Lukas 7 : 23
Allah berjanji akan menyertai kita sampai kepada kesudahan zaman. Dia adalah Allah yang setia, tidak pernah ingkar janji dan pertolonganNya nyata dalam hidup kita, sehingga setiap kita tidak memiliki alas an untuk hidup dalam kekecewaan.
Kekecewaan yang semula kecil, jika dibiarkan akan berkembang semakin besar, dimulai dari kecewa terhadap seseorang, menjadi kecewa terhadap sebuah komunitas sampai akhirnya kita kecewa dengan Tuhan. Jika sudah demikian, tidak ada lagi yang dapat kita persalahkan, membuat kita kecewa dengan diri sendiri. Hal ini akan mengakibatkan penolakan terhadap hidup ini, karena merasa tidak berarti. Kondisi ini dimanfaatkan iblis untuk memprovokasi kita, agar terus kecewa sampai akhirnya menjadi akar pahit dan menimbulkan menjadi penyakit. Penyakit yang demikian tidak akan dapat disembuhkan oleh pengobatan medis, tetapi melalui pengampunan.
Dalam kondisi menderita karena penyakit sebagai akibat dari kekecewaan kita, iblis mulai berbisik kepada kita bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri semuanya ini adalah dengan bunuh diri. Hal ini membuktikan betapa berbahayanya kekecewaan itu. Sebab itu, jangan biarkan hati kita dipenuhi dengan perasaan kecewa, karena kita memiliki Tuhan yang tidak pernah mengecewakan kita.
Iblis selalu mencari cela untuk dapat membuat kita merasa kecewa. Sebab itu, Jangan beri kesempatan dan tempat kepada iblis untuk mempengaruhi kita lewat setiap persoalan yang kita hadapi sehingga hati kita tidak menjadi kecewa. Jangan membiarkan hati kita kecewa hanya karena sebuah masalah. Tuhan tidak pernah sekalipun mengecewakan kita, walau terkadang kita selalu berbuat sesuatu yang mengecewakan Tuhan. Itu sebabnya sebuah pujian “Tak pernah kecewa mengiring Yesus” biarlah menjadi pengakuan dalam hidup kita apapun yang terjadi, sebab Dia adalah pribadi yang selalu menepati setiap janjiNya kepada kita.
Yesus berkata “berbahagialah”. Ini bukan sekedar harapan, tetapi Yesus ingin agar kebahagiaan itu menjadi pengalaman hidup secara pribadi setiap anak Tuhan. Siapakah yang dimaksud disini berbahagia? Alkitab mengatakan bahwa yang berbahagia adalah mereka yang tidak kecewa dan menolak Yesus. Orang yang kecewa dengan Yesus, bahkan sampai kepada keputusan untuk menolak Yesus akan berakibat fatal dalam hidupnya. Ciri-ciri orang seperti ini :
Markus 6 : 1 – 6a. Ayat-ayat ini mencatat bahwa mereka ini bukanlah orang lain, bukan berasal dari agama lain. Alkitab berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu berada di dalam Bait Allah (Gereja). Rasa takjub dan kagum dengan mujisat-mujisat yang Yesus perbuat merupakan hal yang baik, berada dalam rumah Tuhan dengan kekaguman dan kebanggaan terhadap Yesus sehingga kita berkata “sungguh ku bangga Bapa punya Allah seperti Engkau di dalam Yesus” merupakan hal-hal yang akan membuat Tuhan senang asalkan kita tidak hidup dalam kekecewaan.
Ayat 3, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia”. Sikap mereka yang seperti inilah akhirnya membuat mereka kecewa lalu menolak Yesus. Di balik kekaguman dan kebanggaan mereka kepada Yesus yang sanggup melakukan perkara-perkara besar (mujisat kesembuhan bagi orang sakit, orang mati dibangkitkan, dll) tetap tersimpan rasa kecewa karena latar belakang Yesus sehingga mereka akhirnya menolak Yesus. Mereka adalah orang yang setia beribadah tetapi kenapa akhirnya ada yang menolak Yesus?
“Bukankah Ia ini tukang kayu, …” Kalimat ini memberi kita penjelasan bahwa dibalik rasa kagum terdapat sebuah sikap yang menganggap remeh sehingga menimbulkan ketidak percayaan terhadap pribadi Yesus yang mampu melakukan segala sesuatu. Kebiasaan orang yang suka memandang rendah orang lain menunjukkan bahwa dia sebenarnya adalah orang yang sombong, yang merasa diri lebih hebat dari orang lain. Alkitab katakan bahwa barangsiapa yang meninggikan diri, ia akan direndahkan. Jangankan oleh Tuhan, orang lain pun akhirnya akan menganggap remeh terhadap kita. Sebab itu, hindarkan sikap ini dari hidup kita, karena sikap seperti ini sangat tidak baik. 1 Petrus 5 : 5, “…Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
Paulus dalam suratnya kepada jemaat yang ada di Filipi (Filipi 2 : 3), berkata : “… hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri”. Ini bukanlah berarti kita merasa rendah diri, sebab Alkitab juga mengatakan bahwa di hadapan Tuhan semua manusia sama adanya, Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak pernah pilih kasih. Jadi, orang yang berhasil dibuat iblis kecewa dan akhirnya menolak Yesus, bukan saja orang diluar sana, tetapi juga mereka yang berada dalam Bait Allah, rajin beribadah namun menganggap remeh terhadap Yesus. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak memiliki pengenalan yang benar terhadap Yesus.
Yesus adalah Allah yang dapat melakukan segala hal yang mustahil dan tidak mungkin bagi manusia, sebab Dia adalah Allah pencipta dunia yang kekuasaanNya tidak terbatas. Itu sebabnya pantaslah kalau kita kagum dan bangga terhadap Yesus. Sikap menganggap remeh dan dilandasi dengan pengenalan akan Yesus yang sempit dimana mengenal Yesus hanya dalam batas-batas manusiawiNya saja, tidak akan bisa memahami serta mengenal dengan sungguh-sungguh siapakah Yesus itu. Dia adalah Tuhan Allah yang perkasa, yang sanggup melakukan segala perkara. Akibat dari anggap remeh, anggap enteng, roh kesombongan meskipun rajin ke gereja adalah perasaan kecewa dan penolakan terhadap pribadi Yesus.
Yesus berusaha meyakinkan Yohanes dengan menyuruh kepada utusan itu untuk pergi memberitahukan kepada Yohanes segala apa yang mereka dengar tentang Yesus, sebab hanya Allah yang sanggup melakukan semuanya itu. Yesus bukanlah manusia yang memiliki berbagai keterbatasan. Itu sebabnya tidak ada alasan untuk kita menjadi kecewa apalagi sampai menolak Yesus. Apapun keadaan kita, biarlah kekaguman kita terhadap Yesus akan tetap sama seperti saat segala sesuatu terasa baik-baik saja karena berkat-berkat yang kita terima dariNya, tetapi dalam kondisi yang silutpun kita tetap akan mempunyai kekaguman terhadap Yesus itu.
Akibat dari kekecewaan dan penolakan terhadap Yesus, Markus 6 : 5, “Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, …”. Jangan paksakan Yesus melakukan mujisat untuk kita, jika dalam hati kita terdapat kebimbangan, keraguan atau iman kita yang goyah terhadap Yesus, sebab kita sudah melihat dan mengalami pertolongan Yesus dalam hidup kita, Katakan dalam kepada Tuhan dengan ketulusan hati, aku kagum dan bangga menjadi umatMu, untuk itu aku berkomitmen sekalipun orang lain mundur aku akan tetap setia.
Habakuk 3 : 17 – 18, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, … dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku”. Ketika keaadaan dan situasi tidak memberikan harapan, bahkan dunia mengecewakan kita, kita akan tetap bersorak-sorai dalam Tuhan seperti Nabi Habakuk. A M I N
