Yohanes 5:1-15
Tawaran Tuhan untuk sebuah pemulihan disampaikan kepada silumpuh yang sudah 38 tahun berada di kolam Bethesda dengan keadaan yang tidak berdaya. 38 tahun menantikan kesembuhan di kolam yang tidak diketahui kapan Malaikat turun dan menggoncangkan airnya. Dalam keadaan seperti itulah Yesus datang dengan tawaran maukah engkau sembuh? Yesus datang dengan sebuah kepastian akan sebuah pemulihan.
Iman kristen adalam iman yang memberikan kepastian. Setiap orang yang meresponi tawaran Tuhan akan melihat mujisat dan perubahan. Mungkin kita sekarang tidak lumpuh secara fisik, tetapi ada faktor lain yang membuat kita lumpuh baik secara ekonomi, dalam pelayanan, dan sebagainya, maka kita perlu mengalami pemulihan yang Yesus tawarkan itu. Tidak ada rumah tangga yang akan hidup dalam damai sejahtera, jika ada dalam percekcokan dan perselingkuhan. Apapun yang melumpuhkan kita, jika kita mau meresponi Firman Tuhan maka akan ada pemulihan.
Ada empat hal yang membuat silumpuh ini mengalami pemulihan, dan empat langkah ini merupakan cermin untuk kita belajar bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan agar mengalami pemulihan:
Pertama, Ayat 7. Kita harus sadar akan keadaan diri sendiri dan hal apakah yang membuat kita lumpuh. Penting untuk kita sadari keadaan kita sehingga kita dapat meresponi tawaran itu. Si lumpuh tahu dirinya tidak berdaya, sadar dirinya orang yang selalu gagal sehingga ketika Tuhan bertanya maukah engkau sembuh, dia berkata Tuhan tidak ada orang yang mau menolong saya, kalaupun ada yang menolong, tidak pernah saya menjadi nomor satu, saya selalu gagal.
Langkah mendasar sebelum kita dipulihkan, kita harus temukan siapa kita dan bagaimana keadaan kita. Tidak mungkin seseorang mau diubah, kalau dia tidak sadar bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang perlu diubah. Tidak mungkin kita mau menerima tawaran Tuhan untuk mengubah kita, kalau kita tidak menemukan seperti apa keadaan kita. Barangkali orang didekat kita tidak tahu keadaan kita, tetapi Yesus tahu keadaan kita sehingga dia memberi tawaran apakah kita mau diubahkan. Perubahan itu adalah sebuah pilihan, maukah kita diubah dan dipulihkan. Langkah pertama, sadarilah keadaan kita.
Dalam perumpamaan anak terhilang, jauh sebelum dia kembali ke rumah bapa, dia berada dalam kondisi yang membuat dia sadar akan keadaannya. Ketika berada di muka kandang babi dan dalam keadaan lapar, dia mulai berpikir untuk makan makanam babi (Lukas 15:14-20). Dia menyadari bahwa betapa banyaknya orang upahan dirumah bapanya yang makannya jauh lebih layak dari pada dia dirantau orang. Sebelum dia kembali kerumah bapa, dia menyadari keadaannya. Jika kita dengan jujur mau terbuka kepada Tuhan seperti apa keadaan kita dan meminta Dia mengubahkan kita, maka Yesus akan memberi kepastian buat kita.
Kedua, silumpuh itu memiliki kemauan. Ketika Tuhan tawarkan maukah engkau sembuh? Memang dia tidak langsung berkata saya mau, tetapi dari jawabannya tersirat bahwa dia mau sehingga Yesus langsung berkata bangunlah angkatlah tilammu dan berjalanlah. Dalam ayat 7, dia mau berkata kepada Yesus bahwa dia berusaha karena dia mau sembuh, tetapi tidak ada orang yang menolong sehingga menjadi nomor satu masuk dalam kolam. Biarlah kehadiran kita dirumah Tuhan ini menjadi petunjuk bagi Tuhan bahwa kita ingin disembuhkan dan dipulihkan.
38 tahun menantikan kesembuhan dari kelumpuhan tidak membuat dia pesimis. Dia tidak menyerah pada keadaan karena ada kemauan. Kondisi seperti inilah yang membuat Tuhan melihat keadaannya, ternyata ada sesuatu benih positif dalam dirinya. Kita boleh saja sadar keadaan kita bahwa kita orang berdosa, dan dosa yang kita lakukan sangat fatal. Tetapi, jika kita tidak maju pada langkah kedua yaitu mau dipulihkan, maka tawaran itu akan menjadi tidak berarti. Adakah kemauan dalam hidup kita untuk dipulihkan Tuhan?
Matius 12:20, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, …”. Apakah yang diharapkan dari sebuah buluh yang terkulai sehingga tidak dipatahkan? Ada kemungkinan dia bisa tegak kembali. Apakah yang diharapkan dari sumbu yang tinggal asap? Tidak lain dia bisa menyala kembali. Walaupun kita dalam keadaan tidak berdaya, tetapi kita masih bisa eksis sampai hari ini, Tuhan menghargai kemauan yang ada pada kita. Tuhan sangat menghargai sebuah kemauan. Yesaya 65:8. Barangkali kita terkulai dengan masalah, atau seperti tandan buah anggur, tetapi jika masih ada kemauan, Tuhan akan memberi kita kesempatan untuk sembuh dan dipulihkan.
Lukas 17:3-6, hal ini tidak gampang, tetapi ini yang Tuhan inginkan. Yesus mau berkata bahwa mengampuni bukanlah soal menambah iman, tetapi mau atau tidak. Dimana ada kemauan disitu ada jalan, jadi ini soal kemauan. Kalau kita mau, maka Tuhan akan menyatakan kuasaNya. Implementasikan kemauanmu itu didalam satu tindakan nyata, jangan hanya berkata mau tetapi tidak mau berbuat sesuatu.
Ketiga, Dia siap menghadapi tantangan. Ayat 10, setelah orang itu sembuh maka ia langsung menghadapi tantangan. Setiap orang yang diubahkan Tuhan pasti ada tantangan, dan tantangan itu bukanlah tantangan dari luar saja, tetapi kadang juga dari dalam yaitu sesama kita. Tidak semua orang suka jika kita berubah. Si lumpuh diperhadapkan pada adat istiadat nenek moyang yang sudah diselewengkan. Hari sabat yang seharusnya hari perhentian, namun ketika mereka jabarkan tidak boleh kerja, maka angkat benda pun tidak boleh termasuk mengangkat tilam. Jadi, langkah pertama dia diteror oleh teman-temannya orang Yahudi. Tantangan yang berat kalau kita bertobat adalah adat istiadat nenek moyang, yang kadangkala membuat kita dikucilkan.
Orang yang lahir baru tetap akan menghadapi konsekuensi. Yesus saja setelah dibaptis harus menghadapi ujian. Namun setiap ujian yang diperhadapkan pada kita, harus kita menangkan. Banyak orang kristen yang sudah dipulihan, ketika tantangan datang tidak cukup kuat sehingga tidak bisa bertahan dalam imannya. Ini adalah hal yang paling berbahaya. Konsekuensi dari suatu pertumbuhan atau kelahiran baru yaitu kita harus menghadapi tantangan dan hal ini tidak mudah, karena komunitas adalah hal pertama yang akan kita tinggalkan. Dosa itu selalu mau menarik kita mundur dan itu tantangan yang paling berat. Barangkali dari luar bisa kita hadapi, tetapi kita selalu kesulitan menghadapi pikiran kita, namun disitulah perjuangan yang harus kita menangkan.
Keempat, Ayat 14, si lumpuh datang ke rumah Tuhan. Di rumah Tuhan dia bertemu dengan Yesus dan pengenalannya akan Yesus menjadi bertambah. Ayat 11, dia belum mengenal Yesus, tetapi dalam ayat 15 dia sudah mengenal siapa Yesus. Ketika kita dipulihkan, maka Yesus memerintahkan kita agar jangan berbuat dosa lagi. Dalam bait Allah, ada pengajaran tentang dosa yang akan membuat kita menyadari betapa buruk akibat dari dosa itu. Kalau orang sudah dipulihkan, namun tidak mau datang ke gereja, maka dia tidak akan mengalami pertumbuhan bahkan hidupnya akan menjadi lebih buruk.
Jika kita ingin dipulihkan Tuhan, sadarilah keadaan kita, miliki kemauan, siap hadapi tantangan dan kunjungilah bait Allah. AMIN
