Mazmur 121 : 1 – 2
Pemazmur mengatakan bahwa sumber pertolongan kita hanya dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Kontradiksinya adalah orang mengetahui dengan pasti bahwa sumber pertolongan kita adalah Tuhan, tetapi tidak diwujudkan dalam tindakan kita ketika sedang berada dalam masalah, sehingga yang kita lihat hanyalah tembok tinggi yang kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hal ini membuat kita mengambil keputusan yang salah. Allah selalu menunggu waktu yang tepat untuk menolong kita, ketika kita berserah sungguh kepadaNya. Terus berharap kepada Tuhan adalah tindakan positif.
Manusia diperlengkapi dengan akal budi, sehingga manusia memiliki daya kreasi yang dapat menciptakan segala fasilitas, peralatan yang dapat menolong dirinya. Manusia mampu membuat lingkungan yang nyaman bagi dirinya. Namun, ucapan pemazmur yang mengatakan bahwa pertolongan kita dari Tuhan adalah suatu ucapan yang sama, yang seharusnya membuat kita tidak mencari sumber pertolongan lain. Bahayanya, kemajuan membuat kita mulai berpikir bahwa diri sendirilah yang merupakan sumber petolongan utama atau mungkin ada orang-orang yang tampaknya merupakan pertolongan yang kelihatan di depan mata, dibanding Tuhan yang tidak kita lihat. Beberapa kasus dalam Alkitab memnunjukkan bahwa berharap pada manusia adalah sesuatu yang salah.
Pertama, Keluaran 5 : 15 – 18, “Sesudah itu pergilah para mandur Israel kepada Firaun dan mengadukan halnya kepadanya: …”. Dalam kisah ini, kita melihat bagaimana para pimpinan Israel maju menghadap Firaun, ketika bangsa Israel menghadapi perlakuan yang lebih berat dari waktu-waktu sebelumnya. Mereka bertemu Firaun meminta keringanan, karena dulu saja saat jeraminya masih disediakan sudah sangat menderita, apa lagi sekarang tidak ada jerami tetapi hasilnya harus tetap. Tetapi, Firaun menolak bahkan mereka dikatakan pemalas. Keluaran 5 : 9, “Pekerjaan orang-orang ini harus diperberat, …". Firaun sudah merencanakan untuk memperberat pekerjaan orang Israel.
Bukankah dari keturunan-keturunan sebelumnya, bangsa Israel diajarkan bahwa yang menjadi penolong hanya Allah pencipta langit dan bumi yang sudah menolong para pendahulu mereka sejak zaman Abraham. Upaya mengharapkan manusia tidak membawa hasil, malah mereka semakin diperberat. Firaun merencanakan agar supaya mereka tidak terpengaruh oleh Musa, tidak lagi meningat untuk pergi menyembah Tuhan, pekerjaan orang Israel harus diperberat. Suatu cara yang dipakai iblis dari masa ke masa adalah memperberat pekerjaan agar hal yang harus dilakukan umat Tuhan yaitu beribadah dilupakan. Jam ibadah dan doa kita kurangi karena harus bekerja lembur. Salah satu strategi mengalihkan pandangan dari sesuatu kepada yang lain adalah sesuatu ini harus diperberat agar lebih fokus kepada yang lain itu. Lebih mengutamakan hal-hal jasmani dari pada hal-hal rohani, tidak dibenarkan oleh Firman Tuhan karena itu digolongkan sebagai berhala, sebab kita lebih mencintai/mengasihi hal itu dari Tuhan. Pertolongan dari manusia itu semu, tetapi pertolongan dari Tuhan selalu sempurna, bukan hanya untuk kehidupan kekal, tetapi juga kehidupan jasmani kita sekarang..
Kedua, Kejadian 40 : 14, “Tetapi, ingatlah kepadaku . . . Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya.” Suatu seruan Yusuf yang kita tahu bukannya dia mengandalkan manusia, tetapi keberadaan dia di penjara membuatnya tidak sabar menunggu kapan masalahnya ditangani. Yusuf begitu sabar ketika dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya. Dia mempunyai kesusahan yang begitu panjang, dan ketika keadaannya sudah baik, dia malah masuk penjara bukan karena melakukan sesuatu kejahatan. Maka dia berkata kepada temannya yang mau keluar penjara, ingatlah akan aku kalau kamu sudah baik dan keluarkan aku dari rumah ini, tetapi Yusuf dilupakan. Mengharap pada manusia adalah sesuatu yang sia-sia. Akhirnya Yusuf dilepaskan dari penjara, bukan karena juru minuman itu, tetapi karena Tuhan memberikan kepada Firaun mimpi yang harus diartikan dan hanya Yusuf dengan pertolongan Tuhan sanggup mengartikannya.
Keluaran 3 : 7. Bagaimana Tuhan membebaskan bangsa Israel? Ada tiga hal yang perlu kita perhatikan : Pertama, Aku telah memperhatikan dengan sungguh. Memperhatikan bukan melihat, menunjuk kepada suatu periode tertentu dimana Tuhan sudah mulai melihat dan memperhatikan sampai sekarang ini. Kedua, Aku telah mendengar seruan. Ketiga, Aku mengetahui penderitaan. Tuhan bukan hanya melihat dan mendengar, tetapi Dia mengetahui lebih dalam penderitaan yang sedang kita alami.
Tuhan mendengar seruan mereka, dan inilah saatnya Tuhan mau menolong. Kalau saja kita sabar menunggu waktu Tuhan yang kita tidak tahu kapan, maka sebenarnya pertolongan itu sudah Tuhan siapkan buat kita. “Aku telah”, menunjukkan bahwa bukan Firaun yang membebaskan mereka dari penderitaan, tetapi Tuhan. Jadi, bukan orang lain atau atasan kita yang membuat kita berhasil menyelesaikan masalah kita, tetapi karena sudah waktunya Tuhan untuk menolong kita. RancanganNya bukan rancangan kecelakaan (Yeremia 29 : 11), tetapi damai sejahtera. Kita kadang dalam perjalanan ini meragukan kemahatahuan Tuhan, membuat pertolongan yang sudah Dia sediakan itu bagi kita akhirnya tertunda lagi. Yang menyebabkan manusia gagal adalah karena gagal memenuhi kehendak Tuhan.
Ketiga, Kisah 3 : 2 – 6, “Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah . . .” Seorang yang lumpuh, tiap hari berada di gerbang Bait Allah tidak mencari kesembuhan, tetapi hanya untuk meminta sedekah. Suatu harapan yang salah dari seorang yang lumpuh sejak lahirnya dan belum pernah merasakan nikmatnya berjalan. Akhirnya Petrus dan Yohanes yang jelas-jelas Hamba Tuhan lewat dan pengemis ini juga meminta sedekah kepada mereka. Petrus berkata, emas dan perak tidak ada padaku tetapi dalam nama Yesus berjalanlah, maka si lumpuh inipun berjalan.
Apa yang kita minta kepada Tuhan, hanyalah bahagian kecil, karena Allah memiliki semuanya. Tetapi, bukan itu yang kita perlukan sekarang, Allah ingin kita mengerjakan sesuatu yang lebih bernilai, supaya kita juga menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai pula. Tuhan ingin kita mencari sesuatu yang lebih bernilai dari pada harta yang fana itu. Dia menunggu kita bertindak, jangan hanya sekedar datang beribadah karena sudah jadwal, tetapi carilah Tuhan. Sesungguhnya Tuhan tahu semua keberadaan kita, Dia melihat apakah motivasi kita mencari Tuhan atau mencari sedekah.
Yakobus 4 : 3. Kita berdoa, tetapi doa kita salah yaitu untuk hal-hal yang sifatnya fana sehingga kita gagal. Matius 6 : 33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Kata “carilah” memiliki arti bahwa kita tidak bisa melakukan apapun kalau tidak mendapatkannya. Pertolongan kita ialah dari Tuhan dan kalau bukan Tuhan kita tidak bisa apa-apa. Suatu harapan dengan motivasi yang terarah kepada Tuhan, membuat Tuhan memperhatikan dan menolong kita. Bagaimana dengan motivasi kita datang ke Bait Allah?
