Pertumbuhan

Filipi 1:5 “Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini.” Filipi adalah jemaat yang di layani oleh Rasul Paulus, satu diantara beberapa jemaat yang lain seperti Kolose, Galatia, Roma, Korintus dan lain-lain. Jemaat Filipi mendapat perhatian Paulus disebabkan tingkat PERTUMBUHAN ROHANI mereka telah berdampak positif, terhadap mereka sendiri dan jemaat yang lain. Pengakuan Paulus bahwa dia merasa senang dan bangga dengan jemaat ini saat keterlibatan mereka dalam pelayanannya mulai awal hingga Paulus berada di Roma menulis suratan ini. Hari pertama yang di maksud dalam ayat ini adalah; pada saat Paulus ada bersama-sama dengan jemaat Filipi. Kisah Para Rasul 16: 14-15 “Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang di katakana oleh Rasul Paulus. Sesudah ia di babtis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: “Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku. “Ia mendesak sampai kami menerimanya.” Paulus masuk ke wilayah Makedonia dalam penginjilannya pertama-tama bukan bertujuan ke Wilayah tersebut. Dia mendapatkan penglihatan sehingga mengikuti kemauan Roh-Kudus.

Di Makedonia ada begitu banyak orang-orang yang merasa haus dan memerlukan pertolongan Tuhan. Allah mengutus Paulus di luar rencananya semula, kota pertama yang dia singgahi adalah Filipi. Pertumbuhan atau perkembangan kehidupan ke rohanian seseorang harus menjadi tanda bahwa kehidupan rohaninya sehat. Pertumbuhan adalah sebuah proses pengembangan secara teratur, kita lihat dari sosok Lidia. Ia seorang pengusaha yang datang ke Filipi untuk beribadah. Di dalam Bait Allah dia mendengar Paulus sedang menyampaikan Firman Tuhan pada saat itu. Lidia telah memberikan waktu dan kesempatan dalam hidupnya untuk mendengarkan kebenaran. Bagi Lidia ada dua pilihan yang harus dibuat yaitu percaya kepada apa yang disampaikan atau sama sekali diam = menolak Firman. Cerita selanjutnya dalam ayat tersebut menjelaskan wanita pengusaha kain ungu dari Tiatira ini, membuat keputusan PERCAYA terhadap Firman yang dia dengarkan. Waktu atau kesempatan yang telah dia korban kan menjadi berarti baginya Kisah Para Rasul 16:14-15 “Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. Sesudah ia dibabtis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: “Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.”Ia mendesak sampai kami menerimannya”. Lidia menjadi percaya kepada Tuhan lewat Firman Allah yang dia dengar dari Paulus dan memberi diri di babtis . Makna dari babtisan adalah tanda atau bukti dari keyakinan seseorang terhadap Tuhan. Ketika saudara di babtis , maka hamba Tuhan yang telah di percayakan Tuhan untuk membabtis saudara kalimat akhir yang akan dia ucapkan dalam doa adalah dalam nama Bapa, Anak dan Roh-Kudus yaitu Tuhan Yesus Kristus. Nama Tuhan telah di materaikan saat itu dan nama Yesus dalam hidup kita adalah sebuah jaminan untuk menyelamatkan setiap manusia yang percaya kepada-Nya Kisah Para Rasul 4:12 “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Nasib kita berubah dan menjadi jelas karena kita percaya kepada nama Yesus. Lidia ingin berbuat sesuatu untuk orang yang baru pertama kali dia temuai ada hal yang ingin dia berikan kepada Paulus ayat 15. Salah satu hal yang menandakan pertobatan sungguh-sungguh seseorang yaitu pemikiranya senang menerima dan memperoleh berubah menjadi senang untuk memberi Amsal 11:24-25 “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekuarangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” Salah satu contoh orang yang bertobat dari kejahatannya yaitu Zakheus. Ketika ia telah alami perjumpaan dengan Yesus, maka ia alami perubahan sikap yang luar biasa memberi setengah dari apa yang dia miliki bahkan diberikannya kepada orang miskin Lukas 19:8 “Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari miliku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Sebuah pertumbuhan rohani terjadi dalam diri seseorang dapat menyenangkan hati Tuhan dengan cara memberi bukan menerima. Inilah hari pertama Paulus ada di jemaat Filipi kira-kira tahun 52 atau sepuluh tahun kemudian Paulus menulis surat Filipi dari Roma, selang sepuluh tahun itu apa yang terjadi? Yaitu adanya pengakuan dari Rasul Paulus; Bahwa persekutuanmu dan kasihmu melimpah-limpah, bertumbuh mengikuti waktu. Bertambah tua dengan umur yang banyak itu tidak menjadi ukuran bahwa kita meningkat dewasa. Jemaat Korintus adalah contoh anak-anak Tuhan yang mematikan pertumbuhan dengan membiarkan tabiat, kelakuan dan karakter lama tetap seperti semula tidak ada perubahan sama sekali. Bertabiat duniawi merupakan halangan yang menyulitkan Rasul Paulus untuk mengemukakan hal-hal yang rohani atau rahasia Firman Allah. Jemaat Korintus tidak mengalami perkembangan yang dapat membedakan mereka dengan orang dunia. 1 Korintus 3:1-3 “ Dan aku saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarang pun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika diantara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?.”

Dari keterangan ayat ini, kita dapat istilah lain tentang anggota sidang jemaat yang masih bertabiat manusia duniawi. Meraka dapat disebut juga sebagai manusia yang belum dewasa dalam Kristus. Karena jemaat Korintus belum menunjukan kedewasaan secara rohani, maka Rasul Paulus memberikan makanan rohani kepada mereka dalam berbentuk “susu”. Istilah susu di sisni, Rasul Paulus gunakan untuk menyebutkan pelajaran Firman Allah yang masih bersifat dasar atau pengajaran Firman Allah yang sederhana. Menurut penilaian Rasul Paulus sebagai gembala, jemaat atau anak-anak Tuhan di Korintus, pada umumnya dapat dikategorikan sebagai anak-anak rohani atau manusia duniawi. Hal ini bukanlah penilaian yang subjektif, tetapi dibuktikan dari buah-buah yang di hasilkan oleh sidang jemaat itu sendiri. Apabila dalam sidang jemaat masih terjadi perasaan iri hati antara anggota jemaat dan ada perselisihan di antara mereka satu dengan yang lain, hal itu merupakan isyarat masih sangat kuat pengaruh daging dan hawa nafsu Galatia 5:16-21, Markus 7:21-22, Efesus 2:2-3.