Kolose 2:7 – Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
Rasul Paulus dalam suratan-suratannya seringkali menggunakan ilustrasi, untuk menjelaskan sesuatu kepada jemaat-jemaat yang menjadi tujuan surat-suratnya. Dalam suratan 1 Korintus, Paulus memakai ilustrasi seorang arsitek (seorang ahli bangunan) yang cakap. Dalam suratan Galatia, Paulus menggunakan ilustrasi seorang petani yang menabur, maka dia akan menuai apa yang ditaburnya. Rasul Paulus juga pernah mengambil ilustrasi sebagai seorang olahragawan (sebagai seorang pelari dan juga sebagai petinju yang tidak sembarangan memukul), dan sebagai seorang prajurit. Sedangkan dalam suratan Kolose ini, Paulus mengambil ilustrasi bahwa hendaklah kamu berakar di dalam Dia.
Orang benar diumpamakan seperti tanaman yang berakar, seperti suatu tumbuhan yang berakar. Apabila tumbuhan itu berakar, maka disitu ada kehidupan. Kalau tumbuhan itu tidak berakar, maka tumbuhan itu tidak akan bertumbuh (mati). Demikian pula Gereja Tuhan, harus berakar dan bertumbuh di dalam Yesus. Jika Rasul Paulus mengumpamakan orang percaya itu seperti tumbuhan/tanaman, maka Pemazmur juga demikian. Mazmur 92 : 13, “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon”.
Kenapa pemazmur memakai pohon korma untuk menjelaskan kehidupan orang percaya. Kalau kita melihat buah korma, kita teringat bahwa ternyata korma itu dekat dengan orang yang berpuasa. Setelah orang berpuasa, mereka akan membukanya dengan memakan buah korma, karena buah korma rasanya manis. Pemazmur berkata bahwa orang benar akan bertunas seperti pohon korma. Pohon korma memiliki banyak kegunaan. Dari akar, batang, daun dan buah semuanya berguna. Selain itu, pohon korma ketika bertumbuh, akan bertumbuh lurus tidak bengkok ke kanan atau ke kiri.
Orang benar itu seperti pohon korma, dalam mengikut Tuhan, dia akan berjalan lurus tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dan pandangannya hanya tertuju kepada Yesus, apalagi menoleh ke belakang. Ingatlah akan Istri Lot, yang memandang ke belakang dan akhirnya menjadi tiang garam. Orang benar ketika menghadapi persoalan dalam hidupnya, dia selalu mengarahkan pandangannya kepada Yesus dan mencari Yesus, karena Yesus adalah sumber petolongan, sumber berkat, dan sumber kesembuhan bagi hidup setiap orang percaya.
Rupanya pohon korma ini begitu kuat, sehingga walaupun tunasnya dipotong, pohon korma ini tidak akan mati, tetapi akan tumbuh mengeluarkan tunas yang baru lagi, begitu seterusnya, setiap kali tunasnya dipotong maka dia akan mengeluarkan tunas yang baru. Itu sebabnya pemazmur berkata bahwa orang benar akan bertumbuh seperti pohon korma. Ketika menghadapi masalah/persoalan dalam hidupnya, dia akan tetap mencari Tuhan dengan datang ke gereja untuk beribadah. Ada tantangan, dia akan tetap mengikuti ibadah doa. Ketika mengalami kerugian dalam usaha, dia akan tetap belajar memberi bagi pekerjaan Tuhan. Orang benar harus bertunas seperti pohon korma, yang sekalipun ditebang tunasnya tidak akan mati, namun akan terus tumbuh. Oleh karena itu, pemazmur tidak salah ketika berkata bahwa orang benar itu seperti pohon korma.
Selanjutnya, pemazmur berkata pula bahwa orang benar akan bertumbuh subur seperti pohon aras di Libanon. Di Libanon tumbuh begitu banyak pohon aras yang berjejer/berbaris seperti pohon kota yang ditata. Keistimewaan dari pohon aras ini adalah : kalau ditiup angin yang sepoi-sepoi, dia akan lenggak-lenggok dan akan mengeluarkan bunyi seperti orang bersiul. Semakin keras tiupan angin maka semakin keras bunyi yang akan dikeluarkan.
Hidup orang benar digambarkan oleh pemazmur seperti pohon aras di Libanon yang tumbuh subur dan kuat, bukan seperti pohon yang kering ketika ditiup angin pohon itu langsung rubuh. Ketika orang percaya menghadapi pencobaan yang biasa, dia mengeluarkan bunyi yang indah. Semakin besar pencobaan yang dialami, maka semakin indah dan kuat bunyi yang dikeluarkan. Kalau ada Yesus dalam hidup kita, ketika datang angin pencobaan, kita akan tetap berkata terima kasih Tuhan. Ada badai yang besar, kita masih bisa berkata smua baik, apa yang Engkau buat itu baik. “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman …”. Bertambah teguh dalam iman artinya tetap percaya kepada Yesus dalam segala keadaan, percaya bahwa Yesus itu berkuasa. Ayub 42 : 2, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal”. Orang lain boleh mengatakan kita gagal, berkata tidak mungkin atau mustahil, tetapi kita memiliki Yesus yang tidak pernah gagal, dan bagi Yesus tidak ada perkara yang mustahil, begitu pula bagi orang percaya tidak ada hal yang mustahil. Yesus sanggup melakukan segala sesuatu bagi kita, karena kita memiliki kepercayaan yang sungguh terhadap Dia. Dia sanggup melepaskan kita dari ikatan dosa, bahaya maut, bahkan sanggup mengadakan dari yang tidak ada menjadi ada, serta sanggup menyembuhkan kita dari segala kelemahan tubuh kita.
Hendaklah hidup kita semakin bertambah teguh dalam iman dan percaya bahwa Yesus sanggup memulihkan apapun keadaan kita. Alkitab berkata mintalah maka akan diberi, berserulah kepada Tuhan maka ia akan mendengarkan kita. Tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan Dia mendengarkan setiap doa kita, ketika kita datang merendahkan diri dihadapan Tuhan. Itu sebabnya Ayub berkata, aku tahu Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan bahwa tidak ada rencana tuhan yang gagal dalam hidup kita.
Disaat kita lemah, Alkitab berkata, disaat itu kita akan dikuatkan asalkan kita tetap bersama Yesus. Jika kita sudah mengangkat tangan terhadap setiap persoalan yang sedang kita hadapi dan berserah penuh kepada Yesus, maka saat itulah Tuhan akan turun tangan dan menyelesaikan semuanya. Rencana Tuhan tidak pernah gagal bagi kita orang percaya. orang lain bisa menilai kita gagal, sia-sia tetapi waktu kita tetap percaya, maka rencana Tuhan itu tidak pernah gagal bagi kita.
Akhirnya Paulus berkata, “… hendaklah hatimu melimpah dengan syukur”. Yakobus memberikan teladan bagaimana agar kita dapat terus mengucap syukur walaupun kita menghadapu berbagai persoalan hidup dalam Yakobus 1 : 2, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. Amin
