Bagaimana Kita Melangkah Di Jalan Yang Benar

Yeremia 31:21

Setiap kita sedang melakukan perjalanan kehidupan, oleh karena itu kita membuat suatu perencanaan untuk langkah ke depan karena kita ingin mencapai hasil akhir yang baik. Alkitab memberikan petunjuk bagi kita mengenai hal ini, bagaimana supaya langkah kita tidak salah. Pada zaman Yeremia, ada sesuatu yang Tuhan taruh dihatinya, yaitu memperingatkan bangsa Israel supaya jalan mereka tidak berakhir pada satu kehancuran.

Ketika Israel di tawan oleh Babilonia, mereka mengalami suatu keadaan yang sangat parah. Pagar tembok yang mengelilingi tempat mereka telah roboh, sehingga usaha mereka tidak pernah mendapatkan hasil. Itulah sebabnya Tuhan berfirman agar mereka meperhatikan tanda-tanda dalam perjalanan mereka. Yeremia 31:21, “Dirikanlah bagimu rambu-rambu jalan, pasanglah bagimu tanda-tanda jalan; perhatikanlah jalan raya baik-baik, yakni jalan yang telah kautempuh! …”.

Tidak berarti bahwa ketika kita berjalan di jalanNya Allah, kita tidak akan menemukan hambatan. Tetapi ada saatnya dimana hambatan dalam perjalan itu terjadi akibat perbuatan kita sendiri. Rambu jalan dalam perjalanan kekristenan adalah Firman Tuhan. Oleh karena itu, bagaimana kita akan mengetahui tentang rambu perjalanan kita, sementara kita tidak mau mengerti dan memahami Firman Allah. Salah satu cara untuk kita mengerti Firman Allah adalah hadir dalam setiap kegiatan-kegiatan ibadah.

Mengapa kita harus menjadikan Alkitab sebagai rambu dalam perjalanan kita? Itu artinya kita melibatkan Allah dalam semua perjalan hidup kita. Kalau kita tidak memakai Firman Allah sebagai pembatas dalam gerak langkah maju kita, maka jalan yang kita anggap baik itu ujungnya menuju maut. Amsal 14:12, “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut”. Hal ini akan berakibat fatal bagi hidup kita, walaupun sebenarnya Allah tidak bermaksud seperti ini. Untuk itulah kita harus selalu melibatkan Allah.

Jalan kita berbeda dengan jalanNya Allah. Yesaya 55:8-9, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu”. Ketika kita mengambil keputusan untuk melangkah, berdoalah terlebih dahulu meminta campur tangan Allah dalam perjalanan yang akan kita lakukan. Kalau Tuhan ada disana, maka hasil akhirnya pasti menyenangkan. Inilah yang kita rindukan, sehingga kita datang ke rumah ibadah untuk mencari kehendak Allah supaya langkah-langkah kita kedepan adalah langkah yang disertai Tuhan.

Dalam perjalanan Yesus bersama murid-muridNya, Yesus berkata marilah kita bertolak keseberang (Markus 4:35). Yang mengambil inisiatif dalam perjalanan itu adalah Yesus, murid-murid hanya mengikuti. Di tengah perjalanan, angin besar dan gelombang datang. Alkitab menulis bahwa mereka hampir tenggelam walaupun ada beberapa murid Yesus yang pakar dalam bidang pelayaran. Hal ini menunjukkan bahwa kepakaran tidak selalu bisa menyelesaikan masalah. Perjalanan yang menyertakan Yesus, tantangan boleh datang tetapi Yesus dapat menyelesaikannya.

Pikiran kita jauh berbeda dengan pikiran Allah. Untuk itu Alkitab berkata dalam 1 Korintus 2:16, “Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus”. Pikiran Kristus artinya pikiran kita adalah pikiran yang diurapi oleh Roh Kudus, sehingga yang mengontrol pikiran ini adalah Roh Kudus dan Firman Allah yang pernah kita dengar. Jika hal ini terjadi, maka perjalanan hidup kita akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Di langkah-langkah hidup kita ke depan, kita akan melihat karya-karya ilahi menyertai hidup kita.

Kadangkala kita terjebak pada pengalaman-pengalaman masa lalu yang kita alami ketika Tuhan menyatakan sesuatu yang luar biasa dalam perjalanan hidup kita. Hal ini terjadi karena kita menjadikan pengalaman itu ukuran sekaligus cara dalam kita melakukan sesuatu kedepan, dan ini akhirnya membuat kita mengalami kegagalan. 1 Tawarikh 14: 8-13, Daud mengalami kemenangan besar ketika dia bertanya kepada Tuhan dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan.

Namun, ketika Daud menghadapi persoalan yang sama, dia tidak langsung menyerang Filistin dengan menggunakan pengalamannya yang lalu bagaimana Tuhan menolong dan memberi dia kemenangan, tetapi Daud kembali bertanya kepada Tuhan, maka Tuhan memberi Daud petunjuk dan strategi baru sehingga dia kembali memperoleh kemenangan (1 Tawarikh 14:14-17). Jika kita berjalan bersama Tuhan, selalu bertanya terlebih dahulu kepada Dia maka kita akan berjalan dalam strategi yang datangnya dari Tuhan sendiri dan pasti akan menghasilkan kemenangan besar.

Seringkali kita tidak bisa berbuat apa-apa karena kita tidak mau bertanya kepada Tuhan. Bertanyalah kepadaNya, maka Dia akan memberikan petunjuk apa yang harus kita lakukan agar memperoleh kemenangan besar dalam hidup kita. Keberhasilan Daud adalah karena langkahnya mengikuti jejak langkah Tuhan.

Alkitab menulis bahwa bekas-bekas langkah Tuhan meninggalkan lemak (lemak berbicara tentang berkat Tuhan). Jika kita melangkah sesuai langkah Tuhan, kita akan melihat kenikmatan, keberkatan dan keberhasilan menjadi bagian kita karena ini adalah janji Tuhan. Melangkahlah pada jalan Tuhan, sebab ketika kita keluar dari situ maka kita akan menghadapi persoalan hidup yang semakin berat. Diluar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi bersama dengan Tuhan kita akan melakukan perbuatan yang luar biasa.

Israel mengalami pembelaan Tuhan karena mereka berjalan bersama dengan Dia. Keluaran 13:18-21, “… TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam”. Perjalanan yang disertai Tuhan, ketika menghadapi tantangan, Tuhan akan memberi kita perlindungan. Ketika kegelapan menutupi jalan kita, Tuhan memberi kita terang. Melangkahlah dijalan yang benar yaitu dalam Yesus. Yohanes 14:6, “… Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”.

Melangkah dijalan Tuhan tidak semudah kita mengatakannya. Tetapi, jika kita mau melakukannya, ada Roh Kudus yang akan memimpin kita dan memampukan kita. Yohanes 16:13, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; …”. Biarlah kita menapaki perjalanan hidup ini dalam kebenaran dengan tuntunan Roh Kudus. Perjalanan yang melibatkan Tuhan akan mendatangkan kemenangan.

Tuhan akan memberikan terobosan baru dalam hidup kita jika kita melibatkan Dia selalu dalam perjalanan kita. Ketaatan kita terhadap Firman Tuhan akan mendatangkan kebahagiaan. Mazmur 119:2-3, “Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, …”. Melangkah bersama Tuhan akan membuat kita mendapatkan kemenangan.

Yeremia 29:11, Tuhan menyediakan rancangan damai sejahtera dan masa depan penuh harapan bagi kita. Ketika Zerubabel sedang membangun kaabah Allah, tantangan begitu banyak tetapi melalui Zakharia Tuhan berkata “… Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku,…” (Zakharia 4:6). Akibat dari Roh Allah menyertai kita, setiap gunung-gunung persoalan yang ada didepan kita akan dibuat rata oleh Tuhan (Zakharia 4:7), sehingga perjalanan kita menjadi perjalanan yang penuh dengan harapan dan akan menghasilkan kemenangan besar. Maju terus bersama Tuhan. AMIN

Iman Menghasilkan Mujizat

Ibrani 11 : 1 – 3

Iman adalah dasar yang kokoh serta menjadi bukti bagi apa yang kita harapkan. 1 Yohanes 5 : 4, ”… Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita”. Hanya sesuatu yang datang dari Allah yang dapat mengalahkan dunia ini, yaitu Iman. Ibrani 11 : 1 3, ”Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat…”. Iman memberi kita pengertian tentang luar biasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada, hanya dengan berfirman.

Iman selalu ada hubungannya dengan pikiran. Banyak orang ragu ketika mengharapkan sesuatu, dan menyadari betapa sulit memperolehnya. Biarlah Iman memberi kita pengertian bahwa Allah dapat mengadakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Abraham mengerti bahwa Allah sanggup membangkitkan orang mati, itu sebabnya ketika Allah meminta ia mempersembahkan anaknya, Abraham tidak ragu untuk melakukannya. Peristiwa ini akhirnya memunculkan kalimat bahwa Allah mengadakan dari yang tidak ada menjadi ada (Yehovah Jireh) untuk pertama kalinya. Peristiwa ini terjadi karena adanya iman. Bagi orang beriman, selalu ada jalan keluar atas setiap maslah yang terjadi.

Kejadian 12 1 4, karena iman, Abraham taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya, walaupun dia tidak tahu kemana Tuhan akan membawanya. Roma 10 : 17, ”Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”. Biarlah iman kita terus bertumbuh, agar kita dapat meraih setiap kerinduan kita. Iman yang lahir dari Firman akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Ketika Allah berkata kepada Abraham, dia langsung berangkat tanpa bertanya. Karena itu, iman Abraham diperhitungkan Allah sebagai suatu kebenaran, dan oleh dia semua bangsa di bumi diberkati.

Ibrani 11 : 8, ”Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui”. Untuk mengetahui sejauh mana iman kita, lihatlah sejauh mana ketaatan kita kepada Firman Allah. ”Karena iman Abraham taat”, artinya semua langkah hidupnya disesuikan dengan Firman dan dia tidak pernah takut.

Berdiri di atas kebenaran Firman membuat kita menjadi orang yang beriman. Semakin banyak kita mendengarkan Firman dan berdoa, akan membuat iman kita bertumbuh. Alkitab berkata bahwa jika kita memiliki iman sebesar biji sesawi, kita bisa berkata kepada gunung ini pindah, maka itu akan pindah. Masalah, tantangan dan cobaan akan pindah jika kita perintahkan asalkan kita memiliki iman tersebut. Ini adalah janji Allah, dan Dia yang berjanji itu setia dan pasti menepati janjiNya.

Ibrani 11 : 11 – 12, ”Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, …”. Iman membuat kita kuat dan tidak bisa digoyahkan oleh apapun sehingga kita menerima apa yang uhan janjikan itu. Abraham percaya sungguh ketika Tuhan berfirman kepadanya bahwa ia akan menjadi bangsa yang besar, imannya tidak pernah menjadi goyah karena ia tahu bahwa Allah yang berjanji itu setia. Paulus berkata bahwa hidup kami bukan oleh penglihatan, tapi oleh iman. Semua orang yang hidup oleh iman itu berhak memperoleh janji Tuhan kepada Abraham. Galatia 3 : 7, ”… mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham”.

Kejadian 26 : 1 3, saat Ishak sebagai keturunan Abraham mengalami kesulitan, Firman Allah datang kepadanya untuk membangkitkan iman Ishak. Setiap apa yang keluar dari mulut Allah adalah Firman. Ketika Tuhan berfirman agar Ishak jangan pergi ke Mesir tetapi diam di negeri yang akan Tuhan katakan, Ishak melakukannya. Itu sebabnya dia berhak menerima berkat Abraham. Kita yang hidup oleh iman adalah ketururnan abraham, sehingga dalam Galatia 3 : 14 dikatakan bahwa kitapun berhak untuk memperoleh janji itu.

Ketika kelaparan datang karena kekeringan, Ishak diam ditempat yang Tuhan tunjuk. Kejadian 26 : 12, ”Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN”. Di situasi yang sulit, Ishak tetap bekerja sehingga dia menikmati berkat Tuhan. Milikilah terus rasa lapar akan Firman Allah, maka Dia akan datang bagaikan air yang sejuk mengairi tempat yang kering, dan disana akan ada benih yang tumbuh. Iman yang hidup akan bertumbuh kokoh dan berakar sehingga menghasilkan buah-buah kemenangan dan berkat, karena kita percaya kepada janji Allah.

Iman yang dimiliki Daud tidak pernah menggetarkan hatinya ketika berhadapan dengan Goliat yang besar. Goliat dengan selengkap perlengkapan senjata perang, dilawan oleh seorang pemuda kecil yaitu Daud dengan menggunakan pengali-ali. Karena iman, Daud berkata bahwa Tuhan besertaku sehingga Goliat pasti kalah.

Daniel berserta teman-temannya ditawan di Babilonia. Sebagai tawanan, mereka berkesempatan mengecap pendidikan yang paling tinggi pada saat itu. Namun demikian, Alkitab berkata bahwa karena iman, mereka tidak mau menajiskan diri dengan makanan raja. Secara akal, apa yang mereka makan berbeda, tetapi setelah diadakan ujian, mereka didapati jauh lebih pintar dari mereka yang makan sehidangan dengan raja. Mengapa? Karena mereka mengandalkan Tuhan.

Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah pejabat pada masa itu. Mereka dihadapkan pada peraturan bahwa kalau tidak menyembah patung yang didirikan oleh raja, mereka akan dimasukkan kedapur api. Daniel 3 : 16 18, dengan iman yang mereka miliki, mereka dapat berkata kepada raja bahwa kalaupun Tuhan tidak tolong mereka tidak akan menyembah patung itu. Berbeda dengan kita, kita selalu berkata bahwa kalau Tuhan berkati/tolong maka kita akan setia beribadah dan akan membantu pelayanan. Kita suka melakukan barter dengan Tuhan. Akibatnya mereka dimasukkan ke dapur api, tetapi hal ini bukannya menutup karir mereka, tetapi justru mengangkat karir mereka. Ketika mereka dimasukkan ke dapur api, raja kaget karena melihat mereka menjadi empat orang dan bebas berjalan-jalan. Dimana ada Yesus, disana ada pertolongan dan mujisat. Daniel juga pernah mengalami bagaimana Tuhan menolong dia ketika dia dimasukkan ke dalam gua singa.

Iman Abraham membuat dia dibenarkan oleh Allah. Roma 10 : 17, sumber iman adalah Firman Allah. Sebab itu, renungkan dan lakukan setiap Firman Allah sehingga iman kita bertumbuh dan mujisat terjadi. Mujisat terjadi sesuai dengan iman kita. Jangan berpikir bahwa mujizat itu hanya ketika kita sembuh dari penyakit, diberkati atau ditolong Tuhan, tetapi mujizat yang terbesar adalah keselamatan kita.

Apakah kita sekarang sedang mengalami kekeringan dalam hidup ini seperti pada zamannya Ishak? Tuhan berkata tenang, diamlah disini dan menaburlah maka kita akan memertik hasilnya. Milikilah keyakinan yang sungguh kepada Allah serta beribadahlah dengan sungguh-sungguh, maka kita akan melihat mujizat yang tidak pernah terpikirkan oleh kita. Allah yang sama selalu ada bersama kita dan menyertai kita. Dia Allah yang tidak bisa kita lihat karena keterbatasan mata kita, tetapi biarlah iman yang ada pada kita yang akan mengatakan bahwa Yesus ada disamping kita dan Dia tahu setiap persoalan kita, maka dia pasti menolong kita.

Markus 9 : 23, ”… Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”. Walaupun orang berkata itu mustahil, tetapi yakinlah oleh iman bahwa bagi orang yang percaya tidak ada yang mustahil. Janji yang diberikan kepada Abraham, Ishak dan Yakub adalah janji dari Allah buat hidup kita juga. Pergumulan apa yang sedang kita hadapi? Iman adalah dasar dari sesuatu yang diharapkan dan bukti dari yang tidak kelihatan. Saat ini kita mungkin belum melihat apa-apa, tetapi biarlah kita yakin bahwa pertolongan Allah itu nyata dalam hidup kita. Sebab itu, milikilah iman yang sungguh kepadaNya, maka kita akan melihat mujizat-mujizat Tuhan kerjakan dalam hidup kita. AMIN