Beribadah Dengan Sungguh

Ibrani 12:28-29

Paulus memberitahukan orang Israel yang tersebar di seluruh penjuru bumi bahwa betapa berbedanya ibadah mereka sebelum dan sesudah percaya kepada Tuhan. Ibrani 12:18-21, menjelaskan bahwa sebelum percaya Yesus (zaman PL) mereka harus datang kepada Tuhan dengan penuh ketakutan. Hal ini mengingatkan Israel ketika menerima hukum-hukum Tuhan di gunung Sinai. Saat itu terdapat peraturan bahwa barangsiapa menyentuh gunung itu pasti mati, sekalipun itu binatang.

Ibadah PL yang dilakukan orang Israel dengan mempersembahkan korban kepada Tuhan disertai perasaan takut dan gemetar. Ketika mereka percaya Tuhan, pola ibadah merekapun ikut berubah. Ibrani 12:22-24, terdapat perbedaan ketika orang Israel percaya kepada Tuhan, sekarang mereka beribadah kepada Allah di gunung Sion dalam suatu kumpulan yang meriah dan penuh sukacita.

Bersyukur kita tidak hidup di zaman PL, kita tidak harus datang kepada Tuhan dengan takut dan gemetar sambil menjaga keberadaan kita jangan sampai merusak kekudusan Allah, sehingga membuat Allah yang adalah api yang menghanguskan itu menyambar dan membuat kita mati. Kita beribadah bukan dengan perasaan takut tetapi dengan sukacita dalam memuji dan memuliakan Dia. Namun Paulus mengingatkan dengan tegas bahwa sekalipun ada dua pola ibadah yang berbeda, tetapi ada hal yang tetap sama yaitu keduanya ditujukan kepada satu Allah yang tidak pernah berubah.

Israel zaman PL begitu takut dan gemetar ketika datang menghampiri Allah. Bagi mereka, Allah itu seolah-olah suatu oknum yang menakutkan sehingga tidak dapat dihampiri. Tetapi, Allah kemudian membuka diri bagi mereka serta memberikan solusi bagamana cara agar mereka dapat datang menghampiri Dia. Setiap orang yang mau menghampiri Allah, tidak boleh dengan tangan kosong, harus membawa korban.

Kejadian 6:5-7, Allah melihat bahwa manusia yang hidup pada zaman Nuh sudah sangat jahat, bahkan dalam hati mereka sudah ada kecenderungan untuk melakukan hal yang jahat. Itu sebabnya Allah mengambil keputusan untuk memusnahkan semua yang ada di bumi dengan air bah. Hanya Nuh yang mendapat kasih karunia dihadapan Allah, dia perintahkan Tuhan untuk membangun bahtera agar selamat dari air bah. Kecenderungan hati manusia tidak berubah, bahkan Allah tahu bahwa keturunan Nuh nantinya juga akan menjadi orang-orang jahat melebihi pada zaman Nuh sendiri. Tetapi Allah berkata tidak akan memusnahkan bumi ini lagi ketika Tuhan mencium harum korban persembahan Nuh setelah keluar dari batera ketika air bah surut (Kejadian 8:20-21).

Keturunan Nuh kemudian belajar bahwa api yang menghanguskan itu dapat didekati dengan cara mempersembahkan korban. Ketika orang Israel menjadi semakin banyak, Allah melihat bahwa sudah saatnya hal itu diatur dengan lebih baik. Akhirnya keluarlah peraturan-peraturan, misalnya dalam Kitab Imamat, Allah memberitahukan kepada Israel bagaimana syarat-syarat korban yang berkenan tersebut.

Salah satu syarat tersebut ada dalam Imamat 1:1-3, yaitu tidak bercela. Artinya mereka harus mengadakan pemeriksaan terhadap binatang yang akan dipersembahkan kepada Tuhan, hanya binatang yang tidak bercela yang layak dipersembahkan. Dengan kata lain ada suatu persiapan yang baik, bukan asal-asalan saja. Ayat 9, “…seluruhnya itu harus dibakar oleh imam di atas mezbah sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN”. Allah memberi penegasan bahwa korban yang menyenangkan hati Tuhan, bukanlah korban yang biasa-biasa.

Fakta bahwa korban persembahan itu membuat Allah senang, kemudian mengkristal pada orang Israel dan menjadi konsep yang diturunkan dari generasi ke generasi. Mereka percaya bahwa tidak ada cara lain yang dapat dipakai untuk mendekati Allah. Itu sebabnya korban persembahan menjadi prioritas utama dalam kehidupan keagamaan orang Israel, sampai terjadi peristiwa dimana Tuhan memutarbalikkan konsep ini.

Ketika Saul menjadi raja melalui Samuel, Allah menyuruh agar orang Amalek ditumpas habis. 1 Samuel 15:9-21, orang Israel tidak menumpas binatang-binatang yang baik bukan untuk mereka, tetapi untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Logika bangsa Israel, dari pada dibunuh sia-sia, lebih baik dijadikan korban buat Tuhan. Dengan konsep yang mereka wariskan bahwa korban yang baik itu menyukakan Allah, rasanya tidak salah tindakan yang mereka lakukan. Saat itulah konsep Israel tentang korban yang berkenan dijungkir balikkan oleh Allah (1 Samuel 15: 22)

Ternyata hal yang lebih menyukakan hati Allah adalah mendengarkan suara Tuhan. Pernyataan ini terus bergema dan diulang-ulang oleh Allah. Ketika orang Israel mengulang pola yang sama di zaman Hosea dengan berpikir mempersembahkan korban itu adalah segala-galanya bagi Tuhan. Melalui Nabi Hosea, Tuhan berfirman bahwa Dia lebih menyukai kasih setia dan pengenalan akan Allah dari pada korban (Hosea 6:6).

Allah mengulang kembali hal ini ketika Nabi Mikha diutus. Mikha 6:6-8, bukan korban yang dituntut Tuhan, tetapi berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Bahkan gemanya tembus sampai pada zaman Yesus. Matius 23:23, Selama ini orang Israel berpikir bahwa persembahan adalah hal utama, tetapi Yesus berkata bahwa yang terpenting dalam hukum Taurat adalah keadilan, belas kasihan dan kesetiaan.

Allah memberitahu orang Israel berulang-ulang bahwa yang paling penting bagi Allah, bukan mempersembahkan korban, tetapi kasih setia, pengenalan akan Allah, berlaku adil, mencintai kesetiaan, hidup dengan rendah hati, ada keadilan. Semua ini adalah ekspresi dari satu sikap mendengarkan perintah Allah.

Mendengarkan yang dimaksud adalah taat (Bhs Yunani Hupakoe), merendahkan diri dibawah perintah dan melakukan itu dengan setia. Bagi Tuhan, melakukan satu perintah sederhana yang Dia beri lebih berharga dari kambing domba yang mereka persembahkan dengan cara melanggar perintah Tuhan. Pelayanan yang tidak dilakukan dengan ketaatan atau hati yang ditundukkan di hadapan Tuhan merupakan pendurhakaan (1 Samuel 15:22-23), hal ini sama seperti dosa bertenung, kedegilan yang disamakan juga dengan menyembah berhala dan terafim.

Kalau ibadah kita sekarang sama dengan konsep zaman PL, tidak tahu berapa banyak diantara kita yang mungkin mati kena api yang menghanguskan itu. Memang kata Paulus ibadah kita adalah ibadah yang penuh dengan sukacita, tetapi Allah tetap sama sehingga prinsip dalam hal ibadahpun tetap sama. Pujian dan ibadah kita hanya akan menjadi penyembahan berhala jika tidak dilakukan dengan sepenuh hati. Allah lebih suka kita taat kepadaNya, dari pada mempersembahkan korban.

Rasul Paulus berkata dalam Ibrani 12:28, sekalipun ibadah kita berbeda dengan zaman PL, tetapi beribadahlah dengan hormat dan takut. Ketika Tuhan membuka diri dengan kita, bukan berarti kita bisa datang dengan sesuka hati kita, tetapi Alkitab katakan bahwa datang kepada Allah harus dengan cara yang berkenan, yaitu dengan hati yang ditundukkan dihadapan Tuhan.

Tidak ada orang berkata hatinya taat, tetapi tidak mau datang beribadah, dan tidak melakukan perintah Allah. Sebab itu persembahkanlah korban kepada Allah disertai dengan hati yang tunduk dan taat serta memuliakan Tuhan. Layanilah Tuhan dan datang beribadah kepadaNya dengan cara yang berkenan disertai dengan hormat dan takut akan Dia maka Tuhan pasti akan memberkati kita.

1 Timotius 6:6, kalau kita memiliki rasa cukup dengan apa yang Tuhan beri, maka kita akan datang kepada Tuhan dengan hati yang rendah, memuji dan bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Dia sudah berikan. Ibadah yang disertai rasa cukup memberi keuntungan besar. Jika Allah hadir ditengah-tengah kita, segala sesuatu yang terbaik akan diberikanNya kepada kita. Tidak peduli apa persoalan kita, kalau kita datang beribadah dengan sungguh maka hal itu akan memberi keuntungan besar kepada kita. AMIN