehingga akhirnya kita akan melihat kemuliaan Tuhan. AMIN