Kedar Nebayot Anak Ismail

Yesaya 60 : 1 – 7

Ayat-ayat ini merupakan nubuatan yang akan digenapi di akhir zaman, ketika gereja sanggup memberikan tanggapan terhadap keinginan Tuhan pada ayat pertama, yaitu gereja harus bangkit. Keinginan Tuhan agar gereja bangkit, sebenarnya berhubungan dengan pasal sebelumnya. Dalam Yesaya 59, kita dapat melihat alasan Tuhan memberikan gereja otoritas, sekaligus melalui gereja Tuhan mempercayakan nasib suatu bangsa/komunitas. Yesaya 60 : 6 – 7, mereka adalah kaum Kedar dan Nebayot.

Tuhan memberikan kesempatan kepada gereja, bersama dengan Tuhan bekerja untuk memberikan harapan bagi bangsa-bangsa. Dalam Yesaya 59 : 9 – 10, komunitas ini sedang berharap adanya terang. Sebelum terang itu tiba, kalimat terakhir ayat 10 berkata “kami tersandung diwaktu tengah hari”. Tengah hari sebetulnya sedang terik-teriknya matahari, dan sinar yang turun itu menolong seseorang untuk berjalan. Tetapi menurut ayat ini, mereka justru tersandung sama seperti diwaktu senja, ketika gelap mulai datang.

Yesaya 59 : 14, “Hukum telah terdesak ke belakang, dan keadilan berdiri jauh-jauh, sebab kebenaran tersandung di tempat umum dan ketulusan ditolak orang”. Mereka sedang menunggu sesuatu menolong mereka untuk melihat lebih baik kedepan. Tidak ada harapan sama sekali, karena hukum disini sudah terdesak kebelakang. Hukum mengatur tentang hidup supaya dapat mendatangkan ketenangan. Ada aturan, tidak liar dan brutal seperti yang terjadi hari-hari ini. II Timotius 3 : 1 – 4.

Jadi, kehidupan brutal/garang sebagian masyarakat menandakan akhir zaman sudah tiba. II Timotius 3 : 1, menyebut keadaannya sulit, sukar. Penyebab situasi yang sulit pada akhir zaman ada pada ayat dua, ketika orang menaruh hati begitu besar terhadap kekayaan/ uang. Inilah yang akan menjadi tuan bagi mereka. Akibatnya semua kebijakan, keputusan tidak bisa memenuhi harapan yang diperlukan karena orang-orang yang diberikan kepercayaan untuk itu dipengaruhi oleh sikap mereka terhadap kekayaan/uang. Bukan uang/kekayaan yang salah, tetapi cara pandang seseorang terhadap kekayaan itulah yang menentukan baik buruknya tindakan mereka.

Kerusuhan baru-baru ini seperti api dalam sekam yang membakar sedikit demi sedikit. Api tidak mengenal kompromi. Jika tidak ada tindakan mengatasinya, api tersebut akan cepat sekali meluas/membesar. Yesaya 60 : 7, kita menemukan nama Kedar dan Nebayot. Siapakah mereka? I Tawarikh 1 : 29, anak tertua dari “Ismail adalah Nebayot kemudian Kedar. Yesaya 60, berkata bahwa mereka ini akan datang kepada Tuhan.

Ham adalah anak Nuh yang dikutuk oleh ayahnya sendiri setelah mengetahui bahwa Ham ini senang membicarakan kesalahan, kekurangan-kekurangan ayahnya. Ketika Nuh mabuk berat sampai tidak berpakaian sama sekali, Ham melihat ketelanjangan Nuh kemudian membicarakannya kepada saudaranya. Reaksi Sem dan Yafet mendengar omongan ini, mengambil kain lalu bersama-sama berjalan mundur, sampai ditempat dimana Nuh berada, kain tersebut dilempar menutupi Nuh. Jadi, cara menyelesaikan persoalan dari tiga orang ini berbeda. Sem dan Yafet tidak banyak bicara, mereka bertindak/bekerja dan menyelesaikannya. Tetapi Ham mulutnya yang bekerja, sehingga resiko yang harus dipetik Ham atas tindakannya adalah kutuk.

Dari Ham inilah lahir bangsa yang stigmanya kutuk, Put, Kusy, Misraim dan Kanaan adalah garis keturunan yang dikutuk. Mereka menempati Israel, tanah Palestina yang sekarang ini. Oleh karena itu kalau mereka mengklaim tanah tersebut adalah punya mereka, maka mereka berhak karena sejarahnya demikian. Ketika Abraham dipanggil Tuhan pergi ke Kanaan, dia mengusir semua orang Kanaan serta merebut tanah itu. Bagi Tuhan, orang yang sudah dikutuki haknya dicabut dan mereka menjadi budak. Tanah tersebut juga tidak berhak dimiliki oleh mereka.

Persoalan sekarang ini mendunia ternyata “Awalnya dari Tuhan”, sehingga Tuhan jugalah yang akan menyelesaikannya. Kejadian 16 : 9 – 12, Kelakuan Ismail liar. Liar berarti brutal, kejam, ganas. Salah satu tanda-tanda akhir zaman, adanya komunitas yang brutal ini (II Timotius 3 : 2). Kekerasan dengan kebaikan itu bedanya tipis sekali. Kedua-duanya dimulai dari PIKIRAN dan HATI yang sama.

Kejadian 16 : 12, “Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, …” Dia hidup dengan melakukan kekerasan, sehingga diapun diperlakukan keras. Memetik kesulitan yang satu, akan berakhir juga dengan kesulitan berikutnya. Tetapi Alkitab berkata bahwa satu saat mereka akan datang kepada Tuhan (Yesaya 60 : 7). Ada satu kesempatan yang disediakan Tuhan bagi mereka untuk menemukan arti hidup.

Yesaya 60 : 1, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu”. Allah mempercayakan harapan hidup mereka kepada gereja. Tidak akan ada orang merasa nyaman hidup dalam kekerasan. Sebab itu Tuhan menganjurkan gereja untuk bangkit. Melihat perkembangan situasi seperti sekarang ini, menimbulkan berbagai pertanyaan, sehingga membuat orang kehilangan semangat, motivasi untuk maju menjadi lemah. Jika kekristenan dianut hanya berdasarkan berkat, sangat besar kemungkinan terjadi kemurtadan ketika kondisi hidup berubah sulit, (Matius 13:21).

Mendengar Rasul Paulus yang sapu tangannya dapat menyembuhkan orang berada dalam penjara. Hal ini menimbulkan keraguan Timotius. Paulus melihat bahwa ini akan menimbulkan resiko murtad, sehingga Paulus berkata peganglah imanmu jangan malu bersaksi. Gereja sekarang ada dalam keadaan seperti ini, sehingga datang anjuran untuk bangkit, maju.

Kalau kita cinta keadilan, cinta hukum maka orang akan tenang. Tuhan berkata bangkit, sebab harapanKu hanya ada pada gereja yaitu kita. Yesus mempercayakan penginjilan global, nasib dunia ditangan gereja. Untuk maksud inilah korban Yesus di Golgota yaitu mendapatkan kita kembali menjadi bahagianNya. Tuhan ingin menjadikan diriNya betul-betul dapat dilihat orang melalui kita.

Yang perlu gereja lakukan adalah : belajar, membaca Alkitab dan melakukannya. Apa yang terjadi sekarang merupakan peringatan Tuhan. Tuhan melihat ada sesuatu yang serius, akan dihadapi gereja nanti sehingga Dia berkata dalam Yesaya 60 : 1, bangkit.

Suatu saat uang kita tidak berarti. Pengkhotbah 5 : 9 -10, semakin bertambahnya harta, maka semakin bertambah pula yang menghabiskannya, apakah kita sendiri atau orang lain. Pengkhotbah 6 : 2, kita boleh memiliki semuanya, tetapi kalau Tuhan tidak memberikan kemampuan untuk menikmatinya, semuanya tidak ada artinya. Tidak salah memiliki uang banyak, tetapi untuk menikmatinya kita perlu kemampuan dari Tuhan. Sebab itu mintalah Tuhan memberikan kita kuasa untuk menikmatinya.

Allah punya banyak cara untuk menyelamatkan kita. Kuncinya hanya satu, seberapa dekat kita dengan Tuhan. Kalau hukum sudah ditaruh dibelakang (Yesaya 59 : 14), tidak ada lagi tempat untuk kita hidup dengan aman, kecuali dalam Tuhan (Mazmur 62 : 2). Tuhan mengharapkan kita bangkit, pengorbananNya di Golgota hanya untuk mendapatkan kita agar menjadi bahagian diriNya.

Jangan pernah berpikir kita sendiri, kita memiliki Yesus yang selalu berada dekat dengan kita. Amin..