Orang Yang Bijaksana

Mazmur 90 : 12

Dalam kamus bahasa Indonesia, orang yang bijaksana adalah orang yang selalu menggunakan akal budinya, pandai dan mahir. Dunia berkata bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang bisa mengatur dengan baik perusahaann, mampu mengurus rumah tangga, baik dalam mengatur keuangan, atau telah mencapai pendidikan yang baik dengan berbagai gelar yang ada. Bagaimana orang yang bijaksana menurut Firman Tuhan?

Ayat ini adalah doa dari Musa. Musa adalah seseorang yang dipakai Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Dia adalah tokoh yang sangat luar biasa, baik sebagai gembala, Nabi maupun pemimpin bangsa Israel. Namun demikian Musa menyadari bahwa dia perlu hati yang bijaksana. Untuk itu, Musa berdoa memohon agar Tuhan mengajar dia menghitung hari-harinya, sehingga dia menjadi seorang yang bijaksana.

Mazmur 90 : 1 - 2, menunjukkan betapa Allah yang kita sembah adalah Allah dasyat dan luar biasa. Ayat 5 – 6, Musa menggambarkan bagaimana keberadaan manusia di muka bumi yang terus mengalami penurunan dalam usia. Ketika diciptakan manusia bersifat kekal, tetapi dosa membuat manusia memiliki batasan umur. Pada zaman Adam, umur manusia mencapai sembilan ratusan. Zaman Nuh, umur manusia berkurang menjadi 120 tahun, dan dalam Mazmur 90 : 10 dikatakan umur manusia semakin menurun menjadi 70 tahun dan jika kuat 80 tahun.

Musa menyadari bahwa keberadaannya begitu singkat dimuka bumi, begitu pula dengan kita, kita tidak tahu sampai berapa lama usia kita. Sebab itu jadilah pribadi yang bijaksana. Bijaksana menurut Firman Allah tidak membutuhkan modal yang besar, tetapi dituntut satu ketaatan, satu pengertian dan pemahaman yang baik terhadap Firman Tuhan. Siapapun kita, marilah belajar menjadi orang bijaksana, karena hari-hari yang ada di depan kita bukannya semakin baik tetapi semakin jahat dan sukar. Bijaksana menurut Firman Tuhan adalah :

Pertama, Matius 7 : 24 – 25, orang yang bijaksana adalah orang yang mendengar Firman dan melakukannya sekalipun bertentangan dengan keinginan kita. Kalau selama ini kita menjadi anak Tuhan yang hanya mau mendengarkan Firman, berarti kita belum menjadi orang yang bijaksana. Orang bijaksana diumpamakan juga seperti orang yang mendirikan rumahnya di atas dasar batu.

1 Korintus 3 : 10 – 11, seorang yang mendengar Firman dan melakukannya diibaratkan dengan seseorang yang membangun dan melandasi kehidupannya dengan Kristus, sehingga ketika pencobaan/ujian hidup Allah luaskan terjadi dalam hidup kita, tidak akan membuat kita semakin jauh dari Tuhan, tetapi itu akan membuat iman kita semakin kuat dan kita semakin sungguh-sungguh melayani Tuhan.

Jika sekarang kita sedang menanti sebuah jawaban dari Tuhan atas doa-doa kita, biarlah kita semakin bersungguh-sungguh dalam doa dan mencari Tuhan. Tuhan tahu dan mengerti kapan harus memberikan jawaban atas doa kita. Tuhan mau setiap jawaban doa itu membuat kita menaikkan ucapan syukur bagi kemuliaan Tuhan. Sebab itu jangan berputus asa, karena dibalik setiap persoalan hidup ada berkat besar yang Tuhan siapkan. Berkat bukan hanya materi saja, tetapi kekuatan untuk dapat melewati setiap ujian hidup itu juga berkat Tuhan.

Untuk menjadi bijaksana, tempatkanlah Yesus dalam hati kita. 1 Korintus 3 : 16, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”. Jika rumah bersih dan nyaman, pasti kita betah untuk tinggal di dalamnya, begitu sebaliknya, jika kotor dan bau, maka itu membuat kita tidak betah. Jika kita melakukan Firman Tuhan, maka setiap kotoran dalam hidup kita akan dibersihkan oleh Firman yang masuk dalam hidup kita, sehingga membuat Yesus betah tinggal dalam diri kita. Sehingga ketika menghadapi persoalan, Yesus memberi kita kekuatan dan kemampuan untuk melewati persoalan hidup kita dan menjadi pemenangan.

Kedua, Amsal 6 : 6 – 8, orang yang bijaksana adalah orang yang tahu menyikapi keadaan yang akan datang serta memiliki persediaan. Semut tidak ada pemimpinnya, tetapi dia tahu kapan harus bekerja mengumpulkan makanan sebagai persiapan untuk musim dingin dimana semut-semut ini tidak bisa bekerja.

Kejadian 41 : 1 – 7. Ketika Firaun bermimpi, Yusuf dipakai Tuhan untuk mengartikan mimpi itu bahwa akan ada suatu masa kelimpahan dan suatu masa kelaparan. Itu sebabnya pada tujuh tahun yang pertama dikumpulkan semua bahan makanan sebagai persiapan untuk tujuh tahun kedua (masa kelaparan). Tanpa pemimpin yang bijaksana, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi Yusuf oleh hikmat dan pengertian dari Allah, menyerukan kepada bangsa itu untuk mengumpulkan bahan makanan sebagai persiapan pada masa kelaparan.

1 Raja-raja 19 : 1 – 8, mencatat seorang nabi yang dipakai Allah luar biasa, dan terkenal dengan demonstrasi kuasa Allah saat menghadapi nabi-nabi baal, dia adalah Elia. Tetapi setelah itu, dia mendengar bahwa ada seorang perempuan bernama izebel yang berikhtiar membunuh dia. Elia menjadi takut dan ingin mati. Datanglah Firman Tuhan kepadanya, “bangunlah dan makanlah”. Oleh kekuatan dari makanan itu, Firman Tuhan berkata bahwa Elia mampu berjalan empat puluh hari sampai di Horeb. Makanan adalah gambaran tentang Firman. Biarlah hari-hari ini, sebagai orang bijaksana, kita mengumpulkan Firman yang banyak, bukan sekedar tulisan tetapi menjadi rhema atau sesuatu yang hidup dalam kehidupan kita, yang akan member kita kekuatan ketika mengalami kesusahan. Alkitab boleh hilang, tetapi Firman dalam hidup kita tidak akan pernah hilang. Amos 8 : 11 – 12, ada satu masa dimana orang mencari Firman tetapi tidak akan mendapatkannya. Ada satu masa orang akan haus dan lapar bukan karena makanan tetapi karena Firman Tuhan.

Ketiga, Amsal 14 : 15, orang yang bijaksana adalah orang yang tahu memperhatikan langkah-langkahnya. Langkah kita bagaimana, apakah ada pada jalan yang lurus atau tidak. Amsal 10 : 24, langkah kita ditentukan oleh Tuhan. Kenapa kita bisa salah dalam melangkah? Karena kita tidak mau dituntun oleh Firman. Alkitab berkata bahwa Frman Tuhan menjadi penuntun langkah kita, sehingga kita tetap berada di jalannya Tuhan. Ada jalan lebar yang menuju maut dan ada jalan sempit yang menuju kepada hidup yang kekal. Jalan yang sempit berarti ada sesuatu dalam hidup kita yang harus diproses oleh Tuhan, dalam melewati jalan ini, mungkin ada banyak hal yang tidak mengenakkan terjadi dalam hidup kita, karena kita harus meninggalkan setiap hal yang tidak berkenan dalam hidup kita agar bisa mengikuti jalan yang sudah dipersiapkan Tuhan.

Yeremia 10 : 23, manusia tidak berkuasa menentukan dan menetapkan jalannya, tetapi Tuhan. Sebab itu jika kita menyimpang dari jalan Tuhan, itu membuktikan ketidaktaatan kita terhadap Firman Tuhan. Hari-hari ini kita mintalah kepada Tuhan untuk mengubahkan kita agar menjadi orang yang bijaksana dalam keluarga dan pekerjaan, agar kita dapat melewati hari-hari yang ada dengan ucapan syukur.

Jika Firman itu ada dalam hati kita dan menjadi rhema, maka apapun yang terjadi dalam dunia ini, tidak akan membuat kita mundur tetapi semakin sungguh-sungguh mencari, mengikut dan melayani Tuhan. A M I N.