Rahasia Hari Esok

Apa yang menjadi milik kita, pikiran, perasaan dan tenaga kadang-kadang hampir terpakai habis sebagai akibat dari tuntutan hidup yang begitu keras. Lalu apakah kita harus melarikan diri dari semua tantangan hidup sehari-hari baik dalam rumah tangga, pekerjaan dan bisnis? Hidup ini tidak bisa berhenti, hanya orang mati yang tidak akan menghadapi resiko. Selama kita diberikan kesehatan oleh Tuhan, kita akan diminta agar menghargai hidup ini, sehingga mau tidak mau kita harus terus maju. Untuk itu, dibutuhkan kesiapan menghadapi semua kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan. Kita tidak bisa menghindar dari semua hal tersebut. Tuhan akan menyediakan apa yang Dia tahu sangat kita perlukan dalam menjalani kerasnya aktivitas hidup ini. Tuhan menyediakan kekuatan bagi kita.

Matius 26:30-35. Petrus, pria bekas nelayan yang perkerjaannya selalu berurusan dengan laut dan danau telah membuat mentalnya terbentuk sedemikian kuat, sehingga baginya kondisi ini sudah membuat dia memiliki keyakinan yang sangat besar terhadap dirinya di antara orang-orang yang menonjol dekat Yesus. Petrus adalah orang yang spontanitas, reaktif dan berani. Bagi Petrus, dirinya sendiri sudah cukup, dia tidak membutuhkan orang lain. Yesus pernah berkata kepada Petrus dalam Yohanes 21:18, “…Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki”. Yesus ingin mengingatkan Petrus agar jangan mengandalkan kekuatan dan kemampuannya. Yesaya berkata bahwa kepandaianmu tiu akan sangat berbahaya bagi dirimu jika engkau mengandalkan hal itu sebagai tumpuan hidupmu.

Yesus berkata kepada murid-muridNya bahwa malam ini mereka akan mengalami goncangan iman, karena Yesus nanti akan ditangkap dan dihukum sampai mati sebagai bagian penting dari rencana Bapa di Sorga dalam misi kedatangan Yesus ke dunia ini. Yesus akan terpisah dengan murid-muridNya yang sudah beberapa tahun belakangan ini bersama dengan Dia dalam pelayanan. Karena itu, iman mereka akan sedikit terganggu. Akhir zaman ini, Yesus berkata bahwa banyak orang yang akan murtad (Matius 24).

Menanggapi ucapan Yesus tersebut, Petrus segera memberikan komentar dalam Matius 26:33, “… Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak”. Petrus memberikan dirinya sebagai jaminan. Tetapi, Yesus berkata kepada Petrus bahwa dia akan menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok (Matius 26:34). Petrus tahu betul keberadaan dirinya, sampai saat dia memberikan komentar terhadap apa yang Yesus kemukakan. Tidak ada satu orang pun yang mengenal Petrus selain Tuhan dan dirinya sendiri. Petrus tahu tentang dirinya, karena itu dia tidak pernah meragukan dirinya ditambah lagi dengan berbagai pengalaman yang dia miliki, membuat dia merasa hebat, kuat. Itu sebabnya Petrus berani berkata bahwa dia akan mempertaruhkan dirinya untuk Yesus. Kedengarannya luar biasa, seakan ucapan Yesus tentang Petrus bahwa dia akan menyangkal Tuhannya beberapa saat kemudian, tidaklah benar. Tahukah saudara, bahwa kemampuan kita hanya dapat memastikan hal yang terjadi dengan diri kita cuma sampai pada batas saat ini. Satu jam kedepan/beberapa saat nanti, semua hal yang akan kita alami berada dalam kedaulatan Tuhan. Alkitab berkata “janganlah memuji diri karena hari esok, engkau tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari itu”. (Amsal 27:1).

Hanya dalam hitungan beberapa saat Petrus sudah menyangkal Yesus seperti yang Yesus katakan. Alkitab berkata, sebagai anak Tuhan kita memiliki kuasa mengikuti Tuhan yang kita percayai, bahkan kita juga memiliki karakter dan banyak hal yang mirip dengan Tuhan. Satu hal yang kita tidak punya, yaitu kemampuan untuk melihat apa yang akan terjadi kedepan. Apakah Yesus membuat kita bodoh atau buta sama sekali dengan apa yang akan terjadi nanti? Tentu tidak, caranya bagaimana?

Lukas 10:25-28. Antara ucapan dan perbuatan dalam ayat ini terdapat perbedaan yang jauh sekali. Jangan hanya mengatakan, tetapi mulailah bertindak dan berbuat sesuatu. Yesus berkata dalam ayat 28, “..Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup”. Tetapi, ahli Torat ini memberikan jawaban dan komentar dalam ayat 29, untuk menutupi rasa malunya karena kemungkinan ketahuan kekuranganya. Ahli Torat bertanya siapakah yang dimaksud dengan sesamaku manusia?

Dalam setahun, orang Israel di wilayah sekitar sedikitnya tiga kali datang ke Yerusalem beribadah untuk merayakan hari raya Paskah, Pantekosta dan Pondok Daun-daunan. Kemungkinan orang ini datang pada salah satu dari ketiga hari raya tersebut. Setelah perayaan selesai, orang Yahudi ini turun dari Yerusalem kembali ke Yerikho. Belum sampai ke Yerikho, dia dicegat oleh penyamun/perampok dan semua harta kekayaannya diambil lalu dia dipukul sampai sekarat (Ayat 30). Setelah itu turunlah Imam, dia melihat ada orang yang sekarat karena dipukul dan dirampok. Dia berhenti sejenak dan memperhatikan kondisi orang ini yang sama-sama Yahudi, lalu pergi tanpa berbuat sesuatu.

Kemudian mampir lagi orang Lewi yang tugasnya juga berkaitan dengan kemanusiaan. Melewati tempat kejadian tersebut, dia hanya bisa melihat dan sama seperti imam dia tidak berbuat sesuatu. Sebagai orang Lewi, seharusnya dia menolong apalagi orang ini juga Yahudi. Yesus melanjutkan, kemudian lewatlah disitu seorang Samaria yang dalam perjalanan, begitu melihat orang ini, dia merasa kasihan. Yahudi dengan Samaria memiliki hubungan yang tidak baik. Orang Samaria ini mengangkat orang yang sekarat itu, meletakkan diatas tunggangannya dan membawanya ke penginapan lalu menyuruh orang merawatnya, segala biaya yang diperlukan dibayar oleh orang Samaria ini, bahkan jika ada lebihnya akan dibayar lagi ketika ia kembali ke tempat itu.

Yesus ingin mengajar bahwa orang yang kita musuhi dan tidak kita suka, kelak dia yang akan menolong dan membantu kita. Ingat, kita hanya bisa melihat sampai detik ini tentang hidup ini, kedepan kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi, bagaimana kita bisa menemukan diri kita sebaik hari ini besok? Jangan saling bermusuhan. Renungkanlah dengan sungguh-sungguh bahwa ada satu saat dimana orang yang kita tidak suka akan menolong kita. Inilah yang dimaksudkan kita akan meilhat hari besok lebih nyaman dari hari ini, kalau kita bersikap baik kepada semua orang. Dalam Alkitab sebenarnya tidak ada musuh, yang ada hanya perbedaan. Musuh ini lahir dari sikap seseorang.

Lucifer disebut sebagai Bintang Kejora, kemuliaannya menyamai Tuhan, tetapi dia bukan Tuhan, dia malaikat. Persoalan muncul ketika timbul keinginan dalam diri Lucifer sendiri untuk menyamai Tuhan. Akhirnya Tuhan mencampakkan Lucifer ke dunia. Dia menjadi setan bukan karena Tuhan, tetapi dari dirinya sendiri. Keinginan ini merupakan sikap melawan Allah. Jadi, yang disebut musuh adalah orang yang dalam dirinya punya roh melawan dan memberontak. Yesus berkata kasihilah musuhmu, dengan kata lain dalam Tuhan tidak ada musuh, dengan cara mengasihi akan menghapus stigma ini. Orang disamping kita bukan musuh/lawan kita. Yang akan menolong kita ketika membutuhkan sesuatu adalah mereka yang pernah kita lukai atau sakiti. Sebab itu pikirlah baik-baik jika kita mau berbuat nakal.

Pertimbangkanlah sungguh-sungguh bahwa kita hidup bukan hanya untuk hari ini, kita masih akan hidup dengan waktu yang tersedia dari Tuhan. Karena itu berlakulah baik satu dengan yang lain. Pemimpin yang sesungguhnya bukan pemimpin yang hanya berdiri sendiri. Bagaimana kita mengklaim kita adalah pemimpin, sementara yang dipimpin tidak ada. Sebagai bawahan, bantulah pemimpin kita dengan bersikap benar, jujur dan disiplin dalam bekerja. Hari ini bukan akhir dari semuanya, masih ada hari depan yang harus kita perhatikan dan hargai.

Saat normal kita tidak butuh orang lain, tetapi saat kita susah maka kita akan sangat membutuhkan bantuan orang lain. Kita harus tahu bahwa biasanya orang yang kita butuhkan adalah orang yang pernah kita sakiti, jadi maksudnya bersikaplah bijaksana dengan orang disekitar kita sebab dia akan menjadi berkat bagi kita pada satu waktu. Biarlah ada sebuah perubahan atau perbaikan kedepan supaya kita tidak susah nantinya. Kuncinya, kasihilah baik-baik orang disekitar kita. Tuhan memberkati kita. AMIN.