Beriman, Taat Dan Setia dalam Tuhan

Kisah Para Rasul 26 : 19-22

Ini merupakan pembelaan Rasul Paulus, sekaligus kesaksian tentang imannya kepada Tuhan Yesus. Akibat dari imannya kepada Yesus, orang-orang yang dahulunya kawan Paulus, tiba-tiba berbalik menjadi musuh. Salah satu yang paling mencari Paulus adalah dari mantan institusinya ketika dia masih seorang ahli Taurat yaitu orang Farisi dan Saduki. Karena iman Paulus kepada Yesus, dia memilih untuk meninggalkan masa lalunya, termasuk kelompok yang radikal ini, sehingga orang Farisi dan umumnya orang Yahudi termasuk penguasa Romawi pada saat itu memusuhi Paulus.

Pengalaman Paulus ini sama dengan pengalaman kita, tatkala mengambil sikap untuk percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat pribadi. Orang-orang yang dahulu bersahabat dengan kita, tiba-tiba berbalik memusuhi kita. Tetapi, apa yang kita alami belum sebanding dengan yang dialami Paulus. Jika kita membaca tentang perjalanan hidup Paulus, begitu banyak tantangan & persoalan yang datang padanya silih berganti. Semua itu begitu menyakitkan dan menyulitkan Paulus, tetapi pengakuan Paulus bahwa kalau dia ada itu hanya karena pertolongan Tuhan. Kisah Para Rasul 26 : 22a, “Tetapi oleh pertolongan Allah aku dapat hidup sampai sekarang …”

Kehidupan Rasul Paulus ibarat telur diujung tanduk, goyang sedikit pasti jatuh. Tetapi, meskipun Paulus dalam posisi seperti itu, tidak berarti dengan mudah & gampangnya orang menjatuhkan dia. Dalam beberapa kejadian yang dialaminya, ada begitu banyak peristiwa yang sebenarnya bisa merenggut nyawanya, tetapi dia selalu lolos. Itu sebabnya Paulus berkesimpulan bahwa semua karena pertolongan Tuhan Yesus yang luar biasa.

Bagi Allah, Rasul Paulus adalah aset yang sangat berharga. Karena itu, Tuhan mau melakukan apapun untuk melindungi aset-Nya. Itu sebabnya tidak ada persoalan dan tantangan yang dapat menghancurkan Paulus, karena ada Tuhan yang selalu menopang dan membela dia. Setiap orang yang percaya sungguh kepada Yesus, akan dijadikan aset yang paling berharga. Tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain diri kita.

Daud menyadari betapa berartinya kita dihadapan Tuhan, sehingga Daud berkata dalam Mazmur 17 : 8 9, “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu; terhadap orang-orang fasik yang menggagahi aku, terhadap musuh nyawaku yang mengepung aku”. Daud berkata bahwa orang percaya dihadapan Tuhan seperti biji mata, artinya kita adalah bahagian yang terpenting dihadapan Tuhan, sehingga sangat dilindungi oleh-Nya. Itu sebabnya baik Rasul Paulus maupun raja Daud, walaupun masalah datang silih berganti, mereka tidak pernah jatuh tetapi terus naik. Mengapa? Karena mereka adalah aset-aset yang sangat berharga yang dijaga oleh Tuhan.

Paulus dan Daud adalah contoh bagaimana Tuhan memperlakukan begitu istimewa setiap anak-anak Tuhan yang percaya sungguh kepadaNya. Tuhan sangat peduli dengan mereka, Dia tidak pernah membiarkan mereka. Persoalan bisa datang silih berganti, tetapi begitu persoalan dating, Tuhan juga selalu menyatakan kebesaran dan kuasaNya. Hal yang sama akan Tuhan lakukan bagi setiap kita yang percaya kepadaNya. Ada begitu banyak janji-janji Tuhan yang menyertai setiap kita. Dia ingin kita menjadi orang-orang yang berkemanangan, diberkati dan berhasil dalam hidup ini. Paulus berkata dalam Galatia 3 : 26, “ Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus”. Sebagai anak Allah, itu berarti kita juga adalah ahli waris (Galatia 4 : 7) yang berhak atas berkat-berkat Tuhan.

Mengapa Tuhan begitu peduli kepada Rasul Paulus? Kisah Para Rasul 26 : 19, “Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat”. Tuhan sedikitpun tidak pernah menyimpang dan membelakangi Paulus. Tanpa dia berseru atau mencari, Tuhan menyertai dan menopang dia, karena dimata Tuhan Paulus adalah seorang percaya yang taat. Pertolongan Tuhan sangat identik dengan ketaatan dam kesetiaan kita. Allah akan berbuat apa saja untuk anak Tuhan yang tetap konsisiten dalam iman, ketaatan dan penurutannya kepada Tuhan.

Kalau kita taat dan tetap konsisiten dalam iman kepadaNya, maka pertolongan Tuhan tidak perlu kita pikirkan dan kejar, karena Yesus sendiri yang akan menjamin hidup kita. Mazmur 18 : 26 27, “Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, … terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit”. Ini harga yang tidak bisa ditawar. Ada harga yang harus kita bayar kalau ingin menjadi orang yang special dimata Tuhan, yaitu kesetiaan.

Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk menjadi orang percaya yang independent, dalam arti boleh setia, boleh juga tidak; boleh taat, boleh juga tidak. Tuhan memanggil kita supaya masuk dalam rencanaNya membentuk satu komunitas orang percaya di dunia ini yang beribadah dan memuliakan namaNya, serta kiprah hidup mereka mencerminkan kehidupan Kristus. Kalau kita percaya kepada Yesus, biarlah Dia menjadi segala-galanya dalam hidup kita. Seperti Paulus, walaupun menghadapi perlawanan yang begitu hebat, tetapi terhadap penglihatan yang dari Surga, tidak pernah Paulus tidak taat. Artinya, imannya kepada Yesus tidak bisa ditukar oleh apapun.

Seorang yang konsisten dalam iman kepada Yesus, tidak bergantung pada kondisi yang ada. Apapun yang dialami, imannya tidak pernah surut. Jangan jadi orang percaya yang hanya selalu mengharapkan berkat dan pertolongan dari Tuhan, sementara kita hidup tidak setia. Tuhan tidak menginginkan yang seperti ini. Kesetiaan kita kepada Tuhan menjadi alas an bagi Tuhan untuk selalu menolong dan memberkati kita

Bangsa Israel adalah bangsa yang pilihan Tuhan. Dia ingin membangun satu bangsa yang memuliakan Tuhan dan menjadi bangsa yang akan memberkati dunia ini. Tetapi, bangsa ini keluar dari rencana Tuhan, mereka berlaku bengkok walaupun Tuhan telah menyatakan hal-hal yang luar biasa. Ibrani 3 : 16 18, “…siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat?” Itu sebabnya hanya dua orang Israel di generasi itu yang masuk ke tanah Kanaan, yang lainnya mati dipadang gurun.

Tujuan awal Tuhan memanggil mereka bukan untuk menjadi mayat dipadang gurun. Tuhan ingin mereka menduduki tanah Kanaan, satu tempat yang berlimpah susu dan madu. Tetapi yang terjadi sebaliknya, dalam surat Ibrani dikatakan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang tidak taat sekalipun mereka telah mengalami berbagai mujisat dari Tuhan. Mereka melakukan banyak hal yang menyakiti hati Tuhan. Hal ini membuat mereka tidak layak memasuki tanah Kanaan, akibatnya satu persatu dari bangsa ini mati. Mereka mati karena ketidaktaatan.

Kalau kita tidak setia dan tidak jujur kepada Tuhan, bagaimana mungkin kita mengharapkan masa depan kita ada dalam naungan Tuhan. Jadilah pribadi yang memiliki mentalitas seperti Paulus, yang imannya tidak bergantung pada hal-hal yang bersifat materi, tetapi pada diri Tuhan sendiri. Diberkati atau tidak, tetap beriman kepada Tuhan. Jadilah pribadi yang konsisten padaNya, sebab orang yang setia dan taat kepada Tuhan pasti selalu mendapat pembelaan dari Tuhan. Tidak perlu memikirkan bagaimana Tuhan menolong dan memberkati, tetapi pikirkanlah bagaimana kita menjadi pribadi yang menyenangkan hati Tuhan.

Setialah dan taat kepada-Nya, serta jadilah anggota gereja yang jujur dan bertekun kepada Tuhan, pasti berkat dan pertolongan Tuhan jadi bahagian kita. Apapun persoalan yang sedang kita hadapi tidaklah penting, yang terutama adalah kita memiliki komitmen untuk taat, setia dan jujur kepadaNya, maka Dia akan memberikan hal yang terbaik bagi kita. A M I N

Adalah Lebih Berbahagia Memberi Dari Pada Menerima

Kisah Para Rasul 20 : 35

Ayat ini merupakan pernyataan Rasul Paulus di depan tua-tua jemaat kota Efesus, saat Paulus akan berpisah dengan mereka. Ada satu kata yang ditekankan Paulus diaini yaitu “berbahagia”. Konsep hidup berbahagia bagi setiap orang pasti berbeda. Setiap orang yang hidup di dunia ini, mengharapkan hidupnya, keluarga dan usaha/pekerjaannya berada dalam suasana berbahagia. Untuk merealisasikan hidup yang berbahagia itu bukanlah hal yang gampang, sebab fakta di lapangan bahwa kehidupan hari-hari ini semakin sulit.

Kebahagiaan itu harus diusahakan. Kebahagiaan bukan anugrah atau pemberiaan gratis bagi kita. Menurut ukuran manusia, yang berbahagia adalah mereka yang memiliki harta yang banyak, kedudukan yang baik, dll. Alkitab memberi kita pedoman untuk mengukur kebahagiaan serta bagaimana caranya kita mendapatkan kebahagiaan itu. Menurut Rasul Paulus, ada satu konsep sederhana yang dapat menciptakan kebahagiaan dalam hidup, yaitu memberi. Paulus adalah seorang yang dipenuhi Roh Kudus dan dipercayakan Tuhan untuk mendapatkan wahyu tentang Injil sepenuh.

Pertanyaan yang sering muncul, bagaimana mungkin memberi akan membuat orang berbahagia? Bukankah seseorang yang memberi maka apa yang ada padanya berkurang. Tetapi inilah konsep yang ditawarkan Firman Allah agar kita berbahagia. Air merupakan hal yang sangat kita butuhkan. Jika keran air tidak pernah kita buka dalam waktu yang cukup lama, maka ada tiga hal yang akan terjadi. Pertama, air itu akan menjadi tidak sehat. Semakin lama air tidak dialirkan akan semakin tidak sehat. Kedua, dalam air akan timbul kuman-kuman yang dapat membahayakan manusia. Ketiga, air akan menjadi kotor, jika demikian bukannya mendatangkan kehidupan tetapi kematian. Hal yang sama akan terjadi dengan hidup kita, jika keran berkat kita tidak pernah kita buka.

Kenapa jemaat Tuhan tidak pernah lepas dari berbagai konflik kehidupan, mulai dari penyakit sampai masalah pekerjaan/ekonomi? Hal ini karena kita selalu menutup keran berkat yang Tuhan percayakan kepada kita. Jika berkat-berkat yang kita miliki tidak pernah mengalir, maka berkat itu bukan mendatangkan kebahagiaan dalam hidup kita tetapi akan mendatangkan masalah. Biarlah kita menjadikan diri kita ini subjek dari pemberian bukan objek. Jika kita memperhatikan, kelihatannya orang yang menerima pasti lebih berbahagia, tetapi tidak demikian dengan apa yang dikatakan Firman Tuhan. Kalau kita bisa membagikan sesuatu atau mengalirkan air kehidupan bagi orang lain, maka kita adalah orang yang paling berbahagia. Apalagi jika pemberian itu kita berikan dengan tulus hati dan kerelaan. Seringkali muncul pemikiran dalam hidup kita bahwa kalau kita membuka keran berkat kita, maka nantinya akan habis. Jangan takut, ada Yesus yang merupakan sumber berkat itu.

Mengapa kita harus membuka keran berkat itu?

  1. Roma 11 : 36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”.

Segala sesuatu yang ada pada kita ini berasal dari Tuhan. Tetapi tidak hanya berhenti sampai disitu, karena selanjutnya harus kita kembalikan kepada Dia. Ketika Musa menghadap Firaun agar umat Israel diijinkan ke padang untuk beribadah, Musa berkata bahwa mereka akan membawa anak-anak, kambing domba dan semua milik mereka karena akan pergi beribadah. Kata “beribadah” artinya “mempersembahkan”. Bukan hanya dunia kekristenan, tetapi yang bukan kristen juga menggunakan hal ini. Itu sebabnya, ketika menghadap apa yang mereka sembah, mereka tidak datang dengan tangan hampa, tetapi membawa sesuatu untuk dipersembahkan. Jadi, ibadah artinya mempersembahkan, dan yang dipersembahkan adalah seluruh yang ada dalam hidup kita, karena semuanya berasal dari Tuhan.

Jika Tuhan ingin mengambil apa yang miliki sangat gampang. Tetapi, bersyukur kita punya Tuhan yang sangat baik. Kitab Bilangan berkata bahwa jika Tuhan memberkati kita, maka kita akan tetap menjadi orang yang diberkati. Tetapi ingat, kalau sudah diberkati jangan lupa membuka keran berkat kita. Jadi, jika kita tidak mau berkat membawa masalah maka buka keran berkat kita.

  1. 1 Korintus 6 : 20, “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”.

Kita sudah dibayar lunas oleh Yesus yang telah datang ke dunia ini. Petrus bahwa Yesus membayar kita bukan dengan emas dan perak, tetapi dengan darah yang mahal yang tercurah di Golgota. Itu sebabnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membuka keran berkat itu. Jika sebuah sudah dibeli, maka barang itu menjadi milik pembeli, sehingga pembeli berhak berbuat apa saja terhadap barang tersebut. Begitulah posisi kita di hadapan Tuhan, hak hidup kita ada dalam tangan dan kuasa Tuhan, sehingga Tuhan bisa berbuat apa saja terhadap kita sesuai keinginanNya. Karena Tuhan sudah membeli hidup kita, maka semua yang ada pada kita adalah milikNya, jadi terserah Dia mau berbuat apa kepada kita.

Karena itu, jika kita ingin mengalami kebahagiaan dalam hidup maka memberi adalah konsep yang paling benar menurut Alkitab. Akan ada kebahagiaan kalau kita mengalirkan berkat kita, karena Tuhan akan memulihkan seluruh kehidupan kita.

Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan akan menerima setiap pemberian kita yang kita berikan dengan seenaknya. Ingat Kain dan Habel, ketika mempersembahkan hasil dari usaha mereka, Kain dari pertanian dan Habel dari peternakan, maka datang Firman bahwa korban Habel diterima sedangkan Kain tidak. Kitab Ibrani menjelaskan mengapa Tuhan menolak persembahan Kain. Ibrani 11 : 4, “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain…”.

Tuhan akan menolak setiap persembahan kita yang tidak berkenan. Setiap apa yang kita persembahkan, maka yang pertama-tama menikmatinya adalah Tuhan, bukan hamba Tuhan. Sebab itu berilah selalu yang terbaik, karena inilah yang harus kita lakukan jika ingin menciptakan kebahagiaan dalam hidup ini. Orang yang membuka keran berkatnya, diberkati Tuhan bukan hanya secara jasmani, tetapi juga spiritual. Ada sukacita, damai sejahtera dan ketenangan. Tetapi mereka yang menutup keran berkat, maka masalah silih berganti datang.

Kebahagiaan hanya datang apabila kita mau membuka keran berkat kita dengan sungguh-sungguh dan dengan kerelaan. 2 Korintus 9 : 7, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Jika tanpa kerelaan, maka sia-sia semua persembahan kita. Korban harus di dasari dengan kerelaan, tulus hati bukan keterpaksaan, karena kita mengasihi Tuhan dan kita sadar bahwa semua yang kita miliki adalah dari Tuhan. Memberi artinya kita melepaskan. Sungutan, keluhan dan menggerutu sama saja kita menarik kembali apa yang telah kita berikan sehingga semua menjadi sia-sia dan kita tidak akan menikmati kebahagiaan.